
Malamnya Anthonino mengunjungi di kediaman pamannya, adik dari ibu kandungnya yang tak lain adalah ayah Tiffany.
“Kau benar-benar nekat!” itu kata-kata yang pertama kali terucap dari bibir Tiffany, mereka berbicara secara pribadi setelah acara makan malam usai, setelah memastikan suaminya sedang berbicara serius dengan ayahnya, Tiffany segera mengambil kesempatan untuk mendekati Anthonino.
“Kau tahu aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya,” jawab Anthonino dengan santai.
"Kau benar-benar telah bisa melupakan Isabel rupanya," kata Tiffany lirih.
Sejenak Anthonino terdiam, ketenangannya tampak goyah, namun dengan segera ia mendapatkannya kembali.
“Aku takut suamiku akan marah, kau benar-benar bermain api!” ucap Tiffany, ia mengetahui hubungan Anthonino dan Keiko karena saat Anthonino dan Keiko berada di Guangzhou, sepupunya itu memberitahu bahwa ia akan datang ke Tokyo bersama Keiko.
“Aku tidak mempermainkannya,” kata Anthonino dengan nada serius.
“Kuharap kau serius dengan ucapanmu,” Tiffany mengkhawatirkan nasib sepupunya, tentu saja ia khawatir, Jonathan dan Derren itu tidak bisa di anggap remeh jika menangani masalah yang berkaitan dengan keluarganya, apalagi ini masalah Keiko, satu-satunya putri di keluarga mereka.
“Aku sangat Serius,” Anthonino mengambil beberapa foto Kevin dan ia juga membawa Kevin ke atas pangkuannya, “putramu sangat tampan,” puji Anthonino.
“Jadi kapan kau akan melamarnya secara resmi?” tanya Tiffany tanpa menghiraukan pujian Anthonino pada Kevin, ya putranya memang tampan, setampan ayahnya tentu saja.
“Aku ingin terlebih dulu mengambil hatinya.”
“Aku khawatir, kau tidak bisa menyepelekan ini!” Tiffany terus memperingatkan sepupunya itu.
Anthonino tidak mempedulikan ucapan Tiffany, ia justru sibuk mengajak Kevin bercakap-cakap dengan bahasa balita ala Kevin.
“Nino, keluarga Yamada meskipun tak sekaya dirimu, mereka tidak bisa di anggap remeh.”
Tiffany masih saja memperingatkan sepupunya itu.
“Aku mengerti,” jawab Anthonino dengan gaya sangat santai.
__ADS_1
“Oh Tuhan, aku tidak mengerti kenapa kau terburu buru menikahinya secara diam-diam?”
Tiffanya tampak mulai geram, bagaimana tidak ia mengkhawatirkan Anthonino sampai dadanya terasa sesak namun saudaranya itu tampak sangat tenang.
“Di banding aku menghamilinya lebih dulu, itu lebih berisiko bukan?” Anthonino justru bertanya balik.
“Kau memang selalu benar, terserah kau saja,” dengus Tiffany,
ia menyerah.
“Apa ysng kalian bicarakan?” suara Jonathan tiba-tiba membuyarkan ketegangan di antara Tiffany dan Anthonino.
Tentu saja kehadiran Jonathan membuat Tiffany sedikit tergagap, “hanya sedikit menasihati sepupuku yang keras kepala,” jawab Tiffany dengan nada bercanda.
“Sudah malam sebaiknya kita pulang,” kata Jonathan mengajak istrinya untuk kembali ke tempat tinggal mereka.
“Ayo Kevin, kita harus pulang,” Tiffany mengangkat putranya yang berada di pangkuan Anthonino.
Pria itu hanya tersenyum simpul tanpa membalas perkataan Tiffany.
“Sampai jumpa Nino,” kata Jonathan.
“Sampai jumpa,” jawab Anthonino.
Pagi-pagi sekali di pinggir kolam renang hotel tempat Anthonino menginap.
“Aku perlu berbicara denganmu,” kata Jonathan dengan nada sangat dingin pada Anthonino yang baru saja menepi dari air kolam.
“Halo, kakak ipar, selamat pagi,” sapa Anthonino dengan nada santai.
Jonathan tidak membalas sapaan Anthonino, ia mengikuti langkah Anthonino yang melangkah menuju bangku di mana handuknya berada.
__ADS_1
Dengan kedua telapak tangan yang di masukkan ke dalam saku celana Jonathan menatap Anthonino yang sedang melilitkan handuk ke pinggangnya, pria itu kemudian duduk dengan santai sambil menyesap orange juicenya tanpa mempedulikan Jonathan yang menatapnya dengan tatapan dingin.
“Apa hubunganmu dengan adikku?” tanya Jonathan dengan nada dingin.
“Hubunganku dengan Keiko adalah hubungan yang seharusnya terjadi,” jawab Anthonino dengan tenang.
“Kau bertindak terlalu jauh bung, kau tidak mengenal siapa kakaknya,” kata Jonathan dengan nada sangat dingin.
Anthonino hanya mengangkat sebelah alisnya sambil sudut bibirnya mengembangkan senyum.
“Tinggalkan dia jikka kau tidak serius pada adikku,” kata Jonathan dengan nada yang terdengar semakin dingin.
“Bahkan jika adikmu tidak menginginkanku, aku akan membuatnya menginginkanku dengan caraku sendiri,” jawab Anthonino dengan nada sombong yang membuat Jonathan menggertakkan giginya.
“Jangan terlalu sombong, jangan menganggap dirimu terlalu tinggi,” jawab Jonathan dengan nada sangat sinis.
“Kau dan aku memiliki kesamaan di masa lalu, aku tahu sepak terjangmu seperti apa dulu sebelum kau mendapatkan sepupuku,” ucap Anthonino dengan nada sangat tenang.
“Aku tidak mendapatkan Tiffany dengan cara yang licik, aku mendapatkannya dengan cara yang benar.”
“Bahkan dengan cara yang licik sekalipun aku akan melakukannya asal wanita itu Keiko, tidak masalah itu hanya sebuah cara, yang terpenting bagiku adalah hasil dari usahaku.”
“Keiko memiliki keluarga, ia memiliki orang tua, kau seharusnya meminta kepada ayahnya,” kata Jonathan, kali ini nada bicaranya lebih terdengar lentur, tidak kaku.
“Kau pikir untuk apa aku datang ke Tokyo?” tanya Anthonino.
HAI 😍😍😍
JUMPA LAGI 😄😄😄
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤
__ADS_1