Married With Pilot

Married With Pilot
Ingin memelukmu


__ADS_3

“Siapa nama dokter yang merawat di papa?” tanya Keiko, ia duduk diatas meja wastafel yang terbuat dari marmer yang berwarna putih di dalam kamar mandi seusai melakukan ritual yang memabukkan bersama suaminya. Ia hanya menggunakan handuk yang melilit di dadanya. Di depannya Anthonino berdiri, pria itu hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.


“Oh itu? Dia dokter Edmon Fyodor, ayah Zacky.”


“Zacky?”


“Iya, dia ayah Zacky. Ada apa cintaku?” Anthonino menatap wajah Keiko dengan sorot mata heran karena tidak biasanya topik pembicaraan mereka hari ini terasa berat.


“Aku hanya ingin tahu namanya karena seingatku beberapa kali bertemu di ruang perawatan papa kami tidak saling memperkenalkan diri,” jawab Keiko beralibi sesungguhnya ia telah menyimpan nama dokter itu di dalam memori otaknya. “Ngomong-ngomong apa kau tidak ingin apa mencoba memakai dari dokter lain untuk pengobatan Papa? Mungkin saja dokter lain memiliki diagnosa berbeda dengan dokter Edmon?”


Tenggorokan Anthonino terasa tercekat mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir istrinya karena ia sendiri tidak pernah berpikir sejauh itu mengenai kesembuhan Feliks. “Kudengar salah satu keluargamu ada yang menjadi di dokter spesialis jantung,”


kata Anthonino menginat percakapannya bersama kakak iparnya.


“Dari mana kau tahu?” Keiko mengerjapkan matanya yang indah.


“Derren mengatakanya,” jawab Anthonino.


“Sebenarnya uncle Tommy bukan keluarga kami tetapi dia adalah paman dari kedua kakakku Jonathan dan Derren,” kata Keiko menjelaskan apa hubungan Tommy dengan keluarga Yamada.


“Apa Derren bisa mengobati Feliks?” tanya Anthonino sambil mengambil sebuah handuk kecil dan mulai mengeringkan rambut di kepala Keiko dengan hati-hati menggunakan handuk di tangannya.


“Kakakku hanya dokter umum. Kemudian ia menjadi direktur sebuah rumah sakit di usia muda, dia bukan dokter spesialis,” jawab Keiko?


“Bagaimana dengan Olivia?”

__ADS_1


Keiko justru tergelak. “Olivia, dia spesialis anak.”


Anthonino mengangguk-anggukan kepalanya. “Ayo kita keluar dari sini,” ajak Anthonino sambil membantu istrinya turun dari meja wastafel. Mereka berjalan menuju walk in closet. Sesampainya di dalam ruangan yang di tuju Anthonino mendudukkan Keiko di atas sofa kemudian ia menekuk kakinya di depan Keiko, meletakkan lututnya di lantai.


Telapak tangan yang lebar menggenggam jemari Keiko tatapannya tatapan matanya lurus menatap Keiko kemudian ia berucap, “Aku sangat kagum karena keluargamu benar-benar hebat aku yakin anak kita kelak akan menjadi orang yang sangat hebat juga di masa depan.”


“Kau juga hebat kamu bisa menerbangkan pesawat,” ucap Keiko.


“Ada banyak orang yang bisa menerbangkan pesawat cintaku,” kata Anthonino.


“Kemampuanmu juga luar biasa, kau bisa memegang kendali ebuahh perusahaan padahal kau sama sekali tidak mempelajari bagaimana cara memegang perusahaan bukan?”


“Semua yang kau lihat mungkin berbeda dengan kenyataan. Aku memegang kendali perusahaan karena memang itu adalah keharusan.” Anthonino menjeda ucapannya beberapa detik. “jika boleh memilih aku tidak menginginkan semua ini, aku lebih menikmati pekerjaanku menjadi seorang Pilot,” ucap Anthonino dengan nada yang terdengar pahit.


Anthonino mengamati wajah Keiko dengan tatapan menimbang-nimbang, ia belum mengatakan hal yang sejujurnya kepada Keiko tentang bagaimana hubungan ibunya dengan Feliks. “Aku adalah anak yang tidak diinginkan dari keluarga Petrav.”


Jantung Keiko terasa berdesir. Mereka belum pernah membicarakan hal-hal seperti ini karena Anthonino memang tidak pernah secara detalil membuka jati dirinya. Selama ini suaminya jika diingat-ingat memang tertutup masalah keluarga ia tidak pernah membicarakan apa pun kepadanya secara gamblang. Ternyata alasan itulah mengapa Anthonino selalu menyembunyikan nama Petrav yang ada di belakang namanya.


Keiko melepaskan satu telapak tangannya dari genggaman Anthonino, penuh kasih sayang ia menyentuh sebelah wajah suaminya. “Tidak mungkin ada seorang anak yang lahir didunia ini jika kedua orang tuanya tidak menginginkannya. Jangan berkata seperti itu karena jika tidak ada orang yang menginginkanmu di dunia ini, masih ada aku. Aku menginginkanmu,” ucapan Keiko terdengar begitu tulus dan menenangkan perasan Anthonino yang mungkin sedang bergolak mengingat siapa dirinya.


Anthonino sangat terharu mendengar kata-kata istrinya entah itu menurut Anthonino hanya kata-kata penghiburan atau istrinya berkata seperti itu karena iba yang jelas saat ini perasaannya bahagia. Rasanya ia ingin menerjang tubuh istrinya dan meneriakkan bahwa ia sangat mencintai gadis polos itu. Tetapi, ia tidak melakukannya karena ia bisa saja membuat istrinya ketakutan. Ia hanya memindah posisinya menjadi duduk di samping Keiko, ia mempermainkan jari jemari lentik Keiko sambil memfokuskan pandangannya dan memutar-mutar cincin yang melingkar di jari Keiko. Cincin pernikahan mereka.


“Ibu kandungku adalah wanita yang di semayamkan di Guangzhou. Menurut Innesa ayahku dan ibuku tidak pernah menikah dengan kata lain aku adalah anak haram,” ucap Anthonino dengan suara lirih, mungkin suara itu nyaris tak terdengar siapa pun namun Keiko masih bisa mendengarnya.


Jadi ia tidak bersedia memberiku anak tanpa pernikahan karena ia tidak ingin anak yang lahir nanti mengalami nasib serupa dengannya?

__ADS_1


"Apa kau pernah mengkonfirmasi kepada Papa dan mendiang ibumu?"


Kembali leher Anthonino terasa tercekat, sesak tiba-tiba mengimpit dadanya dan ia hanya menggeleng lemah. Selama ini ia hanya percaya dengan apa yang di katakan Innesa kepadanya, ia terlanjur membenci ayahnya. Setelah hening beberapa saat Anthonino berucap dengan nada dingin, “sebenarnya aku membenci Feliks seumur hidupku."


"Kenapa?"


“Aku bertemu ibu kandungku setelah aku lulus dari bangku sekolah menengah atas. Saat itu keadaan ibu kandungku tidak baik. Dia divonis depresi, dokter mengatakan penyebabnya adalah aku karena ayahku memisahkan aku dari darinya.”


Keiko mengangguk-angguk mendengarkan cerita Anthonino, ada nyeri menusuk dadanya seolah ia dapat merasakan kepahitan yang mendera di dada suaminya.


“Kami terpisah kembali karena aku harus belajar dengan namun setiap bulan aku biasanya menjenguk ibuku. Setelah ibuku dinyatakan sembuh aku membawanya kembali ke Guangzhou untuk berkumpul kembali bersama keluarganya tetapi tetap saja semua tidak mengubah keadaan karena baru beberapa minggu setelah itu ibuku mengalami kecelakaan dan meninggalku untuk selamanya.”


“Maafkan Aku,” ucap Keiko sambil menggenggam erat telapak tangan Anthonino. “Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih mengingat ibu kandungmu.” Keiko benar-benar merasa bersalah karena sejak awal ia yang memulai pembicaraan yang menjurus kepada masalah pribadi suaminya.


“Kau berhak tahu apa pun tentangku karena kau istriku,” kata Anthonino sambil memberikan kode kepada Keiko untuk duduk di pangkuannya. "Aku ingin memelukmu," ucap Anthonino. Yang ia inginkan sekarang adalah Keiko berada di dalam pelukannya untuk meredakan rasa nyeri yang menusuk di dadanya.


RATE BINTANG LIMA PLISH ❤️❤️❤️


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️


TERIMA KASIH ❤️


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


JANGAN LUPA RAMAIKAN JUGA KARYAKU YANG BERJUDUL LAURA ❤️

__ADS_1


__ADS_2