Married With Pilot

Married With Pilot
Perjanjian ambigu


__ADS_3

Keiko masih terengah engah dan meletakkan kepalanya di antara ceruk leher Anthonino, nafasnya memburu.


“Akan ku serahkan kesucianku padamu, tapi aku memiliki syarat,” kata Keiko sambil mengatur nafasnya


“Katakan.”


“Aku ingin anak darimu.”


“Baiklah.”


“Apa??????” Keiko justru terkejut dengan jawaban Anthonino yang spontan.


Bukan hanya terkejut sangat terkejut!!! Seribu kali terkejut.


“Kau ingin anak dariku bukan? Aku akan memberikanmu anak dengan senang hati, bahkan tidak hanya satu, 10 pun aku akan terus membuatkan.”


“Kau gila? Berapa banyak anakmu di luar sana?” Keiko menatap wajah Anthonino dengan tatapan tajam seperti belati.


“Aku belum menikah, aku belum pernah membiarkan benihku tumbuh,” kata Anthonino geli.


“Baiklah ayo kita membuat kesepakatan, setelah kesepakatan kita terjalin aku akan menyerahkan padamu,” kata Keiko membuka negosiasi.


“Aku ingin sekarang,” kata Anthonino tidak sabar, sejak tadi malam bagian penting dari tubuhnya bahkan tidak beristirahat menginginkan datang ke dalam wilayah yang masih belum terjamah milik Keiko.


“Kau?” Keiko tidak menyangka pria ini begitu tidak sabaran.


“Katakan apa kesepakatannya?”


“Setelah aku berhasil hamil, anggap tak ada apa apa lagi di antara kita,” kata Keiko dengan ekspresi penuh keyakinan yang terpancar di wajah cantiknya


“Ayo menikah,” kata Anthonino seolah kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


Tentu saja Keiko kembali terkejut.


“Apa kau gila? Aku tidak ingin menikah? Kau pasti tahu aku baru saja akan menikah dan gagal sebelum aku naik altar, kau jangan bercanda!” kata Keiko sambil tertawa pahit.


“Aku tidak akan memberikanmu anak tanpa pernikahan.”


“Tujuanku hanya ingin memiliki anak, aku tidak peduli kau siapa, aku tidak akan meminta apa pun darimu, keluargaku cukup kaya, aku tidak akan menuntut,” Keiko mencoba menjelaskan.


Anthonino memandang wajah gadis di depannya.


“Ayo menikah, hingga anak kita lahir,” kata Anthonino.


Keiko justru tertawa sumbang.


“Setelah menikah jika kau ingin kita bisa menjalani hidup masing masing, percayalah aku hanya tidak mau anak yang kau lahirkan menjadi anak di luar nikah,” kata Anthonino sambil mata birunya menatap wajjah Keiko dengan tatapan penuh kasih sayang.


“Kau tidak berhak atas dia di masa depan.”


“Hhhmmmm,”


“Oke kalau begitu olah perjanjiannya,” kata Keiko, sekarang ia akan segera memiliki bayi yang lucu, dan bonusnya ayah dari anaknya adalah pria yang cukup tampan, batin Keiko sangat senang.


Secepat kilat pria itu mengetik semua poin dalam perjanjian tanpa menurunkan Keiko dari pangkuannya.

__ADS_1


Sudut bibirnya menyunggingkan seringai licik.


Pihak 1 : Anthonino Mikhayla Petrav


Pihak 2 : Yamada Keiko


Pihak 1 menikahi pihak 2 hingga memiliki anak.


Kedua belah pihak merahasiakan isi perjanjian tersebut di atas.


Hanya itu isi perjanjian itu. Benar benar padat dan singkat, namun ambigu.


Hanya butuh beberapa menit setelah perjanjian itu rapi di ketik mereka masing masing menandatangani perjanjian itu, Keiko bahkan tidak membaca dengan teliti isi perjanjian singkat nan ambigu itu, ia sangat yakin pria yang memangkunya tidak menginginkan anak darinya, pria ini pasti hanya ingin tubuhnya.


“Kau sudah menandatanganinya, maka tidak ada jalan untuk kembali,” kata Anthonino pada Keiko dengan tatapan penuh kemenangan.


“Aku tahu”


“Aku sudah menyiapkan segalanya, sekarang kita ke biro pencatatan sipil.”


“Haruskah mendaftarkan resmi? semua orang akan tahu, aku tidak mau,” tolak Keiko.


“Dengan kuasa keluarga Petrav tidak akan ada yang tahu kecuali aku berbicara sendiri, aku tidak berani mengucapkan sumpah di gereja, aku tidak berani berbohong di hadapan Tuhan,” kata Anthonino, itu adalah murni dari dalam hatinya.


“Baiklah, bagaimana kedua asistenku?” Keiko menatap lurus wajah pria asing di depannya.


“Sekretarisku akan mengurus mereka,” jawabnya.


"Tapi mereka harus bersamaku," gumam Keiko namun masih terdengar oleh Anthonino.


"Kau aman bersamaku, calon istriku," seringai Anthonino.


Mereka tiba di biro pencatatan sipil dan mendapatkan sertifikat pernikahan mereka dengan mudah.


Hanya memerlukan foto mereka kemudian tanda tangan dan semuanya berubah. Keiko kini menjadi serang istri dari pria yang baru dua kali ia temui.


Mereka berdua tiba di Sebuah mansion besar, dengan puluhan pelayan, dan mereka semua memanggil Keiko nyonya????


What’s joke???? Bukankah ini hanya pernikahan rahasia???


“Aku tidak mau di panggil nyonya, itu terlalu tua,” protes Keiko.


“Baiklah” Anthonino segera membuat pengumumn untuk memanggil Keiko dengan panggilan nona.


Keiko berdiri di dekat jendela kamar, kamar yang di dominasi warna putih dan coklat hampir senada dengan kamar di pesawat pribadi yang ia tiduri sepanjang perjalanan dari London menuju Moscow , memandang hamparan rumput hijau yang luas di halaman mansion itu.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Anthonino sambil memeluk Keiko dari belakang.


“Kau berlebihan, kita hanya menikah sementara tidak perlu membawaku kesini,” protes Keiko.


“Tapi kau adalah istriku yang sah, yang diakui di mata hukum Rusia,” jawab Anthonino.


Keiko hanya berdecih.


“Sayang kapan masa periodemu?” Anthonino bertanya.

__ADS_1


“Kenapa bertanya hal itu?” Keiko justru balik bertanya.


“Aku harus memastikan masa suburmu.”


“Itu baru selesai beberapa hari yang lalu.”


Tangan Anthonino mengetik sebuah pesan di atas layar ponselnya dan secepat kilat mengirimnya.


“Ayo kita makan dulu, pelayan sudah menyajikan makanan kesukaanmu.”


“Apa kau tahu makanan kesukaanku?”


“Tentu saja, aku adalah suami yang baik mustahil aku tidak tau makanan kesukaan istrinya,” jawab Anthonino sambil membawa istrinya keluar dari kamar menuju ruang makan dan benar saja semua makanan kesukaannya telah terhidang dengan sempurna


“Kau menyelidiki ku?” tanya Keiko saat melihat semua makanan kesuakaannya ada di meja itu, seluruh makanan di atas meja itu adalah makanan laut khas jepang!!!


“Tentu saja,” jawab Anthony dengan wajah tampak begitu berbinar.


Perasaan Keiko menghangat, bahkan ia belum pernah di perlakukan sebaik ini oleh pria mana pun bahkan Philip sekalipun. Mereka makan dengan tenang tidak banyak percakapan di antara mereka, hanya saja Keiko beberapa kali melirik pria yang makan dengan anggun di sampingnya.


Setelah selesai makan Keiko membersihkan dirinya, mengganti pakaiannya dengan gaun tidur yang telah di siapkan, begitu banyak gaun tidur baru yang tersusun rapi di walk in closet.


“Aku baru mempersiapkan ini untukmu, besok pergilah berbelanja untuk mengisi semua walk in closet ini,” kata Anthonino.


“Aku hanya beberapa hari di sini, aku tidak perlu membeli pakaian, bukankah kita belum melanjutkan pembicaraan bisnis yang sesungguhnya?” tanya Keiko saat ia teringat apa tujuan utama datang ke Moscow.


Tak menghiraukan kata kata Keiko, Anthonino justru meraba pelan bokong keiko dan meremasnya, lalu membalikkan tubuh Keiko menghadap kepadanya dan mencium bibirnya dengan rakus.


Baru saja ciuman panas itu di mulai ketukan di pintu membubarkan ritual yang baru akan di mulai, Anthonino melepaskan tubuh keiko untuk membukakan pintu kamarnya.


Ternyata seorang pria berseragam dokter datang.


“Sayang kemarilah,” kata Anthonino memanggil Keiko untuk mendekat padanya.


Keiko mendekati Anthonino.


“Kenalkan ini istriku, dan dia dokter Zacky, teman sekaligus dokter pribadiku,” kata Anthonino memperkanalkn Keiko pada pria yang berseragam dokter tersebut.


Mereka berdua berjabat tangan dengan ramah dan menyebutkan nama masing masing.


“Begini nona Keiko, aku di sini untuk memberi kalian vaksin,” Zacky mencoba menjelaskan untuk apa ia datang.


“Vaksin? Tapi aku tidak sakit,” jawab Keiko.


“Betul, vaksin bukan untuk orang sakit.”


“Oh ya? Vaksin apa?"


“Biasanya orang sebelum menikah kedua mempelai di suntik vaksin dulu agar keturunan mereka sehat”


“Benarkah? Tapi Crystal baik baik saja,” gumannya. “Bagaimana jika aku bertanya pada kakakku dulu? Mereka juga dokter,” Keiko tak ingin membiarkan orang memberikan suntikan padanya begitu saja, kakak pertamanya adalah seorang dokter sekaligus direktur utama sebuah rumah sakit ternama di Tokyo, bahkan kakak iparnya juga seorang dokter.


“Oh tentu, silakan saja,” kata dokter Zacky.


Wajah Anthonino seketika menegang.

__ADS_1


Hayo loh 😉


Jangan lupa tap jempol kalian ya 😊😊😊😊


__ADS_2