
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
Keiko mengecek suhu badan Anthonino kemudian ia menjauhkan handuk hangat dikepala Anthonino karena suhu badannya lagi tidak setinggi tadi pagi saat ia baru saja di bawa masuk ke dalam kamar Keiko.
Zacky telah pergi meninggalkan apartemen itu setelah satu botol cairan infus masuk seluruhnya ke dalam tubuh Anthonino. Ia mengatakan akan kembali lagi besok untuk mengecek keadaan Anthonino.
Keiko merasa iba melihat keadaan suaminya, perasaan dan egonya mulai melunak. Telapak tangannya menyibakkan sejumput rambut yang berada di kening Anthonino kemudian mengecup sebelah pipi suaminya, matanya menatap Anthonino dengan tatapan merindu. Suaminya sangat gigih kepadanya, sepertinya ia memang keterlaluan terhadap suaminya.
Setelah puas memandangi wajah suaminya kayak kau kemudian pergi membersihkan tubuhnya di kamar mandi lalu ia melangkah pergi ke dapur untuk menginstruksikan kepada pelayan untuk menyiapkan sup agar nanti saat suaminya terbangun bisa mengisi perutnya. Setelah membersihkan tubuhnya Keiko kemudian merebahkan tubuhnya di sisi Anthonino sambil memeluk pinggang suaminya. Bibirnya menyunggingkan senyum sambil menatap wajah tampan suaminya.
Keiko merasa sangat beruntung karena orang-orang di sekitar Keiko begitu baik kepadanya, bahkan Philip dan Samantha yang tidak memiliki hubungan keluarga dengannya juga membantunya tanpa pamrih. Semua orang di sekitarnya selalu dengan sabar memberikan nasihat yang baik, tidak satu pun di antara mereka menambahkan nyala api di benak Keiko sehingga ia tidak perlu mengulang kejadian Olivia dan Derren di masa lalu.
Seperti Olivia yang langsung menghubungi Keiko begitu berita tentang suaminya mencuat, kakak iparnya mengingatkan dirinya agar jangan keras kepala seperti Olivia di masa lalu. Tetapi, Olivia dan dirinya memiliki karakter yang hampir sama. Keiko lebih memilih menuruti egonya di banding nasihat siapa pun termasuk nasihat ayahnya. Keiko beranggapan ayahnya tidak pernah merasakan pengkhianatan dalam hidupnya sehingga dengan mudah menceramahi untuk memberikan Anthonino kesempatan untuk menjelaskan kepadanya apa yang terjadi.
Entah bagaimana keluarganya mempercayai suaminya, bukan hanya ayahnya tetapi Kenzo dan Jonathan juga mempercayai Anthonino. Sementara ibunya hanya diam tidak berkomentar.
__ADS_1
Tanpa terasa Keiko terlarut dalam lamunannya hingga tertidur, ia terbangun ketika merasakan pergerakan kecil dari suaminya. “Bagaimana keadaanmu?” Keiko buru-buru mengecek membuka mata dan mengecek menempelkan telapak tangannya di kening suaminya.
Anthonino tampak membuka matanya sedikit dan mengerjakannya beberapa kali seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya. “Cintaku,” gumamnya dengan suara tertahan.
“Aku akan mengambil sup dan air hangat, tunggu sebentar.” Keiko berusaha bangkit dari tidurnya tetapi Anthonino menahannya.
“Cintaku ayo bicara,” kata Anthonino. Tatapannya tampak penuh harap.
Keiko tersenyum mendengar apa yang di katakan suaminya, ia mengubah posisinya menjadi duduk kemudian dengan gerakan lembut ia membelai pipi Anthonino kemudian menyapukan bibirnya sekilas bibir Anthonino. “Kita bicarakan setelah kau pulih, sekarang kau harus mengisi perutmu. Lambungmu bermasalah, aku tidak ingin mengurus orang sakit lebih lama lagi,” kata Keiko dengan nada sedikit galak.
“Apa kau bisa duduk?” tanya keiko sambil meletakkan benda di tangannya di atas nakas.
Anthonino mencoba duduk dan menyandarkan punggungnya di ranjang
Keiko dengan sabar meniup sup yang tampak masih mengepulkan uap panas kemudian ia menyuapi Anthonino dengan sabar. “Kami tidak memiliki stok makanan untuk orang sakit di dalam lemari pendingin jadi hanya ada ini, tapi aku telah menginstruksikan Sarah dan Lelya untuk keluar membeli bahan makanan agar kau segera pulih. Kau harus makan dengan benar, lambungmu bermasalah. Kenapa kau begitu keras kepala? Zacky menyarankanmu ke untuk dirawat di rumah sakit tapi kau justru berkeliaran di tengah badai salju.” Pidato Keiko terdengar panjang lebar seperti seorang dokter yang sedang menceramahi pasiennya.
__ADS_1
Mendengarkan pidato istrinya membuat Anthonino tersenyum, ia tidak mengira istrinya pandai merawat orang sakit. “Aku tidak ingin dirawat di rumah sakit,” jawabnya.
“Apa kau tidak ingin sembuh?” Keiko bertanya dengan nada sedikit galak.
Sudut bibir Anthonino berkedut, tentu saja ia ingin sembuh tetapi sakitnya kali ini membawa bekah. Ia harus berterima kasih kepada virus ataupun bakteri atau apa pun yang sedang menyerangnya saat ini. “Aku rela sakit asal kau merawatku dengan tanganmu seperti ini,” ucapnya sambil matanya menatap bibir istrinya yang sedikit cemberut.
“Jangan besar kepala aku tidak mau merawat orang sakit terlalu lama,” ucap Keiko, nadanya hangat karena ia hanya bercanda dengan ucapannya.
“Kau tidak berbakti kepada suamimu jika tidak mau merawat suamimu yang sedang sakit,” protes Anthonino.
Keiko hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan suaminya. Ia meletakkan mangkuk sup yang ia pegang kembali ke atas nakas karena isinya telah seluruhnya berpindah ke dalam perut suaminya.
“Kau harus minum obatmu, aku akan mencuci tanganku terlebih dulu.” Keiko bangkit dan meninggalkan Anthonino yang terkagum-kagum melihat Keiko telaten merawatnya yang sedang sakit. Perasaannya sangat bahagia karena setidaknya istrinya tidak lagi menghindari dirinya. Entah bagaimana nanti setelah ia sembuh, apakah istrinya bersedia mendengarkannya atau tidak, yang pasti sekarang ia bahagia.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️
__ADS_1
INFO : YOUR GRACE UDAH BISA DI NIKMATI YA ❤️❤️❤️❤️