
“Sarah....” Keiko memanggil asistennya dengan suara pelan, ia juga beberapa kali mengerjapkan matanya.
“Ada apa?”
Keiko menggeleng, matanya menatap Sarah dengan mengisyaratkan keraguan yang dalam.
“Ada apa?” sekali lagi Sarah bertanya.
“Tidak. Aku sepertinya salah lihat.”
Keiko semula hendak mengatakan melihat Innesa ibu mertuanya yang hendak masuk ke dalam sebuah kamar hotel yang kebetulan berjarak beberapa kamar dengan kamar yang ditempati oleh mereka. Keiko melihat Innesa bersama dokter yang merawat ayah mertuanya bergandengan tangan. Tetapi, sadar akan kekurangan dalam dirinya Keiko tidak berani memastikan penglihatannya. Lagi pula ia hanya beberapa kali bertemu dengan dokter yang merawat Feliks, ia khawatir pengelihatannya salah.
Semenjak mereka berada di Moscow, secara rutin Anthonino selalu mengajak Keiko untuk menjenguk ayahnya dan entah bagaimana mereka berdua meski datang ke mansion besar yang di tinggal Innesa tetapi mereka tak pernah bersua. Keiko tidak pernah menanyakan kepada Anthonino di mana Innesa begitu juga Anthonino yang tidak berusaha mempertemukan Keiko dengan wanita yang di anggap sebagai ibunya itu.
Selama Keiko tinggal di Moscow, dalam beberapa Minggu ia telah mendapatkan beberapa job yang berada di luar perkiraan bahkan sama sekali tidak masuk dalam perkiraan. Beberapa brand lokal menginginkan Keiko menjadi model untuk produk mereka dan suaminya tidak melarang asalkan jadwal di tentukan oleh suaminya yang posesif itu. Keiko menuruti apa kata suaminya yang sekarang bertindak seolah berperan sebagai manajernya.
Kebetulan hari itu Keiko baru saja usai menjalani Shooting untuk kebutuhan iklan sebuah produk kecantikan dan pengambilan gambar di lakukan di hotel yang cukup ternama di Moscow.
“Ada yang mengganggu pikiranmu Kei?” Lelya yang selalu peka terhadap ekspresi Keiko bertanya dengan hati-hati saat mereka berada di dalam mobil menuju tempat tinggal mereka.
Ragu-ragu Keiko menatap Lelya. “Aku melihat seseorang saat kita keluar dari kamar hotel tadi tapi aku tidak yakin,” ucapnya.
“Siapa?”
Keiko mengangkat kedua bahunya bersamaan.
“Jangan kau pikirkan,” kata Lelya.
“Apa kau ingin memastikan?” Sarah yang sedari tadi terganggu dengan gelagat Keiko akhirnya bermaksud mengakhiri rasa penasaran yang merasuki Keiko.
Keiko yang tersiksa dengan rasa penasaran mengangguk dengan cepat.
“Aku mengerti.” Sarah mengecek waktu di jam tangannya kemudian ia mengambil ponselnya.
__ADS_1
****
Sore harinya Anthonino kembali ke tempat tinggalnya ia mendapati istrinya baru saja menyelesaikan kursus bahasa Rusianya. Sebenarnya bukan hanya Keiko tetapi Lelya, Sarah dan Arima. Mereka berempat menjalani kursus bahasa Rusia.
“Bagaimana kursus bahasamu hari ini, cintaku?” Anthonino meraih pinggang Keiko dengan gerakan lembut.
“Semua berjalan dengan baik. Bagaimana pekerjaanmu?” Keiko tersenyum manis, ia melingkarkan lengannya di pinggang suaminya.
“Nice. Pekerjaanku baik-baik saja,” jawab Anthonino sambil mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya kemudian beralih ke bibirnya. Melumatnya penuh perasaan rindu.
“Kau pulang lebih awal lihat aku belum berdandan untuk menyambutmu,” kata Keiko setelah ciuman singkat mereka terlepas, ia sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah suaminya.
Keiko memang biasa menyambut Anthonino dengan penampilan yang manis agar menyenangkan untuk dipandang oleh suaminya, ibunya memberinya wejangan panjang lebar sebelum mereka pergi berbulan madu. Kata ibunya berpenampilan menarik di depan suaminya adalah wajib. Terkadang ibunya yang menyebalkan itu ada benarnya juga.
Anthonino mendekatkan kembali wajahnya kepada Keiko lalu mematuk bibir Keiko. “Bagaimanapun penampilanmu aku tidak peduli, aku sudah tersihir dengan kecantikanmu. Cintaku,” ucap Anthonino. Tatapan matanya itu membuat menatap wajah Keiko.
“Jadi kau hanya menyukai wajahku?” Keiko bertanya dengan nada galak.
“Kau sangat pandai berkata-kata manis,” kata Keiko yang kini wajahnya tampak merah merona membuat Anthonino merasa istrinya itu sangat menggemaskan.
Anthonino menyeringai sambil mengecup pipi sebelah pipi Keiko kemudian jemarinya melonggarkan dasi yang mencekik lehernya dan melepaskan sebelah lengannya yang masih melingkar di pinggang Keiko.
“Oh ya malam ini kita makan di luar, katakan pada Sarah untuk menyiapkan gaunmu,” ucap Anthonino sambil melepaskan dasi dan jas yang di pakainya di bantu oleh Keiko.
“Ada acara apa?” Keiko meletakkan jas dan dasi yang berada di tangannya ke dalam keranjang pakaian kotor.
“Tidak formal, hanya saja Gustavo kebetulan ada di kota ini. Ia ingin bertemu kita,” jawab Anthonino sambil menggulung lengan kemejanya hingga memperlihatkan lengannya yang berotot.
“Oh, baiklah.”
“Tetapi sebelum bertemu Gustavo aku ingin kita mengunjungi papa terlebih dahulu karena sudah dua hari aku tidak mengunjungi beliau,” kata Anthonino sambil menghempaskan bokongnya di atas sofa yang berada di dalam kamar tidur mereka.
“Baiklah, aku juga merindukan papa.” Tiba-tiba terbersit dalam ingatan Keiko tentang Innesa dan dokter yang merawat ayah mertuanya. Dengan hati-hati Keiko bertanya, “selama kita kembali ke Moscow aku belum pernah bertemu dengan mama. Bagaimana kabarnya?”
__ADS_1
Anthonino menatap wajah istrinya dengan tatapan tidak yakin karena Keiko menanyakan Innesa. “Mama dia mengatakan ada urusan sedikit dengan keluarganya, Mama sedang tidak berada di kota ini.”
Menghadiri acara pernikahan Anthonino yang konon adalah anaknya tidak bisa tetapi bisa pergi untuk urusan lain? Logika macam apa? Innesa juga mengatakan tidak berada di kota ini? Tetapi aku sudah memastikan penglihatan melalui bantuan Kenzo dan aku tidak salah.
Pikiran Keiko mulai menerawang, ia mulai berprasangka buruk terhadap ibu mertuanya.
“Oh tidak ada di Moscow,” gumam Keiko lirih.
“Ada apa cintaku? Apa kau ingin menemuinya?” Anthonino menatap wajah Keiko dengan tetapan semakin tidak yakin, bahkan nada suaranya ketika bertanya juga terdengar ragu-ragu.
Benar saja wajah Keiko tampak masam seketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Anthonino. Sadar telah melakukan kesalahan dengan pertanyaannya Anthonino meraih telapak tangan Keiko dan menggenggamnya.
Ia tidak ingin membuat jarak apa pun dengan istrinya, apa lagi karena Innesa.
“Aku memang tidak ingin menemukanmu dengan Mama. Aku tidak ingin kalian berselisih paham kembali. Jadi mulai sekarang jangan pikirkan lagi apa pun perkataannya,” ucap Anthonino dengan nada lembut.
Keiko mengangguk pelan, sejujurnya ia merasa tidak nyaman karena hubungannya dengan Innesa yang tidak baik. “Apa aku membuat hubunganmu dengan Mama menjadi tidak baik?”
“Dia bukan ibu kandungku, kau tidak berkewajiban berbakti kepadanya. Cukup kau berbakti kepadaku, suamimu.” Anthonino mendaratkan sebuah kecupan manis di punggung telapak tangan Keiko membuat wajah Keiko kembali merona.
“Kau sangat menggemaskan sayangku, bolehkah aku memakanmu sekarang?” Anthonino menaikkan sebelah alisnya, tatapan matanya menggoda Keiko.
“Kau sangat cabul,” kata Keiko sambil melepaskan telapak tangannya dari genggaman suaminya dan berlari menuju kamar mandi.
“Tunggu apa lagi?” Keiko sedikit berteriak, kepalnya tampak menyembul dari pintu kamar mandi.
Anthonino menyeringai senang karena istrinya yang menggemaskan mengajaknya 'mandi' bersama.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
JANGAN LUPA RAMAIKAN JUGA KARYAKU YANG BERJUDUL LAURA ❤️
__ADS_1