
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
“Dari mana kau tahu aku di sini?” tanya Samantha sambil menatap Philip dengan tatapan tajam. Mereka berdua berada di dalam tempat tinggal Philip setelah acara yang di adakan oleh Claudia berakhir.
Philip justru menyeret Samantha ke dalam kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Samantha yang terdengar berapi-api.
“Philip, lepaskan.” Samantha meronta berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang di cengkeram oleh Philip.
“Aku tidak akan berbuat kurang ajar kepadamu--kecuali kau menginginkan,” seringai Philip terlihat kilatan jail di matanya.
Samantha tampak memberengut. “Jangan macam-macam,” ucapnya dengan nada khawatir.
Philip tersenyum, sebelah tangannya membuka lemari lalu menarik sebuah laci. Beberapa detik kemudian sebuah benda berupa besi melingkar di pergelangan tangan Samantha dan Philip. Philip menyatukan sebelah pergelangan tangannya dan sebelah pergelangan tangan Samantha.
Samantha terkesiap melihat tangan kanannya yang bersatu dengan tangan kiri Philip. Bersatu dalam belenggu borgol. “A-apa yang kau lakukan?”
“Memborgolmu,” jawab Philip setengah tertawa geli.
Samantha membesarkan bola matanya. “Itu sudah sangat jelas!”
Philip menaikkan sebelah alisnya. “Sudah sangat jelas kenapa bertanya lagi?”
“Philip lepaskan ini!” ucap Samantha dengan nada membentak.
__ADS_1
Ia berusaha menarik tangannya namun jelas usahanya sia-sia seperti menjaring udara.
Philip tidak menghiraukan semua bentuk protes yang di layangkan oleh Samantha. Dengan tenang ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Samantha? Mau tidak mau mengikuti Philip.
“Apa yang akan kau lakukan?” kembali Samantha bertanya dengan nada penuh kepanikan.
“Buang air,” jawab Philip tanpa rasa sungkan.
Samantha kembali membelalakkan matanya. “Kau gila? Kau tidak tahu malu,” katanya.
“Kenapa harus malu?” Philip menaikkan sebelah alisnya.
Wajah Samantha memerah saat Philip membuka kancing celana yang di kenakannya. Mengeluarkan bagian tubuhnya lalu menunaikan hajatnya membuang air kecil.
Samantha terkesiap karena sejak tadi ia sama sekali tidak memalingkan wajahnya tetapi justru menyaksikan semua yang di lakukan oleh Philip.
Betapa bodohnya.
“Kau tidak tahu malu!” Bentak Samantha kesal menutupi rasa malu yang membakar wajahnya. Ia tahu wajahnya pasti merah padam karena ia merasakan panas di wajahnya.
Philip terkekeh sambil dengan santai mengancingkan kembali celananya. Benar-benar sial! Bagaimana tidak? Tangan Samantha juga berdekatan dengan benda di antara kedua paha Philip. Benda yang pernah ia sentuh.
“Gosok gigimu,” kata Philip sambil memberikan sebuah sikat gigi yang masih baru kepada Samantha.
__ADS_1
Samantha menerimanya dengan gerakan kasar. “Kuharap kau melepaskan ini,” katanya.
Philip membuka penutup pasta gigi lalu memberikan kode kepada Samantha agar ia mendekatkan sikat giginya. Samantha dengan patuh mengulurkannya lalu Philip menekan botol pasta gigi hingga isinya keluar dan menempelkannya di atas sikat gigi Samantha. “Kita bisa melakukan semua aktivitas bersama-sama, bukankah ini menyenangkan?”
Samantha mendengus lalu menjejalkan sikat gigi ke dalam mulutnya. Ia susah payah menggosok giginya karena ia bukanlah orang yang bisa melakukan pekerjaan menggunakan tangan kirinya. Berulang kali ia mendengus karena kesal hingga mereka berdua kembali ke dalam kamar.
“Apa kau ingin buang air kecil juga? Jangan di tahan.” Philip bertanya dengan seringai penuh kemenangan di wajahnya membuat Samantha benar-benar merasa jengkel hingga ingin menenggelamkan Philip ke dalam lautan.
“Aku salah menilaimu, kukira kau pria waras ternyata kau seperti seorang psikopat yang tidak segan-segan mempermainkan korbannya sebelum membunuhnya,” ucap Samantha dengan nada kesal.
Bibir Philip mengulas senyum tipis. “Terus saja mengataiku, pada akhirnya kau juga akan tidur di pelukanku malam ini.”
Samantha memutar bola matanya. Ia menghempaskan bokongnya di atas ranjang dengan perasaan frustrasi. Tidak perlu di perjelas lagi pasti ia akan tidur di pelukan Philip karena jarak mereka hanya terpisah beberapa centimeter.
“Aku ingin mengganti pakaianku,” ucap Samantha. Ia benar-benar merasa tubuhnya lengket, ia ingin mandi sebelum pergi tidur. Yah, minimal mengganti pakaian.
“Kota hanya bisa mengganti pakaian bawah kita,” jawab Philip. Masuk akal memang. “Kecuali kau rela pakaianmu itu aku gunting. Dan setelahnya kita tidak bisa mengenakan apa pun... di tubuh kita."
Samantha mendengus kembali. Ia tidak bisa lagi berpikir banyak, yang jelas semenjak ia di diagnosa sedang mengandung, matanya tidak bisa di ajak kompromi. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi karena kantuk merayapi kesadarannya.
Ia menguap lebar hingga matanya berair. "Aku mengantuk," katanya dengan nada memelas.
Tap jempol dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar kalian ❤️
__ADS_1