
TAP JEMPOL KALIAN SEBELUM MEMBACA PLISH!
Satu Minggu setelah Keiko terbangun dari tidurnya akhirnya ia diperbolehkan kembali setelah melalui berbagai macam tahapan pemeriksaan. Bukan hanya keadaan tubuhnya tetapi janin yang ada di dalam kandungannya juga di pantai secara ketat. Sementara keadaan Anthonino juga telah semakin membaik, ia mulai bisa melangkahkan kakinya meskipun masih memerlukan bantuan tongkat agar tulangnya kakinya tidak sepenuhnya menumpu berat badannya.
Sementara Livia dan Naoki memutuskan untuk tinggal di Moscow, tentu saja untuk mengawasi Keiko dan Anthonino. Naoki juga masih memegang sementar, ia tidak mungkin meninggalkan Moscow mengingat Keiko sedang mengandung cucu pertamanya, sementara menantunya masih tidak bisa berjalan dengan benar.
“Cintaku apakah yang dimakan sesuatu?” Anthonino berdiri di samping Keiko yang sedang duduk di kursi ruang makan.
“Aku tidak lapar,” jawab Keiko sambil membaca tulisan di layar iPadnya.
“Kau tidak mungkin tidak lapar, kau pasti lapar. Apa kau ingin kau memasakkan sesuatu untukmu? Katakan cintaku, apa yang ingin kau makan.”
Ini bukan kali pertama suaminya begitu cerewet dan terus menempel di tubuhnya seperti seekor gurita menempelkan tentakelnya. Keiko meletakkan iPad di tangannya kemudian menatap suaminya dengan tatapan malas. “Tapi aku sungguh tidak lapar,” katanya.
“Ayolah, katakan kau ingin makan sesuatu.” Anthonino masih saja mendesak Keiko.
Merasa suaminya semakin menyebalkan Keiko tersenyum mengejek berkata, “Aku rasa kepalamu benar-benar terbentur.”
“Kau benar, kita terbentur berdua bukan?”
__ADS_1
“Tetapi aku baik-baik saja aku tidak menjadi aneh,” jawab Keiko dengan nada geli.
“Cintaku, aku hanya takut bayi kita kelaparan, kau harus makan sesuatu.” Anthonino menunduk dan menciumi rambut istrinya.
“Jika dia lapar ia bisa saja memanggilku,” kata Keiko sambil mengelus perutnya yang masih saja sedikit rata meski tidak serata dulu.
“Apa kau ingin memakan masalahku?” Anthonino benar-benar ingin memasakan untuk istrinya, di samping ia takut janin yang berada di dalam kandungan istrinya itu kelaparan ia heran mengapa istrinya tidak mengalami mengidam seperti kebanyakan ibu hamil yang ia baca di internet.
Keiko menggelengkan kepalanya. “Sejak kapan kau jadi tukang masak?”
“Aku takut kalian kelaparan,” kata Anthonino lagi.
“Dia tidak lapar,” kata Keiko.
Keiko menatap suaminya dengan tatapan semakin kesal. “Kau tahu ini jam berapa? Kita baru saja sarapan dua jam yang lalu, kau menanyaiku untuk makan malam. Kau benar-benar konyol dan kau terus saja tidak mengizinkan aku menjauh dari ruang makan seolah-olah kehamilanku ini seperti seorang yang kelaparan, kau akan membuat tubuh gemuk,” katanya.
“Memang seharusnya wanita hamil itu menjadi gemuk, cintaku.”
“Dari mana kau tahu?”
__ADS_1
“Selama kau tidur aku membaca artikel tentang wanita hamil dan setiap hari aku menghafal kan dongeng untuk anak-anak apa kau tidak mendengar saat aku mendongengkan cerita anak-anak di sampingmu?” wajah Anthonino tampak begitu serius saat mengucapkan kalimatnya membuat Keiko menyemburkan tawanya.
“Ternyata kau sangat konyol.” Keiko tertawa geli. “Bagaimana jika aku memainkan sebuah lagu untukmu? Aku rindu bermain piano.”
“Ah, ide bagus. Baiklah, ayo kita bermain piano bersama.” Anthonino mengulurkan tangannya yang di sambut hangat oleh Keiko.
Dua sejoli itu berjalan beriringan menuju tempat di mana piano di rumah itu berada kemudian mereka berdua mainkan beberapa lagu romantis dengan serasi meskipun ada beberapa bagian yang salah dari permainan nada yang di ciptakan oleh Anthonino. Tetapi, sama sekali tidak mengganggu hingga mereka berhasil menyelesaikan seluruhnya. Setelah permainan piano mereka berdua masih duduk dengan nyaman di kursi piano itu kemudian Keiko bertanya kepada Anthonino. “Sebenar telah lama aku ingin menanyakan hal ini.”
“Apa itu?”
“Dari mana kau belajar bermain piano?”
Anthonino menyapukan bibirnya di kening Keiko.
“Ketika aku kecil Papaku sering mengadakan pesta dan perjamuan. Tidak terhitung berapa puluh kali Papa mengundang Granddad untuk mengisi acara perjamuan yang di selenggarakan Aeroflot. Papa selalu membanggakan Granddad karena mereka sama-sama berasal dari Rusia. Kemudian diam-diam aku ingin sekali seperti master Edward, aku mengikuti ekstrakurikuler di sekolah belajar piano. Aku ingin menjadi seorang pianis tetapi Innesa tidak mengizinkanku, ia berkata Papa akan marah jika aku bermain piano. Aku harus menjadi seorang pengusaha bukan pemain piano. Kau tahu di masa lalu aku selalu terhasut olehnya aku mendengarkan apa pun yang dikatakan Innesa,” ujar Anthonino panjang lebar.
“Sekarang karena aku telah memiliki seorang istri pianis terlebih dia adalah cucu master Edward aku merasa sangat bersyukur, cita-cita aku untuk menjadi seorang pianis itu sudah tercapai, itu sangat cukup.” Anthoni kembali menyapukan bibirnya di kening Keiko.
Mendengar apa yang diucapkan dituturkan oleh Anthonino membuat wajah Keiko tampak merah merona, di dunia ini begitu banyak keajaiban dan kebetulan yang indah yang terjadi di dalam hidupnya apalagi semenjak ia tahu bahwa di dalam rahimnya telah tersemai benih cinta mereka debaran detak jantungnya semakin tidak beraturan, seolah jantungnya semakin meronta-ronta tiap kali ia menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
“Katakan kepadaku bagaimana kau penyusup di dalam mansion Granddadku? Tiba-tiba kau juga akrab dengannya kau tahu saat itu aku sangat terkejut,” kata Keiko sambil menggeser tubuhnya menghadap suaminya.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️