
“Aku juga telah membelikanmu piano kau bisa menggunakan sesuka hatimu, kau bisa tetap bekerja di sini,” kata Anthonino seraya menuntun Keiko kemudian mendudukkan di depan piano berwarna hitam yang tampak begitu mewah.
“Kau ingin bertemu Crystal bukan? Setelah kau cukup istirahat, aku akan mengatur penerbangan ke Tokyo.”
Keiko mengangguk sedikit linglung, sementara Anthonino menggeser penutup piano.
“Cintaku, apa kau bersedia untuk mainkan sebuah lagu untukku?” tanya Anthonino.
Seolah memaksakan senyumnya Keiko mengangguk, Keiko mendudukkan pantatnya dan jemarinya mulai menekan tuts piano untuk memainkan sebuah lagu klasik.
Lagu dari Chopin Ballade in G minor.
Awalnya keiko memainkan nada dengan sangat hati hati, lembut dan indah, namun permainannya semakin lama semakin tampak begitu menggebu gebu sedikit melompat lompat seperti seekor kelinci ysng sedang berburu kupu-kupu di padang rumput lalu nadanya melemah, terdengar putus asa, lalu ia mulai menaikkan nadanya, temponya juga semakin rapat, nada suara yang terdengar sedikit resah dan menyiratkan kegelisahan yang tak dapat ia ungkapkan dengan bibirnya.
Matanya terpejam seolah menikmati kegelisahan yang membalut seluruh pikirannya, menumpahkannya melalui nada-nada yang di hasilkan melalui jemarinya, ya musik adalah hidupnya, dengan musik ia bisa berkeluh kesah, ia bisa mencurahkan segalanya, ia bebas mengekspresikan emosinya.
“Istirahatlah, tampaknya kau sangat lelah cintaku,” kata Anthonino begitu nada berakhir.
Keiko menghela nafas.
“Baiklah,” guman Keiko.
“Jam tujuh malam kita akan makan malam di luar, stylingmu sudah menyiapkan pakaian yang akan kau kenakan.”
__ADS_1
Keiko mengangguk, “Di mana kamarnya?” tanya Keiko.
“Sayang kau naiklah ke lantai dua, Kamar utama ada di bagian kanan,” kata Anthonino.
Wajah Keiko menegang, ia buru-buru mengambil ponselnya, Keiko masih tak bergeming dari kursinya.
Beberapa detik kemudian Sarah tampak datang menghampiri Keiko.
“Ayo Kei,” kata Sarah.
Keiko bangkit dan mengikuti langkah Sarah menuju kamar utama.
Anthonino memandang kedua otang yang berjalan beriribgan dengan tatapan curiga.
Semanja itukah Keiko? Sepenakut itukah dia?
****
“Aku tidak bisa pergi tanpa Sarah ataupun Lelya,” Keiko berniat bangkit dari kursi samping kemudi, mereka akan pergi makan malam di luar sekaligus bertemu teman Anthonino.
Anthonino menarik pergelangan tangan Keiko.
“Aku ingin menikmati waktuku berdua bersamamu cintaku.”
__ADS_1
“Sudah kukatakan jangan panggil aku dengan sebutan itu,” dengus Keiko tampak ia sedang kesal.
‘Bukankah ini mungkin ke seribu kali aku memanggil dengan sebutan cintaku? Mengapa baru saja ia melayangkan protes?’ batin Anthonino geli.
“Kau aman bersamaku, pengawalku sudah cukup untuk menjaga kita,” Anthonino berusaha memberikan pengertian.
“Tapi aku ingin salah satu dari orang orangku,” wajah Keiko semakin tampak merengut.
“Kei, aku bersamamu, sudah cukup.” Anthonino berkata tegas.
“Nino kau tidak mengerti!”
“Apa yang tidak aku mengerti?” tanya Anthonino dengan nada rendah.
“Aku hanya terbiasa dengan mereka,” jawab Keiko seperti ada sesuatu tang ia sembunyikan.
“Mulai sekarang aku akan terbiasa denganku.” Anthonino memandang lekat-lekat wajah Keiko yang tampak resah, “baiklah, akan kuperintahkan Sarah untuk menyusul kita sayang,” pada akhirnya ia harus mengalah.
Wanita memang selalu ingin menang sendiri, namun acap kali wanita selalu mengelak jika mereka di katakan egois, setidaknya itu yang Anthonino pahami sekarang. Tidak ada makhluk yang lebih rumit di muka bumi ini selain wanita.
PARTNYA PENDEK YA?
IYA PENDEK 😅😅😅
__ADS_1
KARNA BIASANYA 1 PART AKU ISI 800-1 RB KATA, NAH SEKARANG 500 KATA SAJA PER CHAPTER, TAPI SEHARI 3 KALI 😚😚😚 JADI MOHON BERSABAR SAJA 😅😅😅
TAP JEMPOL KALIAN YAH DAN INGAT KOMEN! 1 KOMEN KALIAN OENYEMANGAT BUAT AKU.