Married With Pilot

Married With Pilot
Menginginkan Istri Anthonino


__ADS_3

TAP JEMPOL LEBIH DULU SEBELUM MEMBACA!


Innesa tersenyum manis sambil melambaikan tangannya ke arah mobil yang dengan perlahan bergerak meninggalkannya. Mobil itu di kemudikan oleh Nameera, mereka baru saja kembali dari spa dan berbelanja beberapa alat alat-alat kosmetik.


Wanita yang masih terlihat cantik meski usianya tak lagi muda itu memasuki pintu utama mansion megah yang ia tempati kemudian ia segera melangkah melewati ruangan demi ruangan yang di desain dengan mewah dan di penuhi dengan furnitur mahal hingga ia berdiri tepat di depan ruangan yang di tuju, wanita itu menghentikan langkah kakinya kemudian dengan lembut telapak tangannya menyentuh gagang pintu. Menekannya ke bawah dan mendorong daun pintu hingga terbuka dan menampakkan sesosok pria yang sedang duduk di kursi kerja dan berkutat dengan layar laptopnya di ruang belajar.


Melihat siapa yang datang pria itu mendongakkan wajahnya dan menghentikan sejenak gerakan tangannya yang sedang mengetik di atas keyboard laptop. Bibirnya mengulas senyum manis dan menyapa Innesa. “Mama....”


“Justin, astaga. Mau sampai berapa lama kau memelihara gadis itu?” Innesa menutup pintu di belakangnya tak lupa ia memutar kunci. Tanpa berbasa-basi Innesa langsung menyuarakan isi kepalanya yang telah ia tahan sejak ia turun dari mobil yang di kemudikan Nameera.


Mendengar apa yang di lontarkan dari bibir ibunya, Justin menyandarkan bahunya di sandaran kursi yang ia duduki. Ujung jemarinya menyentuh dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu yang mulai tumbuh sementara matanya mengawasi sosok ibunya yang mulai mendekat ke mejanya. “Aku masih belum puas bersenang-senang dengan tubuhnya Ma,” katanya.


“Ck..., Gadis seperti itu kau bisa mendapatkan di club,” kata Innesa sambil mendudukkan bokongnya di kursi tepat di depan meja kerja Justin.

__ADS_1


Bibir Justin masih mengulas senyum. “Lebih nyaman memelihara satu untuk memuaskan kapan saja, aku bisa berhenti jika aku bosan lalu membuangnya.”


Justin memang telah terbiasa menyimpan wanita untuk di jadikan alat pemuas nafsunya, ia tidak menyukai berganti-ganti wanita. Bagi Justin lebih nyaman memelihara satu hingga ia bosan ketimbang ia harus mencari terlebih dahulu manakala hasrat melandanya, ia hanya tinggal kembali ke apartemennya dan bersenang-senang dengan wanita yang menyiapkan tubuh untuknya kapan pun ia memerlukan.


“Terserah kau saja, asal jangan sampai kau jatuh hati padanya.” Innesa menjeda ucapannya beberapa saat, matanya menatap tajam ke arah wajah putra semata wayangnya yang sangat ia sayangi kemudian melanjutkan ucapannya, “latar belakang keluarganya memang lebih kaya di banding keluarga Yamada tetapi aku ragu dengan posisinya karena kedua kakaknya adalah laki-laki yang berarti dia tidak memiliki banyak hak atas warisan yang kelak menjadi miliknya.”


“Aku mengerti. Aku memiliki rencana lain untuknya.” Justin mengira Nameera hanya menginginkan uang darinya namun Justin memiliki rencana untuk Nameera. Ia akan membuat Nameera jatuh hati kepadanya lalu mengambil seluruh kekayaan yang menjadi warisan dari keluarga Tjiptadjaja lalu ia akan membuang Nameera setelah rencananya berhasil. Nameera sama sekali bukan tipenya, sesungguhnya gadis yang masuk ke dalam kriteria Justin adalah Keiko. Wajah polosnya, senyumnya, pembawaannya yang kalem dan tatapan matanya yang sendu. Justin ingin sekali memiliki wanita yang telah menjadi milik Anthonino.


“Jangan berlama-lama bermain dengan gadis itu, ia tampak bodoh dan ceroboh. Sama sekali tidak akan berguna jika kau memeliharanya. Menghabiskan uang dan waktumu saja,” gerutu Innesa.


“Bagaimana dengan Aeroflot? Apa kau telah memiliki cara untuk menyingkirkan anak haram sialan itu?” Innesa menanyakan pokok permasalahan yang sedang mereka susun akhir-akhir ini.


Justin memandangi Innesa dengan tatapan lurus. “Hanya dengan kematian anak palsumu itu Aeroflot bisa beralih menjadi milikku,” jawabnya dengan nada dingin. Rahangnya tampak sedikit mengeras.

__ADS_1


“Lakukan serapi mungkin dan satu lagi lakukan pada keduanya jangan ada yang tertinggal karena istrinya masih ada dan bisa saja sedang berbadan dua, semuanya akan menjadi sia-sia,” kata Innesa dengan kilatan mata penuh kebencian.


Justin menelan ludahnya, ia tidak mungkin melakukan itu kepada Keiko karena jika Anthonino tersingkir maka ia bisa mendapatkan dua keuntungan. Pertama Aeroflot dan yang kedua adalah Keiko, bagaimana mungkin ia menyingkirkan wanita yang sangat ia inginkan? Wanita yang membuatnya diam-diam terkesiap saat pertama kali bertemu langsung dan berfantasi liar hanya dengan membayangkan mata coklatnya menatap di bawah kendalinya.


“Sejak awal seharusnya kau jangan membuat jarak dengan Keiko, kau tidak seharusnya berpura-pura keracunan. Kaulah yang ceroboh dan gegabah. Aku yakin sekarang ia menjadi waspada,” kata Justin dengan nada terdengar kesal. Tatapan matanya mengarah lurus ke arah ibunya.


Bahkan jika harus memilih antara ibunya dan Keiko ia akan lebih memilih Keiko di banding wanita kejam yang tak berperasaan di depannya. Wanita yang dengan kejam meracuni suaminya sendiri, membunuh wanita lain dan bersandiwara seumur hidupnya. Wanita penghianat yang melahirkan anak di luar nikah laku membesarkan anaknya sebagai anak angkat di rumahnya sendiri.


Tidak terima dengan jawaban putranya, Innesa membalas tatapan Justin dengan tatapan tajam. “Aku lelah bersandiwara selama ini, sangat lelah dua puluh delapan tahun aku bersandiwara. Bukan waktu yang singkat, biarkan saja ia berprasangka buruk kepadaku karena sesungguhnya semua orang sudah saling berpikiran buruk satu sama lain.”


RATE BINTANG LIMA PLISH ⭐⭐⭐⭐


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️

__ADS_1


TERIMA KASIH ❤️


__ADS_2