
Nameera mengangkat gelas alkohol dentangannya, menenggaknya seolah- olah ia ingin melupakan segalanya, ponselnya terus saja berdering sejak ia keluar dari restoran tempat Athiya berulang tahun tak ia hiraukan. Ia mengabaikan panggilan dari Gustavo yang seolah-olah hendak meledakkan ponsel milik Nameera.
“Persetan dengan Gustavo, pria itu tidak berguna lagi,” gumanya kesal.
“Kau sendirian nona?” tanya seorang pria tampan yang datang dan duduk di sampingnya, “Dari caramu minum kau seperti seorang gadis yang sedang patah hati.”
“Ya aku sedang patah hati,” guman Nameera dengan nada ketus.
“Pasti pria yang membuatmu patah hati adalah pria yang sangat tampan,” kata pria asing itu.
“Ya tampan seperti dirimu,” jawab Nameera dengan nada malas.
“Apa setiap malam kau ke club ini?” tanya pria tampan itu.
“Tidak, hanya kebetulan.” Nameera menjawab dengan malas.
“Aku melihatmu kemarin,” kata pria itu.
Nameera tidak menghiraukan pria yang duduk di sampingnya, setelah memesan kembali satu gelas alkohol Nameera menenggaknya, ketika hendak membayar pria itu menahan tangan Nameera dan menyerahkan uang tunai pada bar tender.
“Terima kasih,” kata Nameera seraya bangkit meninggalkan pria itu, kemarin malam ia telah lelah mabuk dan bercinta dengan teman one night stand, hari ini suasana hatinya tidak baik, ia tidak berminat melakukan lagi meskipun pria yang ia jumpai kali ini tampan, tak kalah tampam dari pria yang mematahkan hatinya.
“Nona kau sangat mabuk, biar aku mengantarmu,” pria itu membuntuti Nameera yang sedang berdiri menunggu taxi.
“Pergilah, jangan kau kira dengan segelas alkohol kau bisa merayuku,” sinis Nameera sambil merogoh saku jaketnya, ia mengambil selembar uang kertas pecahan $10 lalu memberikan pada pria itu.
Namun tanpa di duga tubuhnya limbung dan tiba-tiba ia muntah di dada pria itu.
“Shiiit!!!” pria itu tentu saja marah.
“Nona, kau!!! Argh!!!!” geram Pria itu namun percuma karena Nameera telah pingsan di bahunya.
Paginya Nameera terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat, ia menemukan dirinya sendiri yang hanya terbungkus selimut dan dalam dekapan seorang pria.
__ADS_1
Mendengus kesal, Nameera menyingkirkan lengan yang membelenggunya.
“Kau sudah bangun?” tanya pria yang memeluk Nameera.
“Di mana aku?” tanya Nameera setengah bergumam sambil dengan malas membuka matanya.
“Di tempat tinggalku,” jawab pria itu.
“Di mana pakaianku?” tanya Nameera lagi dengan nada seolah ia tak peduli dengan pria yang memeluknya.
“Aku membuangnya, kau muntah di seluruh tubuhku,” jawab pria yang memeluk tubuh Nameera.
Nameera melepaskan tubuhnya dari kungkungan pria itu dan duduk sambil memijit pelipisnya.
“Kau tidak membawa Dompetmu, kau tidak membawa ponselmu, aku tidak tahu harus ke mana mengantarmu,” kata Pria itua sambil memindah posisinya menjadi terlentang dan menyilangkan kedua lengannya di belakang kepalanya.
“Jam berapa ini?” Nameera bertanya.
“Jam 11 siang,” jawab Pria itu seraya melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya.
“Aku akan mengantarmu,” kata pria tampan itu.
“Tidak perlu,” tolak Nameera cepat sambil menatap wajah priamyamg me olongnya tadi malam, Naameera baru menyadari pria tampan itu juga bermata biru.
“Jangan keras kepala ayolah,” bujuk pria itu
“Baiklah, jika kau memaksa,” Nameera mengalah. ‘Memang lebih baik diantarkan dari pada harus naik taxi dengan mengenakan pakaian pria’ seringainya dalam hati.
“Jadi siapa namamu?” tanya pria itu.
“Nameera,” jawab Nameera singkat.
“Kau tidak menanyakan siapa namaku?” protes pria itu dengan seringai menggoda dimwajahnya.
__ADS_1
“Aku tidak keberatan jika kau ingin memberitahu siapa namamu,” jawab Nameera acuh.
“Justin Vashenca,” jawabnya santai, “Jadi kau tinggal di hotel?” Justin bertanya.
Nameera tertawa ringan lalu berkata, “pertanyaan konyol, aku ada sedikit urusan di London, aku akan secepatnya kembali ke Los Angeles karena aku sekarang tinggal di sana.”
“Kapan kau akan kembali mengunjungi London?” tanya Justin.
“Entahlah,” jawab Nameera pahit mengingat kejadian tadi malam, Keiko dan Anthonino sekarang berada di London, menyakitkan. Ia tak sanggup menghadapi mereka.
“Jadi kau akan kembali ke Los Angeles?” tanya Justin.
“Tentu saja, malam ini aku akan kembali ke sana, oh iya terima kasih atas bantuanmu,” kata Nameera ketika mobil berhenti di depan hotel yang mereka tuju.
“Beri aku nomer ponselmu jika kau ingin berterima kasih padaku,” jawab Justin dengan nada santai.
“Bukankahkah kau telah memakai tubuhku tadi malam? Ku rasa itu cukup,” jawab Nameera penuh percaya diri.
“Kau pikir aku sudi menyetubuhi wanita yang mabuk sampai pingsan? Lebih baik aku menyetubuhi mayat,” jawab Justin dengan nada bercanda.
“Tampaknya kau pria baik-baik,” kata Nameera dengan nada mengejek.
“Kau masih berhutang satu malam padaku, Nameera.” Justin mengatakan hal itu dengan seringai nakal bibirnya.
“Oh baiklah, aku akan membayarmu kelak,” Nameera mengulurkan tangannya meminta ponsel milik Justin, laku mengetik nomor ponselnya sendiri di layar ponsel mili, Justin lalu mengembalikan benda itu kepada Justin.
“Aku akan menghubungimu nanti,” kata Justin sambil mata birunya menatap wajah Nameera yang sedikit pucat.
Nameera menganggukkan kepalanya dengan malas, ia turun dari mobil lalu melambaikan tangannya.
Ketika kakinya melangkah memasuki lobi hotel seorang pria duduk di dengan anggun sambil memangku laptopnya menatap ke arahnya dengan pandangan dingin, Nameera sama sekali menghentikan langkahnya, ia melangkah menuju resepsionis dan meminta kunci kamarnya.
MAAF KEMARIN AUTHOR GAK UPDATE KARENA GAK SANGGUP MAU REVISI, TULISAN INI UDAH AKU TULIS SEJAK BULAN OKTOBER TAPI ACAK ACAKAN ASAL TULIS ALUR, SETIAP MAU UPDATE PERLU DI BENERIN DULU, DAN KEBETULAN DUA HARI AKU GAK ENAK BADAN, AKU GAK MAMPU MAU PEGANH TAB 😭😭😭
__ADS_1
OKE TAP JEMPOL KALIAN DAN MOHON DOANYA AGAR AKU SELALU SEHAT BIAR BISA UP TIAP HARI ❤❤❤❤