Married With Pilot

Married With Pilot
Putri tidur


__ADS_3

TAP JEMPOLNYA DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!


Dua Minggu aku mengalami koma? Bagiamana keadaan Keiko? Aku meninggalkannya terlalu lama.


Bisiakan batinnya itu membuat Anthonino semakin tidak sabar ingin bertemu istrinya tetapi kali ini Anthonino menahan kesabarannya karena Philip kembali ke ruangan itu bersama Zacky untuk memeriksa keadaannya. Anthonino terus bergantian menatap Phillip, Livia dan Zacky dengan tatapan matanya menyiratkan kekhawatiran yang dalam.


“Kemajuanmu cukup besar untunglah kau tersadar, jika kau tidak segera tersadar setelah satu bulan tertidur mungkin akan tidur lebih lama lagi. Tulang-tulangmu akan segera membaik setelah nanti ahli fisioterapi menanganimu,” ucap dokter Zacky.


“Aku tidak peduli bagaimana dengan tulangku, aku hanya ingin bertemu dengan istriku.” Anthonino mengeraskan rahangnya.


Melihat menantunya yang terus bersikeras Livia membuka suaranya, “Nino, istrimu baik-baik saja kau bisa kau bisa menemuinya setelah keadaanmu lebih baik.”


Anthonino memejamkan matanya erat-erat kemudian membukanya. Semua orang yang ada di ruangan ini seperti sedang merahasiakan sesuatu darinya dan ia adalah satu-satunya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. “Mommy, aku ingin bertemu Keiko dan anakku sekarang,” pintanya dengan nada rendah.


“Sayang, kau bahkan tidak diizinkan untuk turun dari ranjang. Percayalah pada Mommy, istri dan anakmu baik-baik saja,” bujuk Livia.


Pertama kali dalam hidupnya Anthonino merasa dirinya benar-benar tidak berharga karena tidak bisa berbuat apa-apa, tangan kirinya dibalut dengan gips, kaki kanannya juga demikian. Di dalam benak Anthonino mengira jika secara logika ia mengalami luka separah itu bagaimana dengan tubuh Keiko yang langsing itu? Ia tidak bisa membayangkan istrinya yang tampak ringkih itu tentu saja lebih parah mengalami patah tulang dibanding dirinya.


Anthonino menghela napasnya yang terasa sangat amat terasa berat. “Tolong pertemukan aku dengan istri dan anakku.” Sekali lagi ia memohon karena benar-benar ingin bertemu dengan istrinya.


Dokter Zacky menatap ke arah Livia sekilas kemudian pria itu menganggukkan kepalanya. “Kau bisa menemuinya pukul dua nanti. Kau tentunya perlu mengisi tubuhmu dengan makanan karena kau telah tertidur selama nama dua minggu, kau juga harus memikirkan dirimu,” katanya.


Mendengar Zacky yang tampak menyulitkan dirinya Anthonino mulai kehilangan kesabarannya. “Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan? Kalian tidak mendengarku? Aku ingin bertemu dengan istri dan anakku.” Nada suara Anthonino meninggi.

__ADS_1


Ia berusaha mengubah posisinya menjadi duduk di bantu oleh Zacky.


“Mereka baik-baik saja, kenapa kau begitu keras kepala dan tidak mempercayai kami? Setelah kau mengisi perutmu perawat akan segera mengantarkanmu bertemu istrimu,” ucap Zacky yang tampak kesal karena sahabatnya begitu keras kepala.


Livia dan Zacky keluar dari ruangan itu, menyisakan Philips yang masih duduk dengan tenang di salah satu sofa yang berada di dalam ruangan itu tidak ada percakapan di antara mereka hingga Livia kembali bersama seorang pelayan dan yang membawakan makanan untuk Anthonino.


“Kau harus mengisi perutmu Mommy setiap hari membuatkan kalian sup untuk berjaga-jaga, ketika kau bangun kau bisa langsung mengonsumsinya,” kata Livia sambil menyendok sup dari mangkuk. Terlihat sup itu mengepul pertanda suhunya masih terlalu panas. Livia beberapa kali meniupnya. “Karena kau terlalu lama tertidur jika kau langsung memakan sesuatu yang berat lambungmu bisa terkejut. Ayo buka mulutmu,” kata Livia.


“Mommy, aku bisa makan sendiri.” Anthonino merasa tidak nyaman dengan perlakuan ibu mertuanya yang begitu baik kepadanya.


Livia tertawa kecil. “Tanganmu sakit dan sebelah tanganmu memakai infus. Bagaimana kau bisa makan sendiri? Ayo jangan keras kepala, buka mulutmu,” bujuk Livia seolah ia membujuk anak kecil.


Anthonino diam-diam melirik wajah ibu mertuanya yang merupakan replika istrinya, ia merasakan perasaan de javu. Beberapa Minggu yang lalu ia sakit dan di rawat oleh istrinya, sekarang ia terkapar di atas ranjang pasien dan di rawat oleh ibu mertuanya.


Sialan kau Nameera semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak bersandiwara datang ke tempat tinggal kami dan mengemis perlindungan!


“Maaf untuk apa?”


“Maaf karena aku tidak bisa menjaga putrimu dengan baik,” kata Anthonino.


Livia meletakkan mangkok di tangannya ke atas nakas di samping ranjang pasien kemudian ia mengambil gelas yang berisi air. “Kau mencintainya dengan baik. Jangan khawatir dan jangan berpikir terlalu banyak, sekarang minumlah.” Livia memberi dengan sabar memberi Anthonino minum dari gelas.


Perlakuan baik keluarga istrinya membuat kedua kelopak matanya panas, ia merasa sangat terharu karena keluarga istrinya benar menerimanya apa adanya. Bahkan ketika ia di fitnah oleh Lidya, ayah mertuanya tidak mengucapkan apa-apa. Ayah mertuanya hanya mengatakan berikan Keiko waktu untuk menyendiri, setelah itu bujuk Keiko dengan benar karena seorang wanita pasti ingin dirayu dan dikejar. Ayah mertuanya tidak menanyakan kebenaran dari video dan foto-foto yang beredar dan fitnah yang ditujukan kepadanya.

__ADS_1


Seluruh keluarga Yamada benar-benar berhati baik, mereka ternyata telah bertindak sendiri menyelidiki kebenaran dari video rekaman di lorong kamar hotel tanpa Anthonino meminta.


Setelah menyelesaikan makannya antonim bergegas menagih untuk bertemu dengan istrinya ya sudah tidak sabar lagi untuk menemui istrinya itu Philip akhirnya mengalah ia memanggil seorang perawat untuk menyediakan kursi roda kemudian ia membantu Anthonino untuk turun dari ranjang dan duduk di kursi rodanya. Perawat dengan perlahan mendorong Anthonino menuju ruangan di mana Keiko berada. Samantha yang sedang meletakkan beberapa kantong belanja di meja menghentikan aktivitasnya dan keluar dari ruangan itu menyusul Philip, ia tidak seharusnya berada di sana karena pasti akan ada pembicaraan keluarga.


Melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat tenggorokan Anthonino terasa tercekat. Hatinya hancur berkeping-keping menyaksikan istrinya terbaring di atas ranjang, di sampin ranjang pasien tampak ayah mertuanya sedang duduk sambil menggenggam telapak tangan putri satu-satunya. wajah Keiko tidak pucat, ia tampak segar dan seperti sedang tertidur dengan damai.


Perawat mendorong kursi roda Anthonino hingga kini ia tepat berada di sebelah kursi di mana Naoki duduk. Perawat segera mundur sedikit menjauh sementara Livia menggantikan posisi perawat ia berdiri di belakang kursi roda yang di duduki Anthonino tahap berkata apa-apa. Beberapa saat mereka bertiga terdiam saling tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing hingga Anthonino membuka suaranya, “bagaimanakah keadaan istriku?”


Anthonino, meletakkan telapak tangan putrinya dengan hati-hati. “Istrimu baik-baik saja, kandungannya juga selamat. Tidak ada yang terluka satu pun kau jangan khawatir,” jawab Anthonino sambil sebelah telapak tangannya mengelus kening putrinya.


“Lalu kenapa ia tidak membuka matanya?” Ada sedikit nada emosi terselip di dalam pertanyaan yang di lontarkan Anthonino.


“Istrimu masih tertidur,” jawab Naoki dengan nada tenang. Sangat tenang bahkan bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Anthonino tak mampu menahan air matanya yang mendesak keluar. Bagaimana mungkin istrinya tidur selama itu? Beberapa saat yang lalu ia bahagia hingga terharu karena kasih sayang mertuanya dan sekarang perasaannya berubah menjadi sangat sakit melihat keadaan istrinya. Bukan hanya istrinya, melihat kesedihan ayah mertuanya yang berusaha rapat-rapat di sembunyikan membuat batin Anthonino semakin sakit. Pria itu harus menyaksikan putrinya 'tertidur' begitu lama, sekarang ia tahu rasanya menjadi orang tua yang mengkhawatirkan anaknya.


Rahang Anthonino mengeras, telapak tangannya terkepal. “Tidak akan kulepaskan kau Nameera jika terjadi apa-apa terhadap anak dan istriku,” geramnya.


“N—nameera?” Livia bertanya.


Tubuh Naoki sontak menegang, ia melirik Anthonino sekilas kemudian ia bangkit dari duduknya dengan gerakan sangat tenang. “Ayo beti waktu Nino untuk berdua bersama Keiko,” ucap Naoki sembari meraih telapak tangan istrinya dan membawa istrinya meninggalkan ruangan itu.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️


🌸🍒


__ADS_2