
Keiko dengan hati hati memasangkan dasi untuk Anthonino sambil sedikit berjinjit, Nafasnya begitu dekat di leher Anthonino, tiba-tiba Anthonino merasakan gairahnya bangkit karena nafas Keiko yang begitu dekat menyapu lehernya.
Keiko mundur satu langkah untuk memastikan kerapian dasi yang tellah ia pasangkan di leher suaminya.
“Sayang kau menggodaku?” Anthonino meraih pinggang Keiko.
“Aku tidak...” kata Keiko, ia memang tidak menggoda suaminya.
“Tapi aku tergoda dan ingin memakanmu cintaku,” geram Anthonino.
“Nino kau harus bekerja,”
“Tapi adikku lebih ingin bekerja bersamamu.” kata Anthonino sambil menangkap telapak tangan Keiko dan mengarahkan ke pangkal pahanya.
“Dia sudah tidak sabar.”
“Nino kau akan terlambat bekerja,” Keiko memelototkan matanya karena kesal dan juga gugup.
“Aku bossnya tidak masalah.”
“Kau memberi contoh karyawanmu yang tidak baik.”
“Tapi aku rasa istriku butuh suaminya sekarang.”
“Omong kosong, siapa yang butuh siapa...” Keiko tertawa ringan.
“Kau sudah basah cintaku, aku tahu,” kata Anthonino.
Keiko tergagap, ia memang ia telah basah sejak ia memasangkan dasi untuk Anthonino, hanya menyentuh sedikit dada suaminya yang terbungkus kemeja saja membuat sisi liarnya bangkit.
“Aku akan sebentar.”
“Tidak mau, kau main curang.”
“Dua menit kau akan mendapatkannya.”
“Kita buktikan.” kekeh Keiko.
Tidak memerlukan tempat tidur, di depan pintu kamar mandi bibir mereka bertaut sementara jemari Anthonino bermain di area antara paha milik Keiko dan puncak Keiko datang bahkan belum sampai 2 menit.
“Aku tidak pernah berbohong padamu cintaku,” bisik Anthonino dengan seringai di wajahnya, “sekarang giliranku.”
Tanpa menunggu lama Anthonino menyatukan tubuh mereka, ia mengangkat sebelah kaki Keiko dalam posisi berdiri.
Lima menit kemudian mereka mencapai puncak bersama.
“Dua kali dalam tujuh menit, Apa masih kurang?”
“Kau benar benar iblis,” Keiko terengah engah di ceruk leher Anthonino, menghirup aroma parfum suaminya.
‘Aku adalah iblus yang akan menemanimu seumur hidupmu Keiko,’ seringai Anthonino dalam hati.
Setelah membersihkan bagian tubuh tertentu, Anthonino membawa Keiko ke atas ranjang dan merebahkannya
“Cintaku kau istirahatlah, aku harus pergi bekerja.”
__ADS_1
Keiko mengangguk, namun sebelum Anthonino menjauh ia menarik pergelangan tangan suaminya, ia berdiri untuk merapikan dasi dan jas suaminya.
“Selamat bekerja,” bisik Keiko dengan wajah merona, tampak menggemaskan dan sedikit malu-malu ia mengatakannya.
Anthonino mengecup kening Keiko dengan lembut, lalu ia benar-benar harus pergi bekerja karena pagi ini pertemuan penting bersama para investor tidak mungkin di gagalkan, meskipun ia sangat enggan meninggalkan kelinci kecilnya di atas ranjang, untuk pertama kali dalam hidup Anthoni, ia merasa sanggat berat meninggalkan tempat tinggalnya walaupun hanya untuk pergi bekerja.
Perasan kedua insan itu mungkin sama.
Hanya mungkin.
Dua hari wajah Keiko semakin berseri seri ia juga merasa geli pada tingkah suaminya, bagaimana tidak, suaminya yang tampan setiap 30 menit ia mengirimkan foto padanya dengan berbagai pose.
NEW YORK 10.00 am
Di dalam sebuah Limousine yang telah berhenti dengan sempurna di area parkir sebuah gedung.
Photo sourch Google
“Sepertinya lebih baik kita mencari kamar dulu,” suara Anthonino lebih menyerupai geraman.
“Tapi aku harus berlatih,” jawab Keiko, ia memang harus berlatih untuk tampil di New York Fashion week yang akan di gelar satu minggu lagi.
“Kau bisa menundanya,” suara Anthonino semakin parau.
“Kau sudah mendapatkannya tadi malam,” keluh Keiko, teringat betapa panasnya percintaan mereka di ranjang pesawat pribadi milik suaminya.
“Cintaku, aku menginginkanmu lagi sekarang.”
“Kau sangat serakah.”
Keiko merona ia masih duduk di pangkuan suaminya dengan posisi menghadap ke arah suaminya
‘Dan aku selalu tak bisa menolakmu, Nino,’ batin Keiko.
“Aku harus turun Nino,” jawab Keiko berbeda dengan apa yang ada di benaknya.
“Masih ada waktu satu jam lagi bukan?”
“Satu jam aku ingin menggunakan waktu untuk menyapa teman temanku.”
“Tapi milikku juga ingin menyapanya.”
“Kau sangat mesum,” Keiko justru mematuk bibir suaminya, ia bisa menolak Anthonino namun faktanya tubuhnya selalu menerima menginginkan pria itu. Mereka terhanyut dalam ciuman memabukkan, bahkan tubuh mereka telah bersatu.
“Berhati hatilah kita berada di mobil,” bisik Keiko dengan suara parau.
30 menit deru nafas mereka berdua saling memburu, penuh kelembutan, dan kehati-hatian akhirnya mereka meledak bersama.
“Aku akan menjemputmu nanti, ingat kau sekarang bukan gadis lajang lagi, aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain” kata Anthonino sambil dengan hati-hati membersihkan bagian tubuh Keiko menggunakan tisu, kemudian ia juga merapikan pakaian yang di kenakan Keiko. Semua gerakannya terlihat penuh kasih sayang.
Keiko tersenyum, wajah putihnya tampak merah merona.
“Baiklah Mr. Posesif,” jawab Keiko.
__ADS_1
“Aku akan menangani beberapa urusan” kata Anthonino sambil mengusap rambut di kepala Keiko, “Sampai jumpa kawaii wifei.”
“Hubbyl” guman Keiko malu-malu.
Anthonino langsung membawa Keiko ke dalam pelukannya.
“Katakan sekali lagi sayangku.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa,” Keiko berkilah.
“Kau menggodaku sayang?”
Keiko tertawa terkekeh kekeh, Anthonino menciumi pipinya dengan gemas, mereka kembali bertaut dalam ciuman yang dalam seolah olah enggan berpisah satu sama lainnya.
“Keiko... astaga ke mana saja kau?” itu suara Cathy temannya, teman Samantha juga “Berapa ratus kali aku mengirim pesan padamu? Panggilanku juga tidak kau jawab!” ia menghujani Keiko dengan pertanyaan seperti seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya, padahal Keiko baru saja menginjakkan kakinya di ruang ganti.
“Hah? Benarkah? Aku tidak melihat panggilanmu,” jawab Keiko dengan wajah lugu.
“Astaga coba kau cek ponselmu, kau sungguh kejam!” dengus Cathy kesal.
Keiko melambaikan tangan pada Sarah dan meminta ponselnya, benar saja, Cathy mengiriminya pesan seperti gadis yang kesetanan sejak hari gagalnya pernikahannya dengan Philip hingga beberapa hari yang lalu.
Sejak beberapa minggu yang lalu tentu saja ia sangat sibuk bersama suami barunya, Ia hanya memegang ponselnya jika hendak menghubungi keluarganya saja, selebihnya ia tidak pernah mengecek apa pun.
“Cathy maafkan aku, aku belakangan ini sibuk aku tinggal di Moscow selama 3 minggu.”
“Kau melarikan diri ke sana?”
“Hah??? Melarikan diri? omong kosong. Aku bekerja, ada shooting iklan.”
“Tiga minggu hanya untuk satu iklan?” Cathy merasa curiga, ia memicingkan matanya menatap Keiko, namun Cathy tahu sahabatnya ini sangat pandai bersikap tenang dan pandai menyimpan emosinya.
“Ya begitulah,” jawab Keiko, wajahnya terasa menghangat mengingat tiga minggu ia bersama Anthonino melakukan hal-hal di luar kendali.
“Kau yakin tidak masalah? kita akan sepanggung bersama Samantha dan Philip.”
“Memangnya kenapa?” tanya Keiko dengan nada acuh.
“Kau benar benar bisa bersikap profesional, sepertinya aku harus belajar padamu Kei.” Cathy tertawa ringan.
“Kau berpikir terlalu banyak," Keiko terkekeh, “Ayo berlatih,” ajak Keiko sambil mengganti sepatunya.
“Oh iya, Kei di mana kau menginap? Ku dengar kau tidak menginap di hotel yang sama dengan kami,” tanya Cathy.
Keiko juga belum tahu di mana mereka akan menginap,
“Aku belum tahu, aku baru saja mendarat kami belum mencari hotel,” Keiko menjawab dengan jujur.
“Astaga,” kata Cathy sambil mengikuti langkah Keiko menuju tempat di mana panggung berada.
Beberapa orang rekan satu timnya telah berkumpul di belakang panggung, mereka melambaikan tangan pada Keiko dan Chaty.
Keduanya segera bergabung dan saling menyapa.
Beberapa menit kemudian Philip datang bersama Samantha, kecanggungan tiba-tiba menyeruak membuat seluruh tim saling lirik dengan ekor mata mereka masing-masing.
__ADS_1
TAP TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA VOTE AUTHOR DONG 😍😍😍😘😘😗😗
MAKASIH 😙😙😙