
Vicky duduk di bangku tunggu stasiun Shin Osaka sambil bertopang dagu memandangi orang yang lalu lalang di depannya sebenarnya ia agak menyesali keputusannya yang datang ke Osaka tanpa ia pikirkan masak-masak terlebih dahulu. Sesekali Vicky menggigit bibir bawahnya kemudian menghela napasnya dalam-dalam.
Gugup. Ya, tentu saja ia sangat gugup untuk bertemu Gustavo yang mungkin akan muncul di depannya beberapa menit lagi.
“Vicky....”
Suara yang memanggil namanya dinantikan tetapi juga menakutkan bagi Vicky. Ia mengalihkan fokusnya ke arah sumber suara. Menjauhkan telapak tangannya yang menopang dagunya lalu bangkit dari duduknya. “G-gustavo....”
“Akhirnya aku menemukanmu,” ucap Gustavo. “Apa kau baik-baik saja?” Ekspresi wajah Gustavo tampak tidak sesantai biasanya, tidak di buat-buat, ia memang terlihat panik.
Vicky menganggukkan kepalanya.
“Ayo kita laporkan dulu ke kantor polisi,” ucap Gustavo.
Vicky buru-buru menggelengkan kepalanya. “Hanya berisi uang, tidak ada barang penting di sana,” ucapnya gugup. Bibirnya bahkan bergetar.
“Apa kau yakin?” Gustavo mengerutkan keningnya dan sedikit memiringkan kepalanya.
Vicky mengangguk.
“Jadi, bagaimana rencanamu selanjutnya? Apa kau ingin kembali ke Tokyo hari ini?” tanya Gustavo.
__ADS_1
Vicky tidak menjawab, gadis itu tampak sedikit kebingungan.
“Baik, ayo kita beli tiket kereta untuk kau kembali,” ucap Gustavo sambil hendak melangkahkan kakinya tetapi Vicky tiba-tiba berdiri di depannya.
“Aku... ingin istirahat terlebih dulu. Bisakah kau mencarikan aku tempat istirahat?”
Gustavo justru menatap dengan tatapan heran kepada Vicky. “Apa kau kurang sehat?”
“Aku baru saja tiba, aku belum ingin kembali ke Tokyo. Aku ingin istirahat lebih dulu,” jawab Vicky.
Gustavo menggaruk bagian belakang rambutnya karena suasana mereka memang canggung. Akhirnya ia membawa Vicky menuju ke sebuah hotel tak jauh dari stasiun kereta. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tidak ada percakapan yang berarti seolah mereka dua orang asing yang tidak mengenal.
“Bisakah kau mengantarkan aku ke kamar?” tanya Vicky saat Gustavo hendak menyerahkan sebuah kartu akses kamar kepadanya, ia tidak menerima kartu itu.
Setelah membuka pintu kamar Gustavo mempersilakan Vicky untuk memasuki kamar yang ia sewa sementara ia berdiri di ambang pintu sambil menancapkan kartu ke tempatnya agar lampu kamar dan pendingin ruangan dapat bekerja.
“Bisakah kau tinggal di sini sebentar saja?” tanya Vicky karena ia melihat Gustavo yang sama sekali tidak ada niat untuk memasuki kamar.
Gustavo kembali mengerutkan keningnya.
“Maksudku.... begini, apa... kau terburu-buru untuk kembali bekerja?” tanya Vicky seolah meralat ucapannya.
__ADS_1
“Tidak juga,” jawab Gustavo sambil menekan salah satu sakelar lampu dan pandangan matanya mengarah ke langit-langit kamar. “Baiklah, aku akan tinggal di sini sebentar, mungkin kita bisa bersantai sebentar, kita bisa meminum cokelat panas mungkin agar kau sedikit rileks.”
Vicky mengangguk sambil melangkah masuk, melepas sepatunya dan mengganti menggunakan sandal hotel, begitu juga Gustavo. Setelah meletakkan tasnya di atas sofa Vicky mengangkat gagang telepon untuk memesan kopi dan cokelat panas.
Sangat canggung, mereka duduk sofa dengan posisi berhadap-hadapan tetapi Vicky hanya diam sambil memainkan layar ponselnya sementara Gustavo juga melakukan hal yang sama. Sesekali Gustavo mencuri pandang kepada Vicky.
Gustavo berdehem. “Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”
Vicky mengalihkan pandangannya ke arah Gustavo lalu mengangguk tetapi kemudian dengan cepat ia menggeleng. “Maksudku, tidak,” jawabnya.
Gustavo menggaruk belakang kepalanya, ia tidak mengerti kenapa gadis incarannya tiba-tiba muncul di Osaka, bertingkah aneh dan seolah menahannya untuk menjauh.
Bukankah beberapa Minggu yang lalu ia terang-terangan tidak ingin di dekati lagi?
"Aku akan ke kamar mandi sebentar," ucap Vicky dengan terburu-buru, ia membuka tasnya dan memasukkan ponselnya tanpa menutup kembali tasnya.
Gustavo hanya mengangguk sambil diam-diam terus mengawasi gerak-gerik Vicky. Baru saja Vicky memasuki kamar mandi ponsel milik Vicky berdering membuat Gustavo mengalihkan fokus pandangannya ke arah tas Vicky yang terbuka. Dompet gadis itu ada di sana, di dalam tasnya.
TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤
TERIMA KASIH ❤❤❤
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒