
Mereka tiba di sebuah sreet food di jalanan Xinhua Lu di Guangzhou.
“Arima, kau bisa berjalan jalan, nikmati waktumu, aku yang akan menjaga nonamu,” kata Anthonino kepada Arima.
“Tapi sir,” Arima hendak melayangkan protesnya.
“Arima, aku ingin menikmati waktuku bersama suamiku,” potong Keiko cepat. “Aku pasti akan memanggilmu jika aku memerlukan bantuanmu,” kata Keiko sambil memberikan kode meminta tas tangan miliknya yang berada di tangan Arima.
Bibir Anthonino menyunggingkan sedikit senyum kemenangan, tidak sulit membahagiakan Keiko, hanya membawanya pergi ke street food gadis itu seperti menemukan harta karun yang tak ternilai harganya.
Keiko dengan penuh semangat bahkan meraih pergelangan tangan Anthonino lalu berjalan di depan Anthonino setengah menyeret pergelangan tangan pria itu.
Keiko berjalan seperti tanpa tujuan, semua stan makanan ia datangi, ia kebingungan memilih makanan yang hendak ia beli.
“Nino aku ingin semua,” rengek Keiko dengan mata berbinar indah melihat semua jenis makanan yang di jual di area tersebut.
“Ayo kita cicipi semua,” ajak Anthonino.
“Aku mau ini” Keiko menunjuk tumpukan dumpling.
“Kau harus mencobanya,” kata Anthonino, namun pria itu justru menarik tangan Keiko menuju ke tempat lain.
Setelah Anthonino memesan makanan dengan menggunakan bahasa mandarin, tidak lama berselang makanan yang di pesan Anthonino datang, satu porsi Dupling dan dua mangkuk sup wonton yang khas dengan Potongan daging ****, bola-bola udang, dan kepiting yang lezat itu menawarkan ledakan kelezatan di setiap gigitannya.
__ADS_1
“Mmmmmmmm” gumam Keiko, ia bahkan memejamkan kelopak matanya erat-erat saat ia menyeruput kuah wonton dari sendoknya. “Sangat lezat, aku ingin satu mangkuk lagi,” pinta Keiko dengan nada merengek, sup di depannya bahkan belum habis dan Keiko mengatakan menginginkan satu mangkuk lagi.
Anthonino menggeleng, “Aku tidak mengizinkan,” katanya.
“Kenapa? Pelit sekali,” tanya Keiko yang di barengi dengan dengusan kesal.
“Jika kau memesan lagi di sini kau akan terlalu kenyang, kau tidak akan bisa mencicipi makanan di tempat lain,” Anthonino menjelaskan.
“Kau benar hubby,” Keiko membenarkan logika suaminya.
“Apa kau menyukai kota ini?” tanya Anthonino.
“Kita akan sering berkunjung ke sini jika kau menyukainya,” kata Anthonino.
Melihat Keiko yang tampak begitu antusias memakan bola-bola udang dan kepitingnya, Anthonino menjepit makanan di mangkuknya menggunakan sumpitnya dan memindahkan bola-bola udang dan kepiting ke dalam mangkuk Keiko.
“Jangan terburu-buru,” Anthonino memperingatkan Keiko yang makan dengan lahap dan sedikit terburu-buru.
“Jika Lelya melihat hal ini ia akan marah padamu” kekeh Keiko sambil menjepit bola-bola udang dan melahapnya, “Apa kau tidak masalah jika istrimu ini menjadi gemuk?” tanya Keiko.
__ADS_1
“Apa pun bentuk tubuhmu tidak masalah bagiku, lagi pula aku lebih suka kau bermain piano dari pada kau menjadi seorang model cintaku, dan jika kau menjadi gemuk itu berkah untukku,” kata Anthonino di sertai senyuman hangat.
“Aku belum memiliki rencana untuk berhenti dari dunia fashion, kau tahu? aku harus mendongkrak namaku sendiri, menjadi pianis hebat saja tidak cukup jika tidak di dukung dengan ketenaran,” jawab Keiko.
“Apa kau ingin mengadakan konser tunggal? Aku bisa membantumu,” tanya Anthonino.
“Aku belum memenuhi syarat untuk itu,” Keiko menjawab dengan nada sedikit rendah dan terkesan wajahnya berubah menjadi sedikit murung.
“Ku rasa waktumu terlalu banyak di sita dengan kegiatan modelingmu,” kata Anthonino mengeluarkan pendapatnya.
“Kau benar, tapi jika aku hanya berada di depan piano aku akan mudah bosan, aku tidak bisa jika hanya menghadapi partitur musik setiap hari, aku perlu kegiatan yang menyenangkan.”
“Bukankah kau cukup sering bersenang-senang akhir-akhir ini?” tanya Anthonino dengan di sertai seringai nakal di wajahnya.
“Bersenang senang?” Keiko dengan polosnya bertanya.
Anthonino tersenyum menggoda dan menatap wajah cantik Keiko lalu mengangkat sebelah alisnya, Keiko segera mengerti dengan apa arti bersenang-senang yang di maksud suaminya, sontak wajah Keiko memerah.
“Pria cabul,” gerutu Keiko.
“Kau menikmati kecabulanku cintaku,” goda Anthonino.
Wajah Keiko semakin memerah, ia menundukkan wajahnya dan menghirup kuah wonton dengan menggunakan sendok dari pada menanggapi perkataan suaminya yang membuat wajahnya semakin memanas.
__ADS_1
Tap jempol kalian ❤❤❤❤❤❤