
TAP JEMPOL SEBELUM MEMBACA PLIS!
“Cintaku, ayo buka matamu. Aku sangat merindukanmu.” Anthonino menyapukan bibir lembutnya ke kulit wajah Keiko, kemudian mendaratkan bibirnya di kening Keiko.
Tidak ada kemajuan apa pun, Keiko masih nyaman dengan tidur panjangnya. Dokter mengatakan jika Keiko tidak bangun hingga melewati masa satu bulan akan ada kemungkinan bahwa ia tidak akan bangun untuk seumur hidupnya. Mendengar perkiraan dokter membuat Anthonino benar-benar ingin membunuh Nameera jika membunuh dapat membuat istrinya terbangun. Sekarang yang dapat di lakukan oleh Anthonino hanya berada di samping Keiko selama dua puluh empat jam.
Jonathan bahkan telah kembali ke Tokyo karena ia tidak bisa berlama-lama berada di Moscow. Tiffany sedang masa hamil tua, ia juga harus memikirkan keluarganya sendiri. Sedangkan Aeroflot di pegang oleh ayah mertuanya untuk sementara hingga Keiko terbangun meski tidak ada yang tahu kapan Keiko akan membuka matanya.
“Cintaku, hari ini aku menyelesaikan terapiku tanganku sudah sembuh, gipsnya telah di lepas. Kakiku juga telah membaik, aku bisa menggendong lagi. Aku menuruti semua keinginanku, kau boleh terus menjadi model asal kau membuka matamu kembali.” Anthonino terus menyerukan isi hatinya, ia tidak mampu membayangkan jika Keiko tidak kunjung membuka matanya, bagaimana janin yang ada di rahimnya? Mampukah mereka berdua bertahan?
“Cintaku kau adalah wanita yang sangat kuat, tidak ada wanita sehebat dirimu. Tidak ada wanita yang sekuat dirimu, kau juga harus tahu tahu, anak kita yang ada di dalam kandunganmu juga sangat kuat. Dia mampu bertahan di tengah cobaan yang kita lalui. Anak kita mengatakan ia ingin kau belai, dia ingin kau bangun agar ia dapat mendengar suaramu.” Tanpa terasa air mata Anthonino tergelincir di pipinya, ini bukan pertama kalinya ia menangis saat berbicara berdua dengan Keiko.
__ADS_1
Tiba-tiba Derren dan Olivia masuk ke dalam ruangan di mana Keiko dirawat. Menyadari ada orang lain yang memasuki ruangan tersebut Anthonino segera menyapu air matanya.
“Apa ada kemajuan?” tanya Derren yang telah berdiri di samping ranjang pasien.
Derren dan Olivia tiba di Moscow dua hari yang lalu, seluruh keluarga Yamada saling bergantian mengunjungi Keiko dan Anthonino. Bahkan Vicky juga datang bersama Gustavo. Sementara Livia ia masih terus berada bersama Anthonino menjaga Keiko bergantian dengan Samantha dan juga Philip.
Menjawab pertanyaan Derren Anthonino hanya menggeleng, tatapan mata Anthonino tampak begitu terluka menatap wajah derren dan Olivia sekilas.
Derren dengan penuh kasih sayang membelai wajah rambut adiknya di kepala adiknya. “Bangunlah Kei, kami sangat merindukanmu. Crystal, Kevin Sean ingin bertemu denganmu. Jika kau terus tinggal di rumah sakit mereka tidak bisa bertemu denganmu. Mereka masih anak-anak tidak bisa masuk ke dalam area rumah sakit, apa kau tega membiarkan mereka terlalu lama merindukanmu?” Derren yang tidak terlalu banyak bicara membuka suaranya.
Keiko hidup sendiri tetapi ia justru bahagia karena tidak ada seorang pun karena dipastikan tidak ada satu pun orang yang akan mengganggu hidupnya, tidak ada satu pun orang yang akan merusak kebahagiaannya, tidak ada orang-orang yang akan menyakiti dirinya lagi. Entah kenapa batinnya terasa sangat sakit setiap ia mengingat seorang gadis yang memakai seragam pilot, ia tidak ingin bertemu dengan gadis itu lagi dan bersembunyi di tempat itu adalah pilihan yang paling tepat menurut Keiko. Ia yakin, gadis bermanik mata berwarna Hazel itu tidak akan bisa menemukannya.
__ADS_1
Keiko berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu yang mengitari taman-taman bunga sambil bersenandung. Tiba-tiba ia berhenti.
“Ah, andai aku memiliki piano dan biola di sini,” gumamnya.
Keiko kemudian memutuskan duduk di bangku berwarna putih yang ada di sekitar taman. Matanya jauh menerawang melihat langit biru. “Sangat indah seperti mata seseorang,” gumamnya.
Ia mencoba mengingat-ingat siapa pemilik mata indah itu tetapi ia tidak mampu mengingatnya. Tiba-tiba seperti ada suara-suara di kepalanya yang terus saja memanggil-manggil namanya suara itu sepertinya terdengar sangat familier tetapi Keiko tidak mampu mengingat siapa pemilik suara itu.
Suara itu semakin jelas terdengar di telinganya, merasa penasaran Keiko berjalan menyusuri jalan setapak yang terbentang panjang membelah taman bunga berusaha mencari sumber suara itu. Ada sedikit bimbang merayapi perasaannya, ia memutuskan berhenti dan berdiri mematung.
Jika aku meninggalkan tempat ini mungkin hidupku tidak akan aman, hidup di sini adalah hidup yang paling aman dan damai yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tidak ingin pergi ke mana-mana.
__ADS_1
Keiko mengela napasnya kemudian mengembuskannya perlahan, ia sedikit menekuk kakinya dan mencium sebuah mawar berwarna biru. Aromanya begitu maskulin, ia seperti pernah mengenal aroma itu. Aroma itu sangat menenangkan perasaannya. Ia memejamkan matanya, mencoba merasakan dengan indra penciumannya merekam di otaknya aroma mawar berwarna biru itu. Tetap saja Keiko tidak bisa mengingatnya. Tiba-tiba ia kembali mendengar suara-suara yang memanggil namanya suara itu bukan hanya satu dari satu orang, tetapi terdengar seperti dari dua orang pria dan satu orang suara wanita. Ketiga suara itu..., Keiko seperti mengenalnya.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️