
“Bagaimana hubunganmu dan Vicky?” Keiko bertanya dengan nada yang sangat hangat kepada Gustavo karena Vicky beberapa kali Vicky dan Gustavo mengunggah foto kebersamaan mereka di akun media sosial mereka.
“Aku tidak merestui,” sahut Anthonino cepat sebelum Gustavo menjawab pertanyaan Keiko.
“Aku tidak butuh restumu,” kata Gustavo dengan nada acuh.
“Dia adikku.” Anthonino masih tidak mau mengalah.
“Jadi kalian akan menikah?” Keiko tampak antusias.
“Vicky belum menerimaku,” ucap Gustavo sambil menengadahkan kedua telapak tangannya. “Kami sepakat untuk saling mengenal melalui pertemanan terlebih dulu.”
“Dia tidak akan menerimamu,” ucap Anthonino dengan nada mengejek tetapi jauh di lubuk hatinya jika pria yang menjadi pendamping adik sepupunya adalah Gustavo tentu saja tidak masalah karena ia tahu siapa Gustavo. Mereka telah saling mengenal sejak sama-sama berada di Academi Aviator of America.
“Kau sok tahu,” balas Gustavo.
"Bagaimana jika kita berteduh?"
"Adikku bukan bahan taruhan," kata Anthonino dengan nada galak membuat Gustavo tertawa kecil.
Keiko kembali terkekeh menyaksikan drama kedua orang itu, keakraban yang tidak di buat-buat dan kedekatan yang begitu alami. Sangat menyenangkan untuk dipandang.
“Jadi untuk apa kau mengundangku kesini?” tanya Gustavo.
“Kau yang mengundangku,” jawab Anthonino dengan nada acuh.
"Kau yang mengundangku."
"Ya, aku merasa iba pada pria kesepian jadi aku berbaik hati mengajakmu makan malam." Anthonino menyeringai menampilkan sederetan giginya yang rapi dan putih.
“Makan malam dan menyaksikan kau memamerkan kemesraan sebagai pengantin baru?”
“Kami telah lama menikah,” jawab Anthonino dengan nada memamerkan pernikahannya.
__ADS_1
“Kei, apa kau sadar telah masuk ke dalam jebakannya?” Gustavo menaikkan sebelah alisnya sambil tatapannya mengarah kepada Keiko.
“Aku menyukai jebakannya,” ujar Keiko dengan wajah merah merona mengingat pertemuan pertama mereka di pesawat yang berlanjut dengan hal-hal gila yang membawa mereka berdua hingga sejauh ini. “Jadi apa kalian hanya akan berdebat dan tidak memesan makanan?”
Gustavo terkekeh, ia menekan bel yang ada di meja untuk memanggil pegawai restoran yang dengan sigap segera datang membawakan buku menu makanan dan dengan sabar melayani mereka bertiga. Mereka bertiga menyantap hidangan makan malam yang tersaji di meja disertai dengan obrolan-obrolan ringan dan juga terkadang di selingi dengan cerita kekonyolan mereka yang membuat ketiga orang itu tertawa. Anthonino mengaku Gustavo yang mengundangnya tetapi Gustavo mengaku sebaliknya, sepertinya hal-hal seperti itu biasa terjadi pada persahabatan antar pria.
“Bekerjalah untuk Aeroflot,” ucap Anthonino tiba-tiba setelah menyelesaikan hidangan makan malam mereka.
“Kau sedang merekrutku?” Gustavo mengelap bibirnya menggunakan tisu dengan gerakan anggun.
“Kau seharusnya tersanjung karena pemilik maskapai langsung yang merekrutmu,” jawab Anthonino dengan nada sombong khas miliknya.
“Astaga Kei, lihat betapa sombongnya suamimu.” Gustavo menggelengkan kepalanya.
Keiko tersenyum lebar sambil menatap wajah suaminya dengan tatapan memuja. Sementara Anthonino membawa telapak tangan Keiko dan mengecupnya di depan Gustavo.
“Jangan membuat pria lajang di sini semakin merana,” ucap Gustavo dengan nada kesal.
Anthonino sama sekali tidak mempedulikan keluhan yang meluncur dari bibir sahabatnya, ia kembali mengecup punggung telapak tangan Keiko membuat wajah Keiko tampak merona karena bahagia.
Gustavo mengernyit, ia sangat hafal dengan perangai Anthonino. Sahabatnya itu akan melakukan segala cara agar ia bersedia menerima tawarannya. Gustavo yakin itu tetapi ia ingin sedikit bertingkah untuk mempermainkan sahabat kentalnya itu. “Aku masih terikat kontrak,” ucap Gustavo dengan nada datar.
“Aeroflot akan membayar kompensasinya,” jawab Anthonino tepat seperti dugaan Gustavo.
“Jumlahnya tidak sedikit,” kata Gustavo sambil menaikkan kedua alisnya.
“Uang perusahaanku tidak akan habis jika hanya untuk membeli seribu ginjalmu,” kata Anthonino sambil mengangkat gelas wine di depannya lalu dengan gerakan yang sangat anggun ia meminum isinya.
“Sayangnya ginjalku hanya satu dan aku juga tidak akan menjualnya.”
“Katakan saja iya,” kata Anthonino dengan nada mendesak.
Gustavo tampak berpikir sebentar. “Aku memiliki syarat.”
__ADS_1
“Katakan.”
“Aku ingin rute tetap, kota mana saja terserah asal aku bisa tinggal di Tokyo.” Gustavo memasang ekspresi wajah datar dan nadanya juga tegas.
“Apa aku mengatakan kau akan menjadi salah satu pilot di maskapaiku?” sebelah mata Anthonino tampak menyipit menatap Gustavo dengan tatapan seolah ia percaya diri penuh bahwa ia telah memenangkan negosiasi itu.
Gustavo mengerutkan keningnya. “Aku seorang pilot.”
“Aku ingin kau memegang kendali cabang perwakilan Aeroflot di Osaka.”
“What the hell?” Gustavo nyaris tidak mempercayai pendengarannya sendiri. “Itu bukan pekerjaanku.”
“Kau bisa sepertiku," ucap Anthonino dengan nada penuh keyakinan.
“Jangan bercanda,” kata Gustavo.
“Kau bisa lebih dekat dengan Vicky.” Anthonino sedang memberikan iming-iming yang lebih di minati oleh Gustavo di banding gaji yang akan di tawarkan nanti.
“Vicky di Tokyo bukan di Osaka,” protes Gustavo.
“Cintaku, berapa jarak Osaka ke Tokyo?” Anthonino bertanya kepada istrinya yang sejak tadi jemarinya berada di dalam telapak tangannya seusai menyelesaikan makan.
“Hanya satu jam lima menit menggunakan kereta Shinkansen,” ujar Keiko.
“Kesempatanmu hanya satu kali,” ucap Anthonino dengan nada mengintimidasi Gustavo.
“Baiklah, akan kupikirkan.”
“Siapa bilang aku akan mem....” Belum sempat Anthonino menyelesaikan kalimatnya suara deheman seseorang menghentikannya karena pria yang berdehem itu adalah Justin yang datang bersama Nameera.
Kedua orang itu datang dan telah berdiri di dekat meja mereka.
“Kalian di sini rupanya?” Justin lebih dulu membuka suaranya, lengannya yang kokoh tampak melingkar dengan posesif di pinggang Nameera.
__ADS_1
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️