
TAP JEMPOL SEBELUM MEMBACA PLIS!
Nameera hanya mematung dan kembali menatap lantai yang ia pijak. Ia mampu berbicara apa pun, air mata telah membanjiri wajahnya. Ia menangis meski tangisannya percuma. Semuanya tidak berguna.
Sedangkan Zakia tidak tahu harus berbuat apa, di sisi lain hatinya sakit karena perasaannya sakit melihat putrinya putri satu-satunya sedang menangis tetapi di sisi lain ia juga sangat marah atas perbuatan putrinya. Saat ini wajahnya seperti tertampar, anak tirinya datang ke Uzbekistan bukan untuk untuk menyambung tali kekeluargaan yang selama ini seperti nyaris terputus tetapi justru kedatangannya seperti semakin memotong tali yang sudah sangat tipis dan terbentang begitu jauh.
“Karena Daddy tidak ada sebaiknya aku berpamitan, aku kembali ke Tokyo karena anak dan istriku telah terlalu lama aku tinggalkan dan masalah bagaimana cara kalian memberitahu Daddy tentang keadaan ini kuserahkan kepada kalian. Untuk saat ini keluarga Yamada masih menunggu kemajuan perkembangan Keiko dan suaminya, jadi kau persiapkan dirimu. Mungkin kau akan dituntut dengan tuduhan pembunuhan berencana.” Sekali lagi nada bicara Derren seolah tanpa belas kasihan dan tidak memandang Nameera sebagai adiknya.
Pria tampan itu melangkah meninggalkan tempat tinggal ayah kandungnya seperti orang asing yang datang untuk bertamu.
Setelah Derren meninggalkan tempat tinggalnya, Zakia tidak mampu lagi menahan kemarahannya hingga sebuah tamparan mendarat dengan mulus di wajah Nameera. “Nameera! Apakah kau kehilangan otakmu? Untuk apa kau mencelakai Keiko dan suaminya?” tanya Zakia dengan nada tinggi.
Nameera hanya menangis sambil memegangi sebelah pipinya yang terasa panas karena tamparan ibunya. Dada Nameera tampak naik turun. “Mommy, aku selalu tidak mendapatkan apa pun yang di miliki oleh Keiko. Ia memiliki segalanya, keluarga yang hangat, ayah yang baik, kakak yang mencintainya. Mommy, apa salahku? Apa salahku?”
Mendengar ucapan Nameera membuat Zakia sedikit melunak ia duduk sambil membelai rambut di kepala Nameera. Iya punya dari dirinyalah yang tak mampu memberikan keluarga yang utuh untuk putri satu-satunya.
__ADS_1
“Apa aku juga salah jika aku mencintai suami Keiko seperti Mommy mencintai Mommy mencintai suami Tante Livia?”
Perasaan Zakia yang tadinya telah melunak kembali terbakar emosi karena ucapan putrinya yang menurut Zakia keterlaluan, putrinya tidak bisa menjaga mulutnya seperti Derren dan Andrew.
“Nameera apa pantas kau mengatai ibumu sendiri seperti itu?” Nada suara Zakia kembali meninggi.
Putrinya terlalu tenggelam dalam perasaan iri dan dengki, Zakia merasa ia telah gagal menjadi orang tua.
“Mommy, semua yang tidak kudapatkan dalam hidupku ini adalah kesalahanmu. Coba dulu kau tidak merebut suami tante Livia, aku pasti akan mendapatkan Ayah yang hangat. Bukan seorang Ayah yang tidak pernah peduli kepadaku dan dua orang Kakak yang tidak pernah menganggap aku sebagai Adiknya,” ucap Nameera menyalahkan ibunya.
“Mommy menasihatiku seolah Mommy wanita suci,” ejek Nameera.
“Nameera jaga ucapanmu!” Bentak Zakia.
Nameera menyeka air matanya dengan kasar.
__ADS_1
Zakia nyaris menampar pipi Nameera kembali karena putrinya sungguh tidak bisa di ajak berbicara. “Mommy tidak tahu harus bagaimana memberi tahu Daddymu nanti, untuk sekarang Mommy akan memikirkan cara dan menunggu waktu yang tepat. Setidaknya kita bisa menyimpan rahasia ini hingga keluarga Yamada mengambil keputusan. Tetapi, Nameera Mommy tidak bisa menolongmu meski kau putriku satu-satunya karena kesalahanmu sangat fatal.”
“Bahkan Ibuku sendiri tidak ada niat menolongku,” gumam Nameera penuh kekecewaan.
“Nameera, jaga mulutmu. Kau melakukan kesalahan dan kau harus bertanggung jawab. Bukan menyalahkan orang lain dan menyalahkan orang yang tidak bisa membantumu. Mulai sekarang kau harus belajar menjaga tingkah lakumu,” ucap Zakia ketus.
"Kalian memang tidak menginginkanku," ucap Nameera lirih.
Zakia menyipitkan kedua matanya, jika boleh di sesali merebut Andrew dari tangan Livia adalah kesalah paling fatal yang selalu disesalinya. Sekarang putrinya mengulangi kesalah yang sama sungguh memalukan. Tidak ada harga diri Zakia lagi, ia tidak akan mampu menghadapi Livia dan Sofia mertuanya. “Masuk ke dalam kamarmu dan jangan harap kau bisa keluar dari rumah ini lagi, Nameera!” perintah Zakia dengan nada tegas.
Zakia terduduk di atas sofa sambil jemarinya menekan pelipisnya yang terasa sangat sakit. Di masa lalu ia menyebabkan hubungan suami istri Andrew dan Livia sukses terpisah namun faktanya meski ia mampu mendapatkan raga Andrew, hingga kini tidak bisa mendapatkan cinta Andrew. Pria itu berubah, bukan lagi Andrew yang menyenangkan, ia lebih seperti gunung es tak ubahnya Derren. Pernikahan mereka juga bertahan karena Andrew semata-mata ingin membalas budi atas apa yang pernah di berikan kakaknya kepada Andrew. Zakia telah menyadari sejak lama lebih baik tidak mendapatkan Andrew sama sekali karena lebih menyakitkan menjalani hidup dengan orang yang dicintai dalam satu atap tetapi orang yang dicintai tidak membalas perasaannya.
Sekarang putrinya melakukan kesalahan yang sama, mencintai pria milik Keiko. Andai Zakia tahu lebih awal ia sendiri yang akan menjauhkan Nameera dari hidup mereka karena sangat memalukan jika keturunannya mengikuti jejaknya. Sudah cukup bagi Zakia sendiri seumur hidupnya menyandang predikat sebagai perusak rumah tangga Livia dan tidak di terima oleh keluarga Tjiptadjaja. Meski Livia tidak pernah mempermasalahkan itu dan tidak pernah menaruh dendam kepadanya tetapi untuk urusan Nameera dan Keiko, Zakia tidak yakin bagaimanapun tidak ada seorang ibu yang akan tinggal diam ketika putrinya dicelakai hingga nyaris kehilangan nyawanya. Sekarang yang Zakia rasakan adalah Nameera telah menyusun sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja.
TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️❤️
__ADS_1
🍒🍒🍒