Married With Pilot

Married With Pilot
Baby Stefano


__ADS_3

TAP JEMPOL KALIAN SEBELUM MEMBACA


Lima bulan kemudian.



Keiko baru saja melahirkan melalui operasi caesar karena ia ketakutan untuk melahirkan secara karena, yang ia dengar melahirkan secara normal itu menyakitkan. Begitu juga Anthonino ia tidak mengizinkan istrinya mengalami kesakitan sehingga mereka menentukan sendiri tanggal kelahiran putra pertama mereka. Keiko akhirnya harus puas karena bayi yang di yang ada di dalam kandungannya bukan bayi berjenis kelamin perempuan seperti yang ia inginkan. Tetapi apa saja yang di berikan Tuhan adalah anugerah, Keiko tetap mensyukuri, menerima, menyambut kelahiran putranya pertama mereka buah cintanya dengan Anthonino dengan sangat bahagia.


Antonim terus saja menggendong putranya yang tertidur dengan posesif. Bayi merah itu sesekali menggeliat kemudian menjilati bibirnya menggunakan lidah mungilnya, pipinya begitu bulat dan kulitnya putihnya tampak bersemu merah. Sesekali ia membuka matanya, tampak begitu enggan kemudian menutup lanjutkan tidurnya.


“Astaga letakkan bayi itu, Hubby,” kata Keiko yang duduk di atas ranjang pasien.


“Cintaku, lihat anak kita, dia sangat lucu. Pasti kelak saat dewasa akan tumbuh setampan aku.” Anthonino mendekat ke ranjang pasien kemudian memamerkan putranya kepada istrinya.


Keiko memutar bola matanya, seperti tidak senang. Tentu saja ia kesal karena suaminya sudah dua hari sejak bayi kecil itu lahir di dunia berkali-kali suaminya hanya mengatakan kalimat itu. Suaminya itu bahkan tidak pergi bekerja dan tidak pergi ke mana-mana, ia terus menggelayuti putranya.


“Hubby, letakkan Stefano di tempat tidurnya,” kata Keiko sambil merekam suaminya yang melebih-lebihkan kasih sayangnya kepada Stefano buah cinta mereka menggunakan ponselnya untuk di bagikan di media sosial.


Mereka berdua sepakat memberi nama Stefano Petrav pada bayi mungil buah cinta mereka yang baru saja datang ke dunia, Stefano dalam bahasa Spanyol berarti mahkota kemenangan.


Anthonino tidak pedulikan apa yang diucapkan istrinya, ia tetap saja menggendong Stefano sambil bernyanyi-nyanyi kecil.


“Cintaku, lihat. Stefano tersenyum, ia pasti menyukai suaraku,” ucap Anthonino.


Demi Tuhan, Keiko tidak mengira jika suaminya berubah menjadi kekanakan.

__ADS_1


Terdengar pintu kamar terbuka, ternyata dokter Zacky datang membawa sebuah bingkisan yang berukuran sangat besar berwarna biru langit.


“Kei, selamat untuk kelahiran putra pertamamu,” ucap Zacky sambil meletakkan bingkisan yang ada di tangannya ke atas sofa yang berada tak jauh dari ranjang pasien.


“Terima kasih, Uncle dokter,” kata Keiko menirukan suara anak kecil.


Anthonino tampak menoleh melirik kedatangan sahabatnya menggunakan ekor matanya, ia masih bernyanyi-nyanyi kecil sambil mengagumi wajah putranya yang ia anggap mirip dengan dirinya.


Ketika Zacky mendekat untuk melihat wajah bayi mungil itu Anthonino mendadak menjauh sambil melotot galak. “Jangan dekati putraku, kau seorang dokter. Pasti tubuhmu banyak membawa bakteri dan virus,” katanya.


Zacky mendengus. Ia hampir tidak bisa membuka mulutnya karena sahabatnya itu berubah menjadi pria yang sangat menyebalkan dalam waktu sekejap menyandang predikat ayah. “Aku seorang dokter lebih mengerti menangani virus dan bakteri dibanding dirimu,” ucap Zacky tidak mau kalah.


“Jangan pedulikan dia, sekarang ia sangat berlebihan.” Keiko menggelengkan kepalanya sambil jemarinya mengetik di layar ponselnya karena ponselnya menjadi sangat sibuk akhir-akhir ini semenjak Stefano lahir. Teman-teman dan keluarganya terus menanyakan kabar Stefano dan tidak sabar ingin berjumpa dengan Stefano.


“Aku bahkan tidak akan menyentuhnya, aku hanya ingin melihat wajahnya. Aku harap wajahnya mirip keluargamu nanti, jangan sampai dia mirip ayahnya,” gerutu Zacky.


Anthonino akhirnya mengalah, ia mendekat kepada Zacky dan membiarkan Zacky melihat wajah putranya. “Kau seharusnya juga memiliki istri agar putra kita nanti bisa melanjutkan persahabatan kita,” katanya.


“Tampan seperti Kenzo,” ucap Zacky seolah mengejek sahabatnya.


“Dia putraku bukan putra Kenzo,” sungut Anthonino.


“Aku tidak mengatakan ini putra Kenzo,” jawab Zacky penuh kemenangan.


“Oh iya, apa yang kubawakan untuk putraku?”

__ADS_1


“Hanya mainan anak-anak,” jawab Zacky.


“Putraku masih sangat kecil untuk apa kau membelikan dia mainan? Dia tidak bisa bermain,” kata Anthonino.


Keiko mencubit batang hidung di antara kedua matanya, suaminya bersikap tidak rasional sekarang.


Zacky hampir mati tersedak mendengar ucapan Anthonino. “Astaga, suamimu kehilangan akalnya jangankan bermain putramu itu hanya bisa mengompol, minum susu dan tidur. Tapi, ia akan membesar dan mainan yang kubelikan bisa menunggunya,” katanya dengan nada kesal.


“Seharusnya kau membelikannya nanti saja, biarkan ia memilih mainan apa yang ia inginkan,” ucap Anthonino.


Zacky benar-benar ingin mengguncang kepala sahabatnya agar otaknya kembali ke tempat semula. “Saat ia pandai memilih nanti, ia akan memilih sebuah Lamborghini Aventador tetapi sekarang sepertinya aku lebih baik menyingkir dari tempat ini daripada harus menghadapi suamimu yang bisa membuatku mengalami tekanan darah tinggi,” katanya.


Keiko terkekeh mendengar perdebatan kedua pria di depannya.


“Baiklah, aku akan pergi tapi aku ingin tahu, setelah ini apa kau sudah merencanakan kontrasepsi apa yang akan kau gunakan untuk menunda kehamilanmu kembali?” tanya Zacky.






__ADS_1


🍒🍒🍒🍒


Foto baby Stefano menyusul.


__ADS_2