Married With Pilot

Married With Pilot
S2. I do


__ADS_3

Vicky terkejut saat mereka tiba di sebuah restoran yang tidak begitu ramai, sebuah meja yang telah di pesan di tata dengan baik. Seikat mawar merah segar yang menyala berada dibatas meja, tidak ketinggalan cahaya lilin menerangi meja yang berada di depannya.


Vicky menatap Gustavo dengan tatapan bingung.


“Duduklah,” kata Gustavo.


“Apa kita tidak salah tempat?” tanya Vicky.


Gustavo mengusap rambut di kepala Vicky sambil sedikit terkekeh. “Aku menyiapkan semua ini untukmu,” ujarnya.


“T-tapi aku tidak berulang tahun,” kata Vicky. Sebenarnya ia menduga Gustavo mungkin melamarnya tetapi ia tidak ingin besar kepala karena bisa saja ia salah sehingga ia memutuskan bersikap lugu.


Gustavo tersenyum lebar. “Memang tidak,” katanya.


“Apa kau berulang tahun?”


“Zhao Vicky, maukah kau menikah denganku?” tanya Gustavo langsung.


Vicky mengerjapkan matanya beberapa kali. “Kau melamarku?”


Gustavo mengangkat sebelah alisnya, bibirnya menyunggingkan senyum lebar. “Apa ada gadis lain di sini?”


“Tapi, kita tidak berpacaran,” gumam Vicky.


Gustavo mendudukkan Vicky di atas kursi kemudian mengambil seikat mawar merah di atas meja, ia menekuk sebelah kakinya, menumpukan lututnya di atas lantai sambil mengulurkan mawar merah kepada Vicky. “Zhao Vicky, maukah kau menjadi istriku?”


“Gustavo, orang-orang melihat kita,” bisik Vicky sambil ekor matanya melirik ke arah kanan dan kiri.


“Maukah kau menjadi istriku?” tanya Gustavo lagi.


“A-aku....” Vicky memutar otaknya, ia tidak bisa buru-buru berkata iya meski jantungnya melompat-lompat kegirangan. “Tidak ada cincinnya,” katanya beralasan.

__ADS_1


Gustavo menyeringai. “Kau datang terlalu mendadak, aku belum membelinya, aku juga tidak tahu ukuran jarimu,” katanya.


Vicky kembali memutar otaknya. “Kita juga bukan sepasang kekasih,” kata Vicky.


“Kita akan berpacaran setelah menikah,” kata Gustavo.


“Kapan kita akan menikah?”


“Jadi kau menerima lamaranku?” Gustavo menaikkan sebelah alisnya.


Wajah Vicky tampak merah merona. “T-tapi aku memiliki syarat.”


“Apa itu?”


“Kau tidak boleh mengelilingi Jepang bersama gadis lain,” kata Vicky.


Gustavo ingin sekali tertawa tetapi ia menahannya. “Aku akan berkeliling dunia bersamamu dan putri kita nanti,” jawab Gustavo.


“Itu tidak mungkin.” Gustavo menjeda ucapannya. “Kau istriku, kau harus tinggal di Osaka bersamaku, mendampingiku.”


“T-tapi aku....”


“Kau akan menjadi chef pribadiku, masalah usaha restoran kita pikirkan bersama nanti,” kata Gustavo seolah mengerti apa yang sedang Vicky pikirkan.


Vicky mengangguk.


“Lusa kita ke Tokyo bertemu orang tuamu, melamarmu,” kata Gustavo.


“Tapi, aku belum berkata iya....” Vicky menatap Gustavo dengan tatapan menggoda.


“Jangan menggodaku.” Gustavo menyipitkan sebelah matanya.

__ADS_1


Vicky menyeringai. “I do.”


***


Sementara di Dublin.


Samantha mendengus kesal pagi itu karena Claudia masih sangat pagi telah bertamu di unit yang di tempati oleh Philip. Gadis bertubuh mungil itu bahkan membawakan sarapan untuk Philip, meskipun saat Claudia melihat Samantha berada di sana ia segera kembali ke tempat tinggalnya untuk mengambil satu porsi makanan lagi tetap saja Samantha merasa kesal.


“Bagaimana jika pergi ke taman atau ke supermarket, aku merasa bosan,” kata Samantha mencoba membawa Claudia keluar dari tempat tinggal Philip.


Mereka telah selesai sarapan bertiga pagi itu dan Claudia tampak masih betah berada di sana. Bersantai ria seolah-olah tidak ingin menjauh dari Philip.


“Ide yang bagus, ayo,” kata Claudia.


Samantha menyeringai penuh kemenangan. “Philip, kau tidak boleh ikut karena ini acara para gadis!” seru Samantha sambil menatap dengan ekspresi galak ke arah Philip.


Philip hanya menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Memang ia merasa risih terhadap Claudia yang menganggu kesenangannya pagi itu tetapi ia juga merasa senang karena kehadiran Claudia membuat Samantha tampaknya terbakar cemburu.


Claudia mengerutkan keningnya. “Kenapa Philip tidak ikut?”


“Karena dia bukan gadis,” kata Samantha, ia merasa sangat geram bahkan hingga menggertakkan giginya karena Claudia yang bertubuh kecil mungil itu ternyata juga berotak kecil menurutnya.


“Kalau begitu, sebaiknya tidak usah pergi,” katanya dengan nada yang sangat polos.


Samantha benar-benar tidak mengerti, bagaimana seorang anak kecil bisa lulus dari perguruan tinggi lalu bekerja di firma yang menangani kasus perceraian. Bagaimana anak kecil itu melalui psiko test?


Apa dia seorang bayi ajaib?


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤


TERIMA KASIH ❤️

__ADS_1


🍒🍒🍒


__ADS_2