
“Hanya itu?” Keiko mengerutkan keningnya.
“Ya. Hanya itu. Aku takut ia menghasutmu dan kau membenciku," jawab Anthonino dengan nada datar. rahangnya tampak sedikit mengeras.
“Aku tidak semudah itu terhasut,” jawab Keiko dengan nada kesal, matanya menyorot tajam ke arah mata suaminya.
“Cintaku,” gumam Anthonino sambil mencoba meraih telapak tangan Keiko, kali ini Keiko tidak menolak. Ia membiarkan suaminya meraih telapak tangannya lalu mengelus dengan lembut menggunakan ibu jarinya. “Maafkan aku. Andai saja aku tahu kau akan menjadi milikku, aku tidak akan mengencani Nameera maupun wanita lain. Aku akan menjadikanmu sebagai cinta pertamaku tapi aku tidak tahu bahwa takdir akan seindah ini,” ucap Anthonino sambil merengkuh Keiko ke dalam pelukannya kemudian membawa istrinya duduk di sofa yang berada di dalam kamar tidur mereka.
“Aku benci kenyataan bahwa Nameera adalah mantan teman kencanmu,” gumam Keiko lirih. Ia meletakkan wajahnya di ceruk leher Anthonino seolah sedang menikmati aroma suaminya. Meski ia sadar itu hanya sebuah masa lalu namun tetap saja perasaannya terasa terpotong setiap kali mengingat bagaimana kulit lembut suaminya di sentuh Nameera, bagaimana Nameera bersandar di dada suaminya yang bidang, bagaimana Nameera meraba perut Anthonino yang berotot dan bagaimana Nameera menciumi bibir indah suaminya kemudian menyerang di bawah tatapan mata birunya. Semua bayangan itu membuat Keiko frustrasi. Ia merasa cemburu karena Nameera pernah menikmati tubuh suaminya.
“Maafkan aku cintaku, aku tidak bisa menghapus masa laluku yang kelam.” Anthonino membelai rambut istrinya dengan gerakan penuh kasih sayang seolah-olah ia sedang mencurahkan seluruh kasih sayangnya di sana.
Keiko mendongakkan wajahnya menatap Anthonino dengan sorot mata yang begitu sayu seolah-olah mengisyaratkan ketakutan yang dalam. Tatapan mata berwarna coklat yang penuh kekhawatiran itu benar-benar membuat Anthonino merasa sedang dalam lingkaran api neraka. Emosi di dalam dadanya bergemuruh hebat mengingat ternyata Nameera tidak main-main dengan ucapannya dan berarti apa yang diucapkan Philip bukan gertakan semata. Ia memang harus waspada pada terhadap Nameera yang mulai melakukan serangan kepadanya.
“Cintaku, aku sangat takut kehilanganmu. Aku ingin menjaga hubungan kita sebaik-baiknya, itulah sebabnya aku memintamu untuk tidak bertemu dengan Nameera sendiri.”
__ADS_1
Setelah pertemuan yang tidak di sengaja di restoran beberapa hari yang lalu, Anthonino langsung memperingatkan Keiko untuk tidak pergi berbelanja maupun ke salon bersama Nameera. Saat itu Keiko langsung mengiyakan karena suaminya telah membuatnya lelah setelah berbakti di bawah kuasanya.
“Aku tidak sengaja bertemu dengannya dan ia bersama Mama Innesa,” kata Keiko lirih. “Setidaknya bisakah kau bertanya bagaimana ceritanya aku bisa bertemu Nameera bukan langsung marah seperti itu.”
“Cintaku....” Anthonino membawa jemari Keiko mendekat ke bibirnya lalu mengecupnya dengan lembut. “Maafkan aku, aku terlalu khawatir,” ucapnya.
“Aku tidak tahu sepertinya hubungan kalian di masa lalu, awalnya aku tidak khawatir. Tetapi, sekarang berbeda. Aku tidak ingin sejarah kelam yang di alami Mommy terulang.” Keiko menyuarakan ketakutan yang ada di dalam benaknya dengan suara yang lirih.
“Tidak ada hubungan apa pun antara aku dan Nameera kami hanya teman kencan tidak lebih bahkan tidak pernah ada pembicaraan apa pun,” kata Anthonino mengatakan yang sebenarnya kepada Keiko. Ia berharap Keiko percaya ucapannya.
“Aku tidak akan mentoleransi jika ada perselingkuhan dalam rumah tangga kita, Mommy pernah mengalami hal buruk seperti itu. Aku yakin bukan hal mudah untuk melalui semua itu apalagi Mommy saat itu memiliki dua orang putra. Mommy sanggup menjalaninya aku belum tentu bisa setegar Mommy karena aku berbeda dengan Mommy,” kata Keiko sambil menatap Anthonino dengan tatapan sendu.
“Buktikan padaku kau bisa di percaya,” kata Keiko. Nadanya melembut.
“Akan kubuktikan sayang dan asal kau tahu Nameera berada di sini bukan karena sebuah kebetulan ia merencanakan semua ini,” kata Anthonino dengan wajah serius.
__ADS_1
Keiko mengerjapkan matanya beberapa kali. “Dari mana kau tahu?”
“Seseorang memberitahu dan sumber itu bisa dipercaya,” jawab Anthonino tanpa memberitahu siapa sumber yang bisa di percaya yang di maksud Anthonino.
“Siapa dia?” Keiko mulai mencerna dan merangkai kejadian demi kejadian, Nameera berusaha berbicara dengan Philip kemudian Philip berbicara dengan Anthonino secara pribadi.
Sepertinya kejadian itu saling berhubungan.
“Kau tidak perlu tahu cintaku, yang jelas sumber itu bisa di percaya,” jawab Anthonino.
“Apakah Philip?” Keiko menatap lurus mata Anthonino dengan tatapan menyelidik.
Seketika tubuh Anthonino menegang, bahkan Keiko juga bisa merasakan tubuh suaminya menegang.
“Bukan dia.” Anthonino berbohong, ia tidak ingin Philip muncul sebagai pahlawan sekarang. Itu tidak di perbolehkan karena sang pahlawan sejati bagi Keiko harus dirinya, bukan Philip.
__ADS_1
JANGAN LUPA PLISH JEMPOL KALIAN SEBELUM SWIPE KE NEXT CHAPTER ❤️❤️❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️ TERIMA KASIH ❤️