
Wajah penjaga permainan itu terlihat begitu masam karena bisa di pastikan ia bisa bangkrut jika Anthonino meneruskan permainannya. Keiko buru-buru menarik lengan suaminya karena melihat ekspresi gelap pemilik tempat permainan tersebut.
“Hubby, sudah cukup,” kata Keiko, nyalinya mengerucut karena melihat wajah masam pemilik arena itu.
“Baik,” Anthonino meletakkan tembakan mainan di tangannya sambil ekor matanya melirik tajam pada pemilik tempat permainan.
Mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap dengan membawa puluhan boneka kecil yang berbentuk berupa rupa binatang.
Anthonino benar-benar tidak mengerti apa istimewanya mendapatkan boneka dari tempat seperti itu, bukankah begitu banyak boneka di jual di toko?
Sesampainya di hotel Anthonino memanggil layanan kamar dan meminta pegawai hotel untuk mencuci seluruh boneka mini itu, Keiko terkekeh melihat tingkah suaminya yang begitu mencintai kebersihan.
Setelah memastikan Keiko tertidur Anthonino memanggil Arima, mereka duduk berhadap-hadapan di bangku yang berada di tepi kolam renang.
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” kata Anthonino dengan nada tegas.
“Saya akan menjawab jika saya tahu tuan,” jawab Arima dengan nada sangat sopan.
Anthonino memandang wajah Arima dengan tatapan menyelidik, wajah pria di depan Anthonino itu tampak begitu tenang dan tatapan matanya seolah tidak memiliki rasa gentar bahkan jika harus membunuh musuh.
“Berapa lama kau bersama Keiko?” tanya Anthonino.
“Saya menjaga nona sejak ia tinggal di London,” jawab Arima.
“Berapa tahun?”
“Itu sekitar enam atau tujuh tahun.”
Anthonino mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kau selalu di sampingnya?”
“Ya tuan, saya selalu berada disamping nona.”
“Apa ia penakut?”
“Tidak tuan, nona tidak penakut,” jawab Arima dengan tegas.
“Benarkah?” suara Anthonino begitu dingin namun tatapannya sangat mengintimidasi.
“Saya mengatakan sebenarnya tuan,” jawab Arima dengan tenang namun terdengar tegas.
“Sekarang aku yang menggajimu,” kata Anthonino seolah ia tidak puas dengan jawaban Arima.
“Ya tuan, saya tahu.”
__ADS_1
“Katakan tang kau tahu padaku,” kata Anthonino semakin terdengar mengintimidasi Arima.
“Saya sudah menjawab semua yang tuan tanyakan pada saya,” jawab Arima dengan nada datar.
Anthonino dapat menilai betapa setianya pria anggota Yakuza yang satu ini, bahkan mungkin jika ia menodongkan pistol di kepala Arima, pria ini akan lebih memilih peluru menembus otaknya di banding ia menjadi penghianat. Sudut bibir Anthonino terangkat, ia tidak akan bisa mengorek informasi dari mulut Arima, Lelya maupun Sarah, entah bagaimana cara keluarga Yamada mendapatkan kesetiaan dari orang-orang yang bekerja untuk mereka. Tetapi di muka bumi ini tidak ada yang bisa menghentikan keinginannya, Anthonino dapat membaca ada yang di sembunyikan oleh Arima.
Keesokan siangnya Keiko memandangi udang dan kepiting yang berukuran besar di depannya dengan tatapan mata berkilau-kilau, seperti ia mendapatkan emas batangan yang jatuh dari langit, sementara Anthonino menggunakan sarung tangan dan besi penjepit untuk menghancurkan cangkang kepiting, ia juga mengupas kulit udang dengan sabar.
Photo from Google.
Pria itu menginstruksikan pada Keiko untuk diam dan jangan bergerak, ia tentu saja mengkhawatirkan gadis lugu itu, jika ia menyentuh kepiting, tidak ada jaminan jari tangannya yang tampak rapuh itu mungkin saja bisa tergores, istrinya adalah seorang pianis, jemarinya adalah kehidupannya.
Bahkan Anthonino yakin jika seumur hidupnya istrinya itu belum pernah memegang pisau.
Setelah seluruh cangkang udang dan kepiting telah terlepas dari dagingnya, Anthonino mulai menyuapi Keiko dengan sabar, meskipun Keiko bersikeras ingin memakannya sendiri, Anthonino tidak mengizinkannya.
“Aku bisa menggunakan sumpitku sendiri,” gerutu Keiko, “Hubby kau juga harus makan.”
“Aku bisa makan nanti,” jawab Anthonino sambil menyuapkan sepotong daging udang ke dalam mulut Keiko.
“Kalau begitu aku tidak mau makan lagi sebelum kau makan,” Keiko merasa tidak nyaman, ia seperti bayi yang sedang di suapi.
Anthonino menatap Keiko dengan tatapan tidak suka.
“Baiklah,” Anthonino tidak bisa menolak tawaran emas Keiko pastinya.
“Hubby, kapan kita ke sini lagi?” tanya Keiko sambil menanti Anthonino menyuapkan makanan ke mulutnya, ia nyaris meneteskan air liur karena rasa udang yang di makannya terasa sangat lezat.
“Kapan kau ingin?”
“Bagaimana kalau besok?”
Anthonino tersenyum sambil menyodorkan makanan ke mulut istri tercintanya.
“Tidak boleh terlaku sering, lagi pula besok kita akan terbang ke Tokyo, kau rindu Crystal bukan?”
“Kalau begitu bagaimana bukan depan?” pinta Keikonsambil mengunyah udangnya dan tangannya menjepit daging kepiting mengguanakn sumpit di tangannya.
“Baiklah, kita lihat jadwalmu lebih dulu cintaku,” jawab Anthonino.
Wajah Keiko tampak berbinar, ia menyuapakan daging kepiting ke dalam mulut Anthonino.
“Jadi kau menyukai kota ini?” tanya Anthonino setelah menelan daging kepiting yang telah ia kunyah.
__ADS_1
Keiko mengangguk dengan tegas, “sangat menyukai,” katanya dengan mata semakin berbinar.
Kedua insan itu memakan udang dan kepiting mereka di sertai canda tawa ringan hingga makanan di piring mereka habis tak bersisa.
“Ayo berkeliling Guangzhou,” ajaknya yang di angguki oleh Keiko.
“Hubby, kau tampak seperti kaisar China,” Keiko mengomentari penampilan suaminya yang mengenakan hanfu di tubuhnya.
Hanfu adalah salah satu pakaian traditional China.
“Apa ada Kaisar bermata biru sepertiku?” tanya Anthonino sambil mengangkat kedua alisnya.
“Sepertinya kau satu-satunya,” jawab Keiko sambil terkekeh.
“Istriku sangat cantik mengenakan Hanfu,” puji Anthonino.
“Suamiku juga tampan,” Keiko balas memuji suaminya.
“Benarkah?”
Keiko mengangguk dengan tatapan mata berkilauan.
“Kita sangat serasi, aku yakin kelak putra dan putri kita akan sangat beruntung memiliki orang tua yang serasi,”bkata Anthonino sambil meraih telapak tangan Keiko dan mengecupnya membuat wajah Keiko tampak merona, ia mencubit lengan suaminya dengan pelan.
Keiko mengunggah sebuah foto dirinya di Guangzhou yang sedang mengenakan Hanfu.
Photo from Instagram #hanfu.
“Aku sangat menyukai gaun ini” caption di foto yang di unggahnya.
@sweet.strowberry : kau terlihat seperti seorang dewi dan emoticon amor yang bersinar.
Anthonino segera memberikan komentar, Keiko membalas dibawahnya.
@yamada.keiko @sweet.strowberry : emoticon peluk.
Dan dalam sekejap juga unggahan foto Keiko mendapatkan begitu banyak like dan berbagai komentar.
Keiko tidak menggubris komentar komentar di instagramnya, ia dan Anthonino melanjutkan dengan santai menelusuri jalalan kota Guangzhou, mereka begitu menikamtai kebersamaaan mereka, tak sedetikpun Anthonino mmelepaskan genggaman tamgannya dari telapak tangan Keiko meskipun Arima berada bersama mereka, bahkan Anthonino beberapa kali mencumbu bibir Keiko di depan Arima, Keiko sama sekali tidak menolak, ia membalas cumbuan bibir Anthonino seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Photo from Instagram #hanfu.
__ADS_1
OKE AUTHOR KELAPARAN PAS NYARI NYARI GAMBAR KEPITING DAN UDANG PADAHAL INI TENGAH MALAM NGETIKNYA 😆😆😆