Married With Pilot

Married With Pilot
Preman jalanan


__ADS_3

Ketika hendak kembali ke hotel Keiko merengek ingin merasakan naik kereta di Guangzhou, jadi ia memerintahkan Arima untuk kembali lebih dulu, namun Arima menolak dengan tegas, pria itu memilih meninggalkan mobil di banding meninggalkan tuannya.


“Biar orang saya yang mengurus mobil,” jawab Arima.


“Terserah kau saja,” kata Anthonino sambil melangkah menuju stasiun kereta terdekat.


“Hubby, apa kau memiliki keluarga di sini?” tanya Keiko saat mereka sedang berdiri di tepi peron menunggu kereta yang akan segera datang.


”Nenek dan kakekku ada di sini,” jawab Anthonino.


“Kenapa tidak mengunjungi mereka?”


“Kita akan mengunjungi mereka nanti, kita akan membawakan mereka cicit,” kata Anthonino sambil mencium punggung telapak tangan Keiko.


“Apa aku sudah hamil?” tanya Keiko.


“Menurutmu?” Anthonino justru balik bertanya.


Belum sempat Keiko menjawab kereta yang mereka tunggu datang, karena itu adalah sore hari di mana itu adalah jam karyawan kembali dari bekerja, kereta menjadi penuh sesak. Mereka berdiri di dekat pintu karena tidak ada bangku tersisa lagi, Anthonino mengurung tubuh Keiko di dalam kungkungan lengannya agar istrinya tidak tersenggol senggol penumpang lain. Sesekali Anthonino juga membenarkan topi yang di kenakan istrinya agar orang-orang tidak mengenali wajahnya, Keiko bahkan mengenakan masker di wajahnya.


Setelah mereka turun dari kereta, Keiko bergegas membuka maskernya. “Kadang aku iri pada gadis biasa,” gumamnya sambil memasukkan masker ke dalam saku jaketnya.


Anthonino merangkul pundak Keiko sambil mereka melangkah dengan santai tanpa menjawab perkataan Keiko.


Baru saja mereka keluar dari stasiun tiga orang berpakaian seperti berandal tiba-tiba menghadang mereka, lengan mereka penuh dengan tato. Keiko sontak menciut dan merapatkan tubuhnya pada Anthonino.


“Hubby apa kita akan di rampok?” Keiko bertanya dengan nada polosnya.


“Tidak, mereka hanya berandal pemabuk yang butuh uang,” bisik Anthonino pelan menggunakan bahasa inggris.


“Serahkan dompet kalian!!!” kata salah satu di antara tiga berandal, sambil memukul-mukulkan benda yang mirip tongkat bisbol ke sebelah telapak tangannya.


“Hubby, berikan saja dompetmu,” suara Keiko terdengar bergetar, bahkan tubuhnya juga telah bergetar wajah putihnya tampak pucat pasi seperti aliran darahnya telah terhenti.

__ADS_1


Anthonino merengkuh kepala istrinya membenamkan ke dalam dadanya, “jangan di lihat, pejamkan matamu sayang,” bisik Anthonino dengan tenang.


“Arima, bereskan mereka, cari tahu siapa yang mengutus mereka,” desis Anthonino, dadanya bergemuruh menahan amarah, jika saja tidak ada gadis lugu yang menempel di dadanya ia pasti telah menembak kepala tiga preman jalanan itu, Ingin sekali Anthonino menarik senjata api yang tersemat di pinggangnya jika tidak mempertimbangkan kemungkinan istrinya bisa saja ketakutan padanya.


Ia menjentikkan jemarinya Arima dan sorang yang berpakaian biasa yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri segera maju menghajar preman jalanan itu.


Rahangnya mengeras sambil mengangkat tubuh Keiko, menggendongnya ala bridal style melangkahkan kakiny menuju hotel, sementara Keiko masih menyembunyikan wajahnya di dada Anthonino hingga mereka tiba di dalam kamar hotel tempat mereka menginap.


“Buka matamu sayang, kita telah aman,” bisik Anthonino.


“Apa mereka mengambil dompetmu?” tanya Keiko dengan suara lirih.


“Arima membereskan mereka,” jawab Anthonino dengan perasaan geli, apa istrinya pikir dompetnya akan dengan mudah diserahkan kepada begundal jalanan?


“Di mana Arima? Apa ia terluka?” Keiko segera berusaha melepaskan dirinya dari Anthonino begitu mendengar Arima menghadapi preman-preman yang menghadang mereka.


Anthonino tersenyum, “mereka bukan lawan Arima, ayo bersihkan tubuh kita, setelah itu kita makan.”


“Tapi--”


“Apa kau seorang gangster?” tanya Keiko dengan mimik konyolnya.


“Gangster hanya ada di dalam film action sayang,” jawab Anthonino dengan kilatan mata dingin.


“Benarkah?” tanya Keiko, ia tidak yakin, ia menaruh curiga pada suaminya, suaminya sangat ahli dalam menembak, suaminya itu bertangan dingin, suaminya bisa membungkam media, suaminya memiliki banyak pengawal yang sangat ketat dan tersembunyi.


Anthonino mengangguk, “Ayo mandi, tubuhku terasa lengket, kita terlalu banyak tinggal di luar ruangan hari ini, dan kau juga pasti lelah bukan?”


Keiko mengangguk meski ia sedikit pun tidak puas dengan jawaban suaminya, ia yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya.


Pagi harinya Keiko menyantap sarapannya dengan anggun, sesekali ia melirik ke arah Anthonino yang duduk tepat di depannya, pria itu telah selesai dengan sarapannya, ia hanya memakan dua lembar roti dan secangkir kopi pagi itu.


“Hari ini aku yang akan menerbangkan pesawat sendiri, apa kau mau duduk di bangku co pilot?” tanya Anthonino.

__ADS_1


“Ke mana pilotmu?” tanya Keiko seoalh tidak tertarik dengan tawaran suaminya.


“Bukankah aku seorang pilot?” Anthonino balik bertanya.


“Kau bukan pilot,” protes Keiko.


“Lisensi pilotku tidak mungkin di cabut, bahkan jika aku kehilangan perusahaan, aku masih bisa bekerja menjadi pilot lagi,” jawab Anthonino dengan nada percaya diri.


“Baguslah, setidaknya suamiku bukan pengangguran,” jawab Keiko acuh.


“Kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku meskipun aku menjadi pengangguran cintaku,” kata Anthonino dengan nada menggoda.


“Kau terlaku percaya diri,” kata Keiko menutupi kegugupannya, ia membelalakkan matanya karena merasa di goda Anthonino.


“Aku rindu menerbangkan pesawat, bagiku menerbangkan pesawat dan melihat dunia dari atas, menembus awan sangat menenangkan” suara Anthonino terdengar getir, entah karena apa, hanya dia yang tahu.


Keiko mengerjap-ngerjapkan matanya memandangi wajah suaminya yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Meski sekarang ada yang lebih menyenangkan dari pada menerbangkan pesawat,” Anthonino meralat kata-katanya saat ia menyadari istrinya memandanginya dengan tatapan curiga.


“Oh ya apa itu?” tanya Keiko dengan acuh sambil melahap paprika dari garpunya.


Anthonino tidak menjawab, tatapannya justru berpindah pada tangan Keiko yang kini tengah asyik menusuk tomat Cherry dengan garpunya namun rupanya tomat itu tampak licin dan menggelinding di piringnya, Anthonino tersenyum simpul, ia mengambil garpu miliknya dan menusuk tomat itu dengan garpu di tangannya kemudian menyuapkan ke dalam mulut Keiko.


‘Benar-benar seperti anak kecil,’ batin Anthonino gemas.


Akhirnya sarapan pagi Keiko selesai dengan bantuan Anthonino.


“Hubby jam berapa kita terbang ke Tokyo?”


YUHUUUUU ❤❤❤


MUNGKIN AKU AKAN HIATUS DARI MANGATOON SELAMA SATU BULAN DI MULAI TANGGAL 1 FEBRUARI UNTUK KONSENTRASI PADA SESUATU 🤗🤗🤗

__ADS_1


DOSKAN YA SEMUA BERJALAN LANCAR ❤❤❤


__ADS_2