
Sepanjang perjalanan kecanggungan menyeruak di antara mereka, Keiko seperti membangun tembok yang sangat tinggi, ia hanya memandangi jalanan melalui kaca jendela mobil di samping kanannya dengan tatapan sayu. Sesekali Anthonino melirik Keiko, sepertinya ia harus berjuang keras malam ini agar mood gadis lugu ini membaik.
Anthonino memeluk erat tubuh Keiko di atas tempat tidur dan mengecup pucuk kepalanya, malam itu suasana begitu berat, tekanan udara seolah olah berkurang, bahkan makan malam yang telah mereka lalui pun terasa di selimuti kabut kecanggungan.
“Apa yang mengganggu pikiranmu sayang?” tanya Anthonino memulai percakapan di antara mereka.
Keiko menggeleng.
“Kalau begitu tidurlah.”
“Aku tidak ingin kau melihat penampilanku,” guman Keiko, ia ternyata masih menjadikan ucapan Anthonino saat mereka dalam perjalanan pulang sebagai beban.
“Tapi aku sungguh ingin melihatmu di panggung secara langsung,” Anthonino berucap dengan sangat lembut sambil mengecup pucuk kepalanya.
“Aku akan merasa gugup jika kau menyaksikan penampilanku,” Keiko berkata jujur.
“Sayangku, aku adalah suamimu, kau tidak perlu malu padaku, tidak ada batasan antara kau dan aku sayang.”
“Tapi...”
“Sstttttt...” Anthonino memotong ucapan Keiko, “lebih baik kita tidur, ingat aku suamimu sayang, dimataku kau yang terbaik, meskipun kau melakukan kesalahan, tetaplah di mataku kau yang terbaik karena kau istriku.”
“Kau bermulut manis lagi,” Keiko sedikit tertawa sambil mencubit pinggang Anthonino.
“Benarkah? Coba kau cicipi, apa benar mulutku manis?” goda Anthonino.
“Kau akan mengambil kesempatan.”
“Aku tidak akan mengambil apa pun, kau sedang berhalangan sayang,” bisik Anthonino di dekat telinga Keiko.
Keiko mencubit lagi pinggang suaminya, Anthonino meraih telapak tangan Keiko dan menciuminya.
__ADS_1
“Kau tahu? tadi kau tampak sangat bercahaya di panggung sayang.”
“Kau melihatku?” tanya Keiko tampak terkejut, alisnya berkerut.
“Tentu saja, aku bahkan meninggalkan pertemuan demi menyaksikan istriku tampil meski hanya bisa menonton di televisi,” kata Anthonino dengan nada kecewa.
Tanpa di duga wajah Keiko justru memerah, Anthonino tidak menyangka hal itu, ia mengira Keiko akan cemberut seperti saat mereka berada di mobil.
“Aku sangat bangga memilikimu sayangku, kau sangat bersinar di atas panggung, ku rasa matahari akan iri jika di bandingkan dengan sinar yang terpancar dari dirimu.”
“Hentikan pujianmu, kau membuatku malu,” gerutu Keiko.
Anthonino tertawa kecil hingga bahunya sedikit terguncang.
“Kau sangat mengemaskan sayangku.”
“Hentikan,” rengek Keiko dengan nada manja.
Paginya Keiko membuka matanya, mengerjap-erjapkan matanya memandangi wajah tampan suaminya, ‘Andai tidak ada kontrak itu,’ batin Keiko berbisik perih, ia menghela nafasnya dalam-dalam.
“Cintaku, selamat pagi,” Anthonino membuka matanya, ia selalu waspada meskipun dalam keadaan tidur, bahkan hanya karena Keiko menghela nafas cukup dalam saja bisa membangunkan tidurnya.
“Selamat pagi,” Keiko berguman, buru-buru ia mengalihkan pandangannya.
Anthonino menciumi pipi Keiko kemudian mengecup leher jenjang yang membuat paginya benar-benar tersiksa.
“Hubby, kau membuatku geli,” Keiko berusaha melepaskan tubuhnya dari cengkeraman suaminya.
“Jangan bergerak sayang, kau menyiksaku.”
“Aku tidak berbuat apa pun padamu,” protes Keiko sambil tertawa kecil, ia tahu suaminya sedang menahan hasratnya karena sesuatu yang mengeras menempel di perut Keiko.
__ADS_1
****
Hari ini New York Fashion Week dimulai, Keiko tentu saja gelisah, semakin mendekati waktunya semakin pula ia gugup, gadis itu berulang kali menghela nafasnya.
“Keiko kenapa kau gugup?” tanya pria gemulai yang sedang menata rambutnya.
“Ya, sedikit.”
“Ada apa? Kau biasanya sangat tenang.”
Keiko justru merona, tentu saja ia sangat gugup, hari ini Anthonino berkata ia akan menyaksikan penampilannya, suaminya itu terus mendesaknya, pria itu bahkan mengantarkannya, dan sepanjang perjalanan menuju gedung pertunjukan mereka terus terusan berciuman dan bercumbu seperti mereka telah cukup lama tidak melakukannya, mengingat hal hal seperti itu membuat wajah Keiko terus saja merona.
“Keiko apa apaan kau ini? aku hanya bertanya kenapa kau malah merona,” dengus pria gemulai itu.
“A-aku tidak merona,” bantah Keiko sambil melihat wajahnya di cermin untuk memastikan, dan wajahnya memang merona, bahkan tidak perlu menambahkan blush sekalipun kulit wajahnya telah merah merona!
“Apa karena dia?” bisik pria itu, pandangannya mengarah pada cermin, di mana tepat belakang Keiko duduk, Philip sedang duduk untuk di tata rambutnya juga.
“Omong kosong,” Keiko justru tertawa ringan tanpa beban.
“Ku dengar dari akun gosip kau telah menemukan pengganti, benarkah?” tanyanya.
“Rahasia,” kata Keiko dengan ekspresi malu-malu, hair stylish sekaligus make up artis yang bernama Mario ini memang telah lama mengenal Keiko, jadi mereka biasa bercakap cakap sambil menata make up dan rambut Keiko.
“Ceritakan padaku,” desak Mario.
“Kau penggosip,” Keiko terkekeh.
“Kau memberikan jawaban ambigu di acara beberapa malam yang lalu.”
“Waktu yang akan menjawab,” seringai Keiko sukses membuat Mario mendengus kesal.
__ADS_1
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KAALIAN 😚😚😚😚😚