Married With Pilot

Married With Pilot
Di jebak


__ADS_3

TAP JEMPOL TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA PLIS!


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Anthonino tiba di mansion mewahnya dan mendapati mansion begitu sunyi seolah tidak berpenghuni. Pria itu melangkah memasuki kamarnya untuk mencari keberadaan istrinya namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya. Ia melepas jas yang melekat di tubuhnya dan melemparkannya ke atas sofa kemudian bergegas keluar kamar, menuruni anak tangga dan memanggil pelayan menanyakan keberadaan istrinya kepada pelayanan.


Anthonino mengeraskan rahangnya ketika mendengar apa yang diucapkan pelayan. Para pelayan mengatakan istrinya pergi membawa beberapa koper bersama Lelya Sarah dan Arima. Dada Anthonino sempat terasa bergemuruh, ia menebak ada sesuatu yang tidak beres. Ia masih tidak mengerti kenapa istrinya tiba-tiba pergi tanpa pamit kepadanya. Mencoba menenangkan emisinya Anthonino menghela napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan, sehalus mungkin agar suplai oksigen ke otaknya tidak tersumbat olah amarah. Bagaimanapun juga ia tidak menyukai istri yang tidak patuh, keluar dari rumah tanpa izin.


Setelah beberapa saat ia mengusap layar ponselnya berusaha memanggil istrinya melalui telepon tetapi panggilannya tidak digubris, ia kemudian memanggil Sarah, Lelya dan Arima. Tetapi, hasilnya sama saja karena mereka tidak satu pun yang menjawab panggilan Anthonino.


Anthonino terduduk di atas sofa sambil menumbuhkan kedua sikunya di atas lututnya. Kepalanya tertunduk menatap lantai, ia baru saja membuka isi pesan yang di kirim oleh Gustavo sahabatnya. Gustavo memberitahu bahwa foto-foto dan video bersama Lidya tersebar di internet. Tampak di sana ia dan Lidya makan malam dalam suasana romantis, kemudian ia tampak mabuk dan di papah oleh Lidya menuju pintu keluar restoran dan memasuki mobil yang di kemudikan Lidya.


Ia baru saja mengerti alasan istrinya pergi meninggalkan tempat tinggalnya. Bukan karena tanpa alasan. Istrinya adalah tipe orang yang mengutamakan citra baik dan sempurna dalam hal apa pun di depan publik. Sekarang rumah tangga mereka yang baru berumur beberapa bulan telah hancur citranya. Istrinya itu pasti Serdang bergumul dengan ketakutannya sendiri, gadis polos yang menjadi istrinya itu pasti sedang menangis dan bagaimana ia menjelaskan kepada keluarga istrinya nanti?


Memikirkan hal itu saja, Anthonino merasa dirinya terasa nyaris kehilangan nyawanya. Ia tidak berhati-hati dan tidak waspada terhadap Lidya yang ternyata memiliki rencana jahat sejak awal mengajaknya makan malam.

__ADS_1


Flashback on.


Panas. Seluruh tubuh Anthonino terasa panas, gerah dan sesuatu di dalam dirinya terasa ingin meledak-ledak secara tidak normal. Hal terakhir yang ia ingat adalah Lidya mengajaknya bersulang meminum wine yang tersaji di atas meja makan mereka dan beberapa menit kemudian kepala Anthonino terasa berdenyut, pandangan matanya terasa buram dan goyah dan yang terpenting tubuhnya terasa sangat panas. Setelah itu ia sama sekali tidak mengingat apa-apa yang ia ingat samar-samar indra penciumannya mengendus sesuatu yang asing. Anthonino merasakan aroma parfum yang di gunakan oleh istrinya berbeda, Keiko istrinya tidak pernah memakai parfum yang beraroma tajam. Istrinya itu menyukai parfum yang berbau manis dan sedikit kekanak-kanakan, istrinya menyukai parfum beraroma strawberry. Ketika ia mencoba berusaha menguasai dirinya dan menyadarkan ingatannya benar saja, ia sedang mencumbui leher Lidya. Tetapi, untungnya mereka belum melakukan apa pun karena pakaian yang mereka kenakan masih lengkap.


Anthonino segera menjauhkan dirinya dari Lidya.


“Apa yang kau lakukan padaku!” Anthonino bertanya dengan nada suara tinggi.


“Nino, a—aku... Aku ingin kau menyentuhku,” jawab Lidya tergagap. Ia berusaha mendekati Anthonino, tetapi pria itu menepisnya dengan kasar.


“Sentuh aku, rasakan betapa lembutnya aku.” Lidya berusaha mendekati Anthonino kembali namun Anthonino memundurkan kakinya beberapa langkah.


“Pergi dari sini!” bentak Anthonino sambil sebelah tangannya berpegang kepada dinding karena ia nyaris roboh. Pandangannya terasa bergoyang dan kepalanya terasa berputar-putar hebat.


“Aku ingin memberikan kesucianku padamu, aku telah menjaganya sampai detik ini. Untukmu,” kata Lidya dengan nada penuh harap.

__ADS_1


Anthonino memejamkan matanya sambil sebelah tangannya menekan pelipisnya yang berdenyut hebat, otot-otot di kepalanya sepertinya berubah menjadi sekeras kawat yang begitu menyiksa. Perlahan ia mengatur napasnya, memfokuskan pandangan matanya ke arah Lidya yang sedang menatapnya dengan tatapan mata penuh harap.


“Keluar dari sini...!” ucap Anthonino dengan nada yang terdengar dingin, tegas namun mematikan. Tatapan matanya yang biru tidak tampak seindah lautan, mata biru itu seperti lautan dalam yang bisa membunuh manusia.


“Kenapa kau tidak sekalipun melihatku?” Lidya terisak. Ia telah lama mendambakan Anthonino, mungkin seperti ibunya mendambakan Anthonino di masa lalu tetapi pria itu sama sekali tidak pernah memandangnya.


“Sekali lagi kukatakan, pergi dari sini atau aku menendangmu dari sini!” nada bicara Anthonino meninggi kembali hingga ia benar-benar kehilangan kesabaran, ia menyeret dengan lengan Lidya menjauhkan gadis itu dari dalam kamar. Mengeluarkan secara paksa Lidya hingga di depan pintu.


Anthonino menyandarkan tubuhnya di balik pintu tanpa mempedulikan Lidya yang menggedor pintu dari luar sambil berteriak. Setelah mengatur napasnya ia berusaha dengan susah payah memasuki kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya menggunakan air dingin kemudian menyelesaikan gairahnya yang tak masuk akal dengan caranya sendiri di dalam kamar mandi. Setelah satu jam ia merendam tubuhnya dengan menggunakan air dingin, Anthonino keluar.


Flash back off.


Anthonino mengusap layar ponselnya dan mulai menekan beberapa nama orang-orang yang ia percaya di New york. "Cari Lidya, tangkap dan amankan dia."


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️

__ADS_1


🌸🍒


__ADS_2