
Seusai pesta pernikahan yang berakhir pukul sepuluh malam, Keiko dan Anthonino menyambangi lounge yang berada di dalam bangunan hotel milik keluarga Tjiptadjaja. Mereka melanjutkan malam selayaknya anak muda yang memiliki gaya hidup di kota megapolitan. Mereka berniat menghabiskan malam dengan bersenang-senang. Keiko tidak menyukai hal-hal semacam itu sebenarnya. Tetapi, karena besok teman-temannya harus kembali ke aktivitas masing-masing jadi malam itu ia memutuskan untuk bergabung menghabiskan malam untuk berkumpul dan bersenang-senang.
Gustavo terus saja menggerutu karena mereka berada di sebuah lounge yang menyuguhkan live music. Gustavo tampak bosan karena musik yang di hadirkan terlalu santai dan penyanyi kebanyakan menyanyikan lagu berbahasa Jepang. Bukan hanya Gustavo yang tidak mengerti, semua yang hadir di sana tidak mengerti kecuali Keiko dan Vicky adik Tiffany.
Samantha tampak bosan ia hanya berkutat dengan gadgetnya, sesekali ia menyahut dalam pembicaraan. Vicky tampak serius mengobrol bersama Cathy dan Philip sambil menikmati bir mereka. Sementara Dennis dan Athiya mengobrol bersama Keiko dan Anthonino.
“Ayolah kita pindah saja ke club,” berulang kali rengek Gustavo untuk ke sekian kalinya dan di angguki oleh Samantha.
“Tidak,” jawab Anthonino dengan nada tegas.
“Di sini membosankan,” ucap Gustavo lagi, kembali ucapannya di angguki oleh Samantha.
“Kau saja sana pergi berdua,” jawab Anthonino dengan nada acuh.
“Keiko. Lihat suamimu, ia sangat menyebalkan,” gerutu Gustavo lagi.
Keiko hanya terkekeh sementara Anthonino melemparkan tatapan tajam kearah Gustavo. “Kau memanggil istriku dengan panggilan begitu akrab,” protesnya.
“Kei, apa aku harus memanggilmu nyonya Petrav?” Gustavo menatap Keiko, dengan ekspresi jahil yang di buat-buat.
“Itu terlalu tua, tidak masalah panggil aku sister saja, lagi pula kau kekasih Nameera bukan?” Keiko menjawab pertanyaan Gustavo dengan nada santai dan bersahabat.
“Kami sudah berakhir,” jawab Gustavo, ia telah menyerah untuk Nameera. Gadis itu terlalu liar, Gustavo tidak sanggup lagi mempertahankan perasaannya yang berulang kali di hancurkan oleh Nameera. Ia seorang pilot dengan jam terbang tinggi. Banyak gadis yang menginginkan dirinya, ia tidak ingin lagi terpaku pada satu orang gadis yang tidak bisa di ajak serius. Usianya telah cukup matang dan ia juga mapan dalam hal finansial, ia ingin mencari pendamping untuk menemani hidupnya hingga menua nanti.
“Oh maaf,” kata Keiko.
__ADS_1
“Tidak masalah. teman-temanmu sepertinya banyak dan lumayan juga,” kata Gustavo sambil melemparkan pandangannya ke arah Vicky.
“Oh, itu pengecualian.” Keiko langsung memberikan lampu merah kepada Gustavo.
“Kenapa?”
“Dia adikku!” Anthonino menatap Gustavo semakin galak.
“Ya Tuhan, apa jatah gadis baik-baik telah habis di dunia ini untukku.” Gustavo menyandarkan bahunya di sandaran kursi.
Keiko terkekeh. Athiya dan Dennis yang sejak tadi hanya diam melihat tingkah Gustavo juga ikut terkekeh.
Tidak lama terlihat Samantha bangkit lalu mendekati Keiko, dengan gerakan Anggun ia menyentuh bahu Keiko dan berucap, “Kei kami ingin pergi ke club di sini membosankan. Apa kalian ingin ikut bersama kami?”
“Tidak,” jawab Anthonino cepat.
“Aku dan istriku hidup sehat,” kata Anthonino. “Istriku sedang mengandung.”
“Secepat itu?” tanya Gustavo dengan bada terkejut membuat semua mata tertuju kepada Keiko tak terkecuali Philip.
“Aku?” Keiko memundurkan bahunya sedikit. “Hubby, kau mengada-ada.”
Anthonino menyeringai senang kemudian mengecup kening istrinya, menunjukkan betapa mereka di penuhi rasa kasih sayang yang dalam satu sama lain. Gustavo mengenyit melihat kemesraan sahabatnya yang tampak dengan sengaja di pamerkan.
“Baiklah, semoga saja benar. Aku tidak sabar juga ingin melihat Keiko junior.” Samantha terkekeh. “Kami akan pergi. Kalian yakin kalian tidak akan bergabung?”
__ADS_1
“Kalian nikmatilah waktu kalian sebagai para lajang,” ucap Dennis yang di angguki oleh Athiya.
“Tidak, kalian pergilah bersenang-senang” ucap Keiko. “Maafkan kami tidak bisa bergabung, kau tahu kan aku tidak menyukai pesta.”
“Kau adalah partner terburuk dalam pesta.” Samantha terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
Samantha dan gerombolannya mengucapkan salam perpisahan kepada kedua kepada dua pasangan yang menolak pergi ke Club. Gustavo dengan wajah konyolnya ia mengikuti langkah Samantha sambil dengan raut wajah kegirangan karena Samantha berpikir sama dengannya, musik di lounge sangat membosankan.
Philips berjalan dengan langkah kaki yang tampak begitu santai mengikuti gerombolannya, ia berada di bagian paling belakang. Manakala tiba di depan pintu lounge ia berhenti.
“Kalian tunggu di club, aku hampir lupa. Aku memiliki sedikit urusan,” kata Philip. Ia berpura-pura melangkah ke arah yang berlawanan dengan tujuan mereka kemudian setelah beberapa menit ia berbalik kembali memasuki lounge.
Philips menuju tempat semula di mana Anthonino, Keiko, Athiya dan Dennis berada. Phillips berdehem, “Kei bisakah aku berbicara dengan suamimu sebentar?”
“Hai Philip, bukankah kau tadi pergi bersama Sam dan...?”
“Aku ada sedikit urusan dengan suamimu. Aku hampir saja melupakannya.”
Keiko menatap wajah Anthonino, kepalanya mengangguk meski ia juga ingin tahu apa yang akan Philip dan suaminya bicarakan.
Anthonino bangkit dari duduknya, ia menaikkan kedua alisnya dan jemari tangannya kanan tangan kanannya mengelus sebelah alisnya. Kemudian ia bertanya, “apa sangat pribadi?”
“Ya. kita harus bicara berdua,” jawab Philip dengan nada datar.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️
__ADS_1
RAMAIKAN JUGA KARYAKU YANG BERJUDUL LAURA ❤️