Married With Pilot

Married With Pilot
Isabel 2


__ADS_3

Setelah pemakaman selesai Anthonino datang ke tempat tinggal Isabel tentu saja untuk memberikan dukungan moral sebagai salah satu orang terdekatnya.


Dengan tatapan mata yang sayu dan putus asa Isabel berucap pelan. “Jika ada sesuatu yang terjadi kepadaku di masa depan maukah kau menolongku?”


“Menolongmu?”


“Maukah kau menjaga Lidya?”


Anthonino tidak menjawab pertanyaan Isabel. Saat itu usianya baru delapan belas tahun dan Lidya tahun, ia belum siap untuk menerima sebuah tanggung jawab menjaga seorang gadis yang sedang beranjak dewasa. Apalagi Anthonino bisa di bilang belum memiliki pekerjaan, ia hanya seorang mahasiswa di sebuah Academi.


“Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa kepadamu.” Setidaknya hanya kata-kata dukungan yang dapat Anthonino berikan.


“Tetapi semua tuduhan mengarah kepadaku.”


“Kau tidak melakukannya Isabel, jadi untuk apa kau takut?”


“Aku memang tidak melakukan melakukannya. Tapi aku memegang pisau itu, aku terkejut saat melihat pisau yang tertancap di dada suamiku,” kata Isabel sambil terisak.


“Percayalah, polisi akan membereskan semuanya kau pasti akan bebas. Polisi akan menemukan siapa pembunuhnya yang sebenarnya.”


“Jika aku terbebas Apakah kita maukah kau menikah denganku?” Isabel menatap mata biru Anthonino dengan tatapan penuh harap.


Anthonino terdiam. Sekali lagi usianya saat itu baru delapan belas tahun, ia tidak memiliki rencana menikah secepat itu. Menikahi seorang wanita yang dua belas tahun lebih tua dan memiliki seorang putri yang berusia lima belas tahun. Kedengarannya agak konyol.

__ADS_1


“Kita akan memikirkan nanti, jangan pikirkan itu sekarang.” Anthonino mengelus dagunya.


“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.” Isabel mengungkapkan isi hatinya.


“Aku tahu,” kata Anthonino. Isabel memang telah berulang kali mengatakan mencintainya dan ingin bercerai dari suaminya lalu menikah dengan Anthonino meski sejauh delapan bulan hubungan mereka Anthonino tidak pernah mengiyakan ajakan Isabel untuk menikah.


Beberapa hari kemudian setelah masa berkabung dianggap telah selesai, polisi datang untuk menginterogasi Isabel.


Setelah interogasi selesai Isabel memanggil Anthonino melalui panggilan telepon. Tidak lama setelah itu Anthonino datang menemui Isabel seperti apa yang ia inginkan.


“Polisi mengatakan mereka akan menahanku jika dalam penyelidikan tidak di temukan bukti lain. Semua bukti memberatkanku, pisau dapur yang menancap di dadanya tidak ada jejak sidik jari lain selain milikku.”


Anthonino hanya diam mendengarkan cerita Isabel yang menyedihkan, ia juga tidak tahu siapa pelaku sebenarnya. Ia tidak bisa menyimpulkan begitu saja.


Hening menyeruak beberapa saat, sebelum Anthonino membuka mulutnya untuk menyuarakan pertanyaannya. “Dari mana pisau dapur itu?”


Anthonino berusaha menenangkan Isabel, ia menggenggam jemari tangan Isabel untuk memberikan kekuatan kepada Isabel.


“Tidak ada jejak sidik jari lain dia pisau itu,” kata Isabel di sela isak tangisnya.


“Bersabarlah, polisi akan menemukan pelakunya. Secepatnya.”


“Bukan aku pelakunya, aku benar-benar tidak tahu siapa pelaku sesungguhnya. Sekarang putriku dia kehilangan ayahnya, aku tidak memiliki pekerjaan. Bagaimana mungkin aku membunuh suamiku sendiri itu tidak masuk akal. Setidaknya meskipun aku ingin bercerai darinya saat kami bercerai nanti putriku masih ada yang menanggung hidupnya karena ia memiliki ayah,” kata Isabel.

__ADS_1


Anthonino menghela napasnya yang terasa begitu berat. “Isabel, bisakah kau berkata jujur kepadaku?” Anthonino menatap mata Isabel yang tampak sembab oleh air mata.


“Kau juga tidak percaya kepadaku?” Isabel sedikit menyipitkan matanya, sorot mata yang terpancar dari matanya menyiratkan kekecewaan.


Melihat sorot mata Isabel yang tampak kecewa karena ia meragukan Isabel, Anthonino berkata, “bukan begitu, tetapi percayalah kepadaku meskipun kau yang melakukannya aku tidak akan melaporkan kepada polisi.”


“Mungkin tidak ada yang akan percaya kepadaku di dunia ini. Bahkan kau juga tidak Nino.” Isabel mengembuskan napasnya yang terasa sesak mengimpit dadanya.


“Istirahatlah. Aku akan kembali menemuimu besok.” Anthonino menepuk atas kepala Isabel pelan.


Tetapi sayangnya keesokan paginya saat Anthonino hendak kembali menemui Isabel, keadaan berubah. Tidak ada yang menyangka ternyata yang Anthonino temui di sana adalah warga sipil dan polisi yang berkerumun di halaman depan tempat tinggal Isabel. Isabel telah tiada, ia mengakhiri hidupnya sendiri.


Seminggu kemudian polisi memberikan pernyataan bahwa pembunuh suami Isabel adalah anak kandungnya sendiri. Motifnya pertengkaran karena anak dari mantan istri pertamanya itu menginginkan pembagian warisan.


Saat itu yang Anthonino rasakan hanya penyesalan karena ia adalah orang terdekat Isabel. Tetapi, ia sendiri tidak mempercayai Isabel, ia meragukan Isabel. Dengan kata lain Anthonino merasa ia yang menyebabkan Isabel mengakhiri hidupnya.


Satu-satunya yang ia sesalkan mengapa Isabel tidak bisa menunggu sebentar lagi untuk membuktikan dirinya tidak bersalah ia justru mengambil jalan pintas.


Anthonino sudah cukup menyesali semua itu, ia tidak percaya kepada Isabel dan ia hampir saja melakukan kesalahan kedua. Ia hampir tidak mempercayai perkataan Keiko, istrinya itu tidak mungkin berbohong. Sejauh yang Anthonino kenal Keiko adalah gadis yang murni. Sekarang Anthonino justru meragukan Innesa.


Apa ibunya selalu bertingkah begitu polos di depannya benarkah Innesa memakai kedok di depannya?


Kepala Anthonino terasa berdenyut memikirkan Innesa wanita yang membesarkannya, pertama gaun, kemudian teh. Ketika di serahkan kemasan Teh itu dalam keadaan tersegel rapi, dari mana ia keracunan? alergi atau apa sebutannya! Anthonino memutar otaknya mencari jalan untuk menyelidiki Innesa.

__ADS_1


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️


JANGAN LUPA RAMAIKAN JUGA NOVELKU YANG BERJUDUL LAURA ❤️❤️❤️


__ADS_2