Married With Pilot

Married With Pilot
Serasi


__ADS_3

Hening menyeruak menghinggapi dua insan yang saling memeluk erat. Hanya deru napas dan detak jantung mereka yang terdengar di telinga mereka masing-masing.


“Apa kau pernah menanyakan sesuatu kepada ibumu?” Meskipun merasa bersalah nyatanya rasa penasaran yang merayapi benaknya mampu ia bendung. Keiko dengan nada hati-hati menyuarakan apa yang ada di dalam benaknya.


“Aku tidak pernah menanyakan bagaimana sebenarnya hubungan Feliks dengan Ibuku karena aku tidak ingin mengorek luka di dalam hati ibuku,” jawab Anthonino dengan nada lemah.


Pada titik ini Keiko tidak tahu harus berkata apa-apa lagi karena dalam hidup Keiko dia tidak pernah menemui kesulitan seperti itu. Ia lahir dari keluarga yang sempurna, dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan juga kedua kakaknya. Ralat kecuali Derren si gunung es yang hanya bisa di taklukkan oleh Olivia.


“Cintaku, aku ingin memiliki keluarga yang rukun seperti keluargamu. Bersamamu aku merasa aku tidak sendiri lagi di dunia ini, sekarang aku memiliki keluarga,” ucap Anthonino sambil membelai rambut di kepala Keiko yang telah kering.


“Kau telah memilikinya, keluargaku adalah keluargamu. Jangan pernah berpikir kau sendirian lagi. Sekarang lebih baik jika kita fokus pada penyembuhan Papa.” Keiko merenggangkan pelukannya dan memundurkan bahunya agar dapat menatap wajah Anthonino.


“Bagaimana jika Feliks kita bawa ke Tokyo?” tiba-tiba Anthonino menyampaikan gagasannya.


“Bisakah mulai sekarang kau memanggil Papa? Jangan panggil namanya,” pinta Keiko dengan nada tatapan lembut. Keiko tidak terbiasa mendengar panggilan seperti itu, ia adalah wanita Asia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan apa lagi kepada orang tua.


Keiko merasa tidak nyaman setiap kali Anthonino memanggil ayahnya dengan hanya menyebut nama.


“Akan aku coba membiasakan diriku,” jawab Anthonino. “Bagaimana menurutmu ideku?”


Keiko tersenyum manis. “Jika kau ingin mengobati Papa, sebaliknya kita meminta persetujuan Mama dulu, jika kita membawanya begitu saja mungkin tindakan kita akan menyinggung perasaan Mama. Aku tidak mau Mama Innesa semakin in berpikir buruk kepadaku.” Keiko tentu saja tidak ingin Innesa berpikir bahwa ia yang menghasut Anthonino untuk membawa Feliks ke Tokyo.


“Mama pasti akan mengerti,” ucap Anthonino.


“Tetapi uncle Tommy berada di London.” Keiko memberi tahu di mana keberadaan Tommy. “Sebaiknya kau berbicara dengan dokter Edmon lebih lanjut untuk mendiskusikan pengobatan Papa.”

__ADS_1


“Baiklah,” kata Anthonino.


“Aku yakin dokter Edmon seorang spesialis penyakit jantung yang hebat.” Keiko membelai wajah suaminya menggunakan ibu jarinya.


Anthonino terkesiap mendengar ucapan istrinya karena sejujurnya ia sama sekali tidak tahu Edmon ayah sahabat karibnya itu berprofesi sebagai dokter spesialis apa. Anthonino benar-benar merasa menjadi anak yang sangat buruk bahkan ia tidak tahu ahli medis seperti apa yang menangani ayahnya. Edmon layak mengobati ayahnya atau tidak.


Keiko merasa harus segera mengakhiri diskusi yang terasa berat itu. Ia melirik jam digital yang berada di salah satu rak tak jauh dari mereka kemudian ia berucap, “ayo bersiap sekarang jangan biarkan Papa menunggu kita dan jangan biarkan Gustavo berteriak jika kita terlambat.”


“Terima kasih Cintaku, kau mendengarkan seluruh keluh kesahku.” Anthonino menangkup telapak tangan Keiko yang masih menempel di sebelah wajahnya kemudian mengecup bagian dalam telapak tangan Keiko.


“Kita adalah suami istri, bukankah sudah seharusnya kita saling berbagi, seperti janji pernikahan kita di depan Tuhan.”


“Aku mencintaimu, cintaku.” Mata biru Anthonino menatap mata cokelat Keiko dengan tatapan mendamba.


Mendengar ucapan cinta Anthonino jantung Keiko berdetak sepuluh kali lebih cepat dari pada biasanya. Tetapi, untuk membalasnya ucapan itu Keiko merasa malu. Bibir Keiko menyunggingkan senyum tipis, tatapan matanya tampak berbinar indah. Ia tidak mampu menjawab ucapan cinta Anthonino tetapi ia justru mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir Anthonino dengan lembut.


Keiko mengenakan dress yang tampak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Panjang dress itu di bawah lutut dengan warna hijau tosca tanpa lengan dengan leher berpotongan V rendah. Ia mengenakan sepatu yang berwarna senada dengan dress dan tas yang berada di tangannya. Di sampingnya Anthonino mengenakan celana berbahan jeans di padukan dengan kaos berwarna hitam dan jas semi formal yang tidak di kancingkan, lengan jasnya tampak di naikkan sedikit menambah kesan betapa tampannya ia meskipun hanya mengenakan pakaian semi formal.


Mereka berdua melangkah memasuki restoran, lengan Anthonino tampak posesif melingkar di pinggang ramping milik Keiko seolah tidak ingin ada jarak sedikit pun di antara mereka.


“Kei, apa kabarmu?” tanya Gustavo kepada Keiko begitu kedua orang yang di tunggunya duduk di depannya.


“Di bagian mana aku tidak sopan?” Gustavo menengadahkan kedua telapak tangannya.


“Kau hanya menanyai istriku,” ucap Anthonino dengan nada malas.

__ADS_1


Gustavo menyeringai lebar. “Aku perlu mengenal calon kakak iparku.


Anthonino mengernyit, dengan ekspresi malas ia melontarkan pertanyaan bernada sinis. “siapa yang kau sebut calon kakak ipar?”


“Istrimu,” jawab Gustavo dengan nada penuh percaya diri.


Keiko terkekeh menyaksikan keakraban suaminya bersama Gustavo.


“Kalian sangat serasi,” ucap Keiko yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum menyaksikan suaminya dan Gustavo berceloteh.


“Serasi?” Gustavo dan Anthonino melontarkan pertanyaan bersamaan.


Keiko menyeringai. “Ya serasi, seperti pasangan.”


“Kami pria normal.” Kembali Anthonino dan Gustavo berbarengan menanggapi ucapan Keiko.


“Aku tahu, Astaga. Kalian sangat serasi sebagai sepasang sahabat,” ucap Keiko yang sangat senang menyaksikan keakraban suaminya bersama Gustavo.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


SELAMAT PAGI ❤️


RATE BINTANG LIMA PLISH ❤️


TAP TANDA JEMPOL KALIAN ❤️ JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️

__ADS_1


RAMAIKAN JUGA KARYAKU YANG BERJUDUL LAURA ❤️


TERIMA KASIH ❤️


__ADS_2