
Keiko dan Anthonino telah mendiami tempat tinggal baru yang diberikan kepada mereka sebagai hadiah pernikahan.
Semuanya telah disediakan oleh Naoki, mereka benar-benar hanya tinggal membawa diri mereka untuk tinggal di sana. Hari pertama mereka tinggal tidak ada tidak banyak yang mereka lakukan, seperti biasa bekerja dengan laptopnya sementara Keiko bekerja dengan tumpukan kertas yang berisi partitur musik buatannya.
Mereka duduk berhadap-hadapan namun mereka tidak ada yang bersuara karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing setelah beberapa jam berlalu akhirnya minum menutup laptopnya kemudian ia menatap wajah istrinya.
“Cintaku bersiaplah,” kata Anthonino.
Keiko menghentikan gerakan tangannya yang masih menggambar partitur musik kemudian mendongakkan wajahnya menatap wajah suaminya, “Bersiap?”
Anthonino mengangguk kecil, “ya, bersiap hari ini kita akan bertemu Mommy.”
“Tapi--,” Keiko berhenti sejenak, “apa kau yakin?” alis Keiko tampak berkerut.
“Kenapa tidak yakin?” Anthonino mengangkat kedua alisnya.
“Mommy, dia itu sangat pemarah...” ucap Keiko sedikit menggumam.
“Benarkah? Aku rasa tidak, dia sama manisnya seperti dirimu,” kata Anthonino dengan tatapan menggoda.
“Aku lebih manis,” sanggah Keiko yang tidak terima disebut sama manisnya dengan ibunya, menurut Keiko ibunya itu sangat pemarah dan menyebalkan karena terlalu cerewet.
__ADS_1
“Ya kau lebih manis, tetapi aku rasa Crystal lebih manis,” ucap Anthonino semakin menggoda istrinya.
Keiko membesarkan bola matanya melotot ke arah Anthonino, “kalau begitu menikah saja dengan kristal,” ucap Keiko ketus.
Anthonino terkekeh, “menunggu kristal dua puluh tahun lagi mungkin aku telah menjadi seorang kakek,” ucap Anthonino terdengar putus asa.
Keiko tertawa senang mendengar apa yang diucapkan Anthonino, “aku penasaran bagaimana bentukmu saat kau menjadi seorang kakek.” Keiko justru semakin tertawa terpingkal-pingkal.
“Mungkin seperti ayahku,” kakak Anthonino sambil matanya menerawang membayangkan ayahnya tanpa mempedulikan tawa Keiko yang mengejeknya, ayahnya yang telah menua dan terbaring tak berdaya ya di atas ranjang pasien, pria itu sangat mengenaskan keadaannya sekarang. Ada sakit yang menggigit di dalam benak Anthonino, walaupun Bagaimana jahatnya Feliks di masa lalu tetap saja dia adalah ayah kandungnya tanpa pria itu pastikan Anthonino tidak ada di dunia ini.
Sepertinya Anthonino harus sedikit mengalah kepada pria itu, dan sepertinya tidak wajar jika Anthonino tidak mengenalkan istrinya kepada pria yang dianggapnya jahat itu.
Anthonino menepis bayangan pria tua di otaknya, ia bangkit dari duduknya kemudian menangkap tubuh Keiko yang masih tertawa terbahak-bahak membayangkan masa tuanya.
“Apakah kau akan tetap tampan saat kau menjadi tua!” Keiko masih tertawa terpingkal-pingkal.
“Kau juga akan menjadi tua saat aku menua. Kita akan menua bersama.” Anthonino tentu saja tidak terima Keiko membayangkan dirinya menua sementara sepertinya Keiko merasa ia akan tetap terus-terusan muda.
“Kau lebih tua dariku tentu saja aku tidak akan secepat itu menua kita tidak akan menua bersama, kau akan menjadi tua lebih dulu.” Keiko tidak terima dengan ucapan suaminya yang mengatakan mereka akan menua bersama.
“Kau tidak juga akan menjadi nenek-nenek kelak.” Anthonino tidak mau kalah.
__ADS_1
“Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak mau menjadi nenek-nenek,” kata Keiko yang kini berada di atas pangkuan suaminya.
Anthonino semakin gemas dengan tingkah Keiko, “apa setelah menjadi nenek-nenek kau akan tetap cantik seperti ini? Seperti Mommy, Mommy masih cantik meskipun menjadi nenek.” Anthonino memuji kecantikan ibu mertuanya.
Kiko kembali tergelak mengingat ibunya yang tidak terima dipanggil nenek, “kau tahu? Mommy tidak mau di panggil nenek oleh cucunya.” Keiko memberi tahu suaminya.
“Oh ya?” Anthonino memandang wajah Keiko, tidak bukan wajahnya, lebih tepatnya bibir Keiko.
“Dia meminta cucunya memanggilnya NECAN.”
Anthonino mengerutkan keningnya, “necan?”
“Ya, necan.”
“Apa itu?” Anthonino semakin tidak mengerti.
“Itu sebuah singkatan, artinya nenek cantik,” kata Keiko menjelaskan arti 'necan' yang di maksud. “Bahasa Indonesia,” lanjut Keiko.
Anthonino menyeringai mendengar penjelasan Keiko. “Kalau begitu aku ingin mencium calon necan yang satu ini.”
Dan tanpa menunggu persetujuan Keiko, bibir Anthonino telah menempel di bibir ranum milik Keiko. Menciumnya penuh hasrat yang terpendam.
__ADS_1
TAP JEMPOL KALIAN DAN TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤️❤️❤️❤️
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸