
Setelah menyelesaikan rekaman, pemotretan dan shooting dalam waktu satu minggu, Anthonino mengajak Keiko berjalan jalan menikmati indahnya kota Moscow, namun karena Keiko bukan penggemar sejarah ia lebih memilih datang ke mall GUM,
Mall ini merupakan salah satu tempat favorit bagi kaum jetset Rusia. Jadi akan sangat mudah untuk menemukan brand terkenal di mall ini, sudah pasti brand tersebut merupakan brand kelas atas. Selain tempat berbelanja, tempat ini juga menyediakan cafe, restoran, hingga supermarket yang mempermudah ketika berbelanja. Selain itu keunikan dari mall ini juga bisa Anda lihat dari arsitektur bangunannya di mana sekilas tempat ini mirip dengan museum.
“Nino lepaskan tanganmu, orang-orang akan bergosip,” keluh Keiko karena sedari tadi pria yang bersamanya begitu posesif mengalungkan tangannya di pinggang ramping milik Keiko.
“Tidak kan ada yang berani menggosipkan aku walaupun satu huruf di sini, tidak akan berani ada yang mengunggah foto kita percayalah padaku” kata Anthonino dengan nada sombong.
Mereka mengitari mall tersebut dan terus berburu barang barang mewah, bukan Keiko yang memilih namun Anthonino.
“Mrs. Petrav apa kau masih mau melanjutkan belanja mu ini?” tanya Anthonino sambil menunjuk gerombolan paper bag yang sedang di pegang oleh kedua bodyguard mereka.
“Kau boros sekali, lagi pula aku tidak lama lagi akan pergi ke New York, aku harus tampil di sana.”
“Tapi nanti kau akan tetap pulang ke rumahmu sayang.”
Keiko tersenyum hambar, pulang ke rumah? Memiliki rumah tangga sendiri dan anak-anak, manis sekali sepertinya.
“Kalau begitu ayo kita pulang,” ajak Keiko seraya meraih telapak tangan Anthonino, Anthonino tersenyum simpul. Jantu Anthonino terasa hendak melompat dari rongga dadanya, ia tahu ia telah benar-benar jatuh cinta pada Keiko, dan kali ini rasanya berbeda dengan cintanya dulu pada Isabel.
Sesampainya di kamar utama Keiko terkejut karena kamar kini telah berubah 180 derajat dalam hitungan jam!
“Kapan ini di ubah?” tanya Keiko penuh keheranan.
“Saat kita pergi, aku ingin kau merasa nyaman cintaku.”
“Nino? apa kau memiliki kekuatan sihir?” tanya Keiko lucu.
“Iya” jawab Anthonino, ‘kaulah satu-satunya kekuatanku sekarang’, lanjutnya dalam hati.
“Tapi ku rass kau berlebihan, aku tidak masalah dengan desain kamar sebelumnya,” jawab Keiko sedikit merasa tidak nyaman.
“Kita bisa tidur sambil memandang langit dan bintang bintang, tapi jika kau ingin tertutup kau bisa menutup jendelanya dengan menekan tombol yang ada di remot control” kata Anthonino menjelaskan sambil menekan remot kontrol di tangannya dan benar saja, jendela kaca tersebut tertutup dengan sempurna denga gorden yang sangat mewah “Dan saat salju turun kau akan melihat betapa indahnya salju di Moscow” Lanjutnya
“Terima kasih,” kata Keiko, matanya tampak berbinar indah memandang wajah suaminya.
Anthonino mengelus rambut Keiko penuh kasih sayang.
“Masih ada lagi sayang.”
Pria bermata biru itu menuntun Keiko kesisi lain dari ruangan itu.
“Masih banyak space yang kosong, isi semua dengan barang yang kau inginkan, aku ingin kau mengisi dan menyentuh setiap bagian ruangan di mansion ini sayangku” kata Anthonino ketika mereka memasuki walk in closet baru yang ia rancang khusus untuk Keiko.
__ADS_1
“Nino, kau berlebihan, lagi pula kita akan bercerai.”
“Cintaku bisakah kau tidak lagi mengatakan itu?” Anthonino mendudukkan Keiko di kursi yang berada di dalam walk in closet tersebut, sedangkan ia sendiri menekuk kedua kakinya dan bertumpu dengan lututnya di depan Keiko sambil menggenggam telapak tangan Keiko.
“Untuk saat ini, selama kita bersama aku akan terus berusaha membahagiakanmu, jangan bicarakan perceraian lagi aku tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi.”
“Bagaimana jika aku terjerat padamu karena sikap manismu?”
“Jangan takut, aku tidak akan mengecewakanmu."
“Kau benar benar pria bermulut manis.”
“Benarkah?” Anthonino mengangkat kedua alisnya.
“Ya, kurasa telah banyak yang menjadi korban karena bibir manismu,” Keiko tertawa kecil.
“Apa kau ingin mencicipi bibir manisku?”
“Aku sudah sering mencicipinya.”
“Kali ini berbeda.”
“Benarkah?” tubuh Keiko condong ke bawah, dengan gerakan tangan yang gesit Anthony meraih tengkuk Keiko dan bibir mereka telah bertaut, ciuman mereka panas dan liar seperti biasa. Menuntut dan menginginkan lebih.
Mereka bahkan telah menyatukan tubuh mereka di atas kursi sambil melihat pantulan bayangan mereka sendiri di kaca yang mengelilingi ruangan walk in closet itu, membuat aktivitas itu semakin panas, gerakan-gerakan liar, erangan-erangan sexy keluar dari bibir Keiko dan geraman tertahan dari tenggorokan Anthonino semakin membuat pergulatan itu membara.
Anthonino menendang pintu kamar mandi dan membawa Keiko masuk ke dalam kamar mandi.
Mendudukkan Keiko di atas meja wastafel.
“Aku akan mengisi air.” kata Anthonino.
Menunggu air di bath tube penuh mereka mengisi kegiatan mereka dengan bercumbu dan bermain main, melanjutkan permainan panas babak selanjutnya yang membuat rahim Keiko penuh dengan Cairan hangat dari tubuh suaminya.
“Nino, apa kau memperlakukan semua wanita seperti memperlakukanku?” tanya Keiko ketika mereka berdua berada di dalam bath tube.
“Apa menurutmu begitu?”
Keiko mengangkat kedua bahunya bersamaan.
“Hanya istriku yang berhak mendapatkan perlakuan sebaik ini dariku.” Anthonino mengecup bahu telanjang Keiko dengan bibirnya yang tipis, membuat Keiko sedikit menggeliat.
“Nino, apa menurutmu aku sudah hamil?” tanya Keiko dengan nada murung.
“Apa kau merasa ada yang lain di sini?” tanya Anthonino sambil meraba perut Keiko.
“Entahlah.”
“Aku akan menyuruh Sarah untuk membelikan alat tes kehamilan.”
__ADS_1
“Semakin cepat semakin baik” kata Keiko, ada getir yang hinggap di hatinya.
Kembali Ia merasa takut untuk berpisah dan tak bisa lagi menatap mata indah suaminya, pria ini datang padanya seperti badai yang tiba-tiba menerjang dan menguasai perasaannya.
Benar saja keesokan paginya setelah selesai sarapan Sarah datang menyerahkan setumpuk alat tes kehamilan.
“Apa harus sebanyak ini?” Keiko menggelengkan kepalanya melihat betapa banyaknya alat tes kehamilan yang diberikan oleh Sarah.
“Kau bisa lakukan tes setiap hari sayang.”
“Kau selalu berlebihan” keluh Keiko, ia merasa tak nyaman dengan perlakuan baik suaminya yang menurutnya serba berlebihan.
“Tidak ada yang berlebihan, aku bahagia jika kau hamil, aku akan menjadi seorang ayah,” jawab Anthonino.
“Jika aku hamil kau akan segera bebas.” Keiko tertawa ringan, terdengar seperti mengejek.
Anthonino menatap Keiko dengan tatapan tidak suka, Namun Keiko tidak menanggapinya, ia justru berjalan meninggalkan pria itu menaiki tangga. Tentu saja Anthonino mengikuti langkahnya.
“Bagaimana?” tanya Anthonino ketika Keiko keluar dari kamar mandi.
“Garisnya hanya satu,” jawab Keiko tidak bersemangat.
“Besok kau bisa mencoba lagi,” Anthonino mengulurkan dasinya pada keiko “Tolong pasangkan dasiku sayang,” pintanya.
Keiko dengan hati hati memasangkan dasi untuk Anthonino sambil sedikit berjinjit, Nafasnya begitu dekat di leher Anthonino, tiba-tiba Anthonino merasakan gairahnya bangkit karena nafas Keiko yang begitu dekat menyapu lehernya.
Keiko mundur satu langkah untuk memastikan kerapian dasi yang telah ia pasangkan di leher suaminya.
“Sayang, apa kau sedang menggodaku?” Anthonino meraih pinggang Keiko.
“Aku tidak...” kata Keiko, ia memang tidak menggoda suaminya.
.
Editan by author jangan di ketawain 😊😉
All properti picture from Google.
Keiko by Instagram Dasha taran
Anthonino by Sean O'pry from Google
Tap jempol kalian dan tolong author pengen di juga ikutan lomba vote, heheee.
vote pakai poin bisa, bagi yg belum upgrade appnya silahkan upgrade dulu biar bisa vote 😉☺😙
Terima kasih 😉
__ADS_1