
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
Dua Minggu kemudian.
Setelah membersihkan tangannya Anthonino menghampiri istrinya yang sedang mengawasi pelayan membuatkan kue yang di inginkannya. Anthonino menghadiahkan kecupan manis di kening istrinya kemudian menekuk kakinya untuk menyapa calon buah hati mereka yang berada di dalam perut istrinya.
“Bagaimana keadaan Papa?” Keiko menanyakan kabar ayah mertuanya karena suaminya batu saja kembali dari rumah sakit untuk menjenguk ayahnya.
“Papa menanyakanmu,” jawab Anthonino sambil kembali menyapukan bibirnya di kening istrinya.
“Aku merindukan Papa juga, sayang sekali hari ini aku tidak bisa menjenguk Papa,” sesal Keiko. Kebetulan hari itu ia baru saja menyelesaikan beberapa pengambilan gambar bersama Philip dan Samantha.
“Kita bisa menjenguk lagi besok,” kata Anthonino. Tangannya menarik sebuah bangku dan mendudukkan istrinya kemudian ia menarik satu kursi kembali dan duduk di samping Keiko.
“Apakah Papa sudah bisa berbicara hari ini?”
Anthonino menggeleng lemah, ia masih merasa bersalah atas apa yang menimpa ayahnya. Ia sangat menyesal, bahkan penyesalannya atas kematian Isabel dulu tidak ada seujung kuku di banding penyesalannya membenci ayahnya tanpa tahu cerita sesungguhnya. “Papa masih kesusahan untuk membuka rahangnya tetapi dia bisa menggerakkan jarinya, Papa bisa mengetik beberapa kata di layar ponsel,” katanya.
“Wow... luar biasa, aku ingin segera bertemu Papa tetapi beberapa hari ke depan aku masih sangat sibuk” ucap Keiko dengan nada yang penuh kekecewaan yang bersungguh-sungguh.
“Kapan kau berhenti bekerja?” Anthonino tampak mengerutkan keningnya karena hingga sekarang istrinya itu sepertinya masih menikmati pekerjaannya.
“Kami akan menyelesaikan pengambilan gambar untuk pakaian musim semi dan minggu depan adalah pertunjukan terakhir untuk pakaian musim semi,” jawab Keiko dengan nada begitu ringan seolah ia tidak sedang berbadan dua.
“Kau akan berjalan di atas cat walk? Kau juga akan menggunakan sepatu hak tinggi seperti tongkat? Tidak! Aku tidak mengizinkan,” ucap Anthonino dengan nada tegas.
Mendengar ucapan suaminya Keiko bangkit dari duduknya, ia berkacak pinggang di depan suaminya sambil matanya melotot galak. “Saat aku tertidur kau bersumpah akan membiarkan aku mengembangkan karierku asal aku bangun, kenapa kau sekarang mengingkari janjimu?”
__ADS_1
“Dari mana kau tahu itu?” Anthonino mengerutkan keningnya karena terkejut istrinya mengetahui kalimat yang pernah ia ucapkan saat ia sedang dalam keadaan koma tidur.
“Sam merekam semua saat kau menjagaku,”
jawab Keiko dengan nada penuh kemenangan telak ia memiliki kartu AS di tangannya.
“Philip atau Sam?” Anthonino ingin memastikan, ia masih merasa Philip adalah sebuah ancaman baginya.
“Mereka berdua,” jawab Keiko, siapa pun yang memberi tahunya ia tidak ingin ada tahu.
“Di mana rekaman itu?”
“Kau ingin menghilangkan barang bukti? Hahaha... Tidak mungkin Hubby karena aku telah mengirimkan kepada Kenzo,” jawab Keiko. Sekali lagi ia menari-nari di atas kemenangan atas suaminya.
“Untuk apa?”
“Jangan merayuku, aku tetap tidak akan mengizinkanmu berjalan dibatas cat walk. Titik,” kata Anthonino tegas.
“Lihat, kau mengingkari janjimu!” Keiko masih berkacak pinggang di depan Anthonino.
“Aku hanya sedang merayumu saat itu agar kau bangun,” jawab Antho dengan nada ringan tanpa beban.
“Berani-beraninya kau berbohong kepadaku,” sungut Keiko.
“Aku tidak menginginkanmu melakukan fashion show tidak akan pernah,” kata Anthonino dengan nada tegas.
Keiko mendengus. “Kau mengingkari janjimu, aku tidak akan pernah membiarkanmu mengunjungi anakku,” ucapnya sambil satu tangannya menunjuk ke arah bawah Anthonino.
__ADS_1
“Anak kita.” Anthonino meralat ucapan istrinya. Bagaimana mungkin hanya anak Keiko sementara mereka berdua berh0juang membuatnya hingga terkadang kurang tidur dan mandi peluh.
“Kecuali kau menepati janjimu.” Keiko mengangkat dagunya.
Itu adalah kartu AS milik Keiko, tentu saja Anthonino hanya mampu mengalah, tidak bisa mengunjungi calon putranya. Apa-apa? Istrinya yang dulunya polos sekarang pandai menyiksa dan membuatnya tak berdaya.
“Baiklah, aku akan mengizinkanmu tetapi aku yang menentukan tinggi hak sepatu yang akan kau kenakan, aku yang akan memilihkannya,”
kata Anthonino dengan nada pasrah.
“Kau seperti mengenal dunia fashion saja.” Keiko mendengus, ia masih tidak ingin mengalah kepada suaminya.
“Jangan meremehkanku,” geram Anthonino sambil matanya sedikit menyipit menatap ke arah istrinya yang sekarang seperti seekor rubah licik.
Keiko menatap mata biru suaminya dengan tatapan jengkel. “Menyebalkan, kau tahu aku tidak bisa memakai sepatu terlalu pendek tinggi badanku tidak sampai 190 cm. Jika aku menggunakan sepatu terlalu pendek aku akan tenggelam di antara model-model yang lain,” ucap Keiko gusar.
“Jika tinggimu 190 cm aku akan berpikir ulang untuk menikahimu. Itu terlalu tinggi untukku,” jawab Anthonino sambil tertawa kecil.
Wajah Keiko menjadi gelap karena guyonan suaminya sangat menjengkelkannya, ia hendak membalikkan tubuhnya tetapi suaminya menangkap pergelangan tangannya dan membawanya ke dalam pelukannya. Anthonino mengecup lembut bibirnya dan berucap, “aku sangat mengagumimu, bahkan jika tinggimu lima meter aku akan menikahimu.”
Keiko ingin sekali menggigit lengan suaminya karena hampir membuatnya kesal setengah mati tetapi ia tidak melakukannya.
Malam hari setelah Keiko tertidur, Anthonino turun dari atas ranjang mereka. Ia berjalan menuju ruang belajar dan mengeluarkan tumpukan dokumen yang ia ambil dari mansion yang semula di tempati Innesa dan ayahnya. Perlahan ia membuka satu persatu tumpukan dokumen usang itu dan mulai membacanya. Batinnya terasa sangat sesak bagai ribuan batu gunung menindihnya.
YANG NUNGGU PART ANDREW SABAR YAH, ADA DI FOUND LOVE IN KYOTO PARTNYA TAPI BARU AKU UP SEPARO.
TAP JEMPOL KALAIAN DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️
__ADS_1