Married With Pilot

Married With Pilot
Gaun malam


__ADS_3

Pagi hari Anthonino baru saja pergi ke perusahaan untuk bekerja, tidak lama setelah Anthonino pergi datang seorang wanita utusan dari Innesa. Wanita separuh baya itu membawa sebuah kotak yang tampak sangat mewah.


“Nyonya besar mengirimkan ini untuk nona muda,” ujar utusan Innesa. “Nyonya besar mengatakan ini adalah gaun untuk dikenakan saat pesta makan malam yang akan dilaksanakan besok.” pelayan itu memberi tahu apa pesan dari nyonya besarnya Innesa seraya menyerahkan kotak kepada Lelya yang berdiri di samping Keiko.


Keiko tersenyum kemudian ia berucap, “terima kasih tolong sampaikan salamku kepada Mama aku akan memakainya.”


Pelayan itu mengundurkan diri meninggalkan tempat itu. Lelya meletakkan kotak yang di pegangnya dan membuka kotak yang ternyata berisi pakaian sebuah gaun berwarna merah. Ketiganya saling berpandangan.


“Kei, kau yakin akan memakai ini?” Lelya mengerjapkan matanya.


“ini sama sekali tidak pantas untuk dipakai untuk perjamuan makan malam apalagi untuk pengenalan seluruh keluarga.” Sarah mengambil dan membentangkan gaun yang terlipat di dalam kotak.


“Ada yang tidak beres dengan ibu mertuamu,” kata Lelya.


“Aku akan tetap pemakainya,” kata Keiko, ia menyipitkan kedua matanya.


“Tetapi pakaian ini terlalu terbuka Kei. Yang benar saja,” gerutu Sarah.


“Kei, Apa kau yakin hubungan ibu mertuamu baik-baik saja denganmu?” Lelya mengamati wajah Keiko.


Keiko mengelus sebelah alisnya menggunakan ujung jemarinya. Kemudian ia bergumam, “dia terlihat seperti orang yang sangat lemah lembut dan kelihatannya sangat dikagumi oleh Nino.”

__ADS_1


“Artinya aku tidak yakin,” kata Sarah, ia memang lebih sering berbicara terus terang di banding Lelya.


“Kalian akan melihatnya besok.”


“Sekarang yang harus kita pikirkan adalah gaun ini.” Sarah membentangkan gaun yang berwarna merah di di atas sandaran sofa.


“Gaun ini lebih cocok dipakai ke klub malam, di mana mungkin kau memakainya di hadapan para tetua dan keluarga.” Lelya menggelengkan kepalanya, dari sorot matanya ia tampak sangat murka karena ada orang yang berani memperlakukan Keiko dengan sangat tidak hormat.


“Ayo kita berpikir bagaimana caranya agar gaun ini menjadi lebih indah dan sopan.” Sarah berjalan mondar-mandir sambil menimang-nimang ponsel di tangannya.


Setelah beberapa kali ia mengitari sofa sambil mengamati gaun merah yang kekurangan bahan itu, gaun itu hanya akan melekat menutupi bagian dada dan hanya satu jengkal dari pinggul Keiko jika di kenakan. Sarah meraih gaun itu, memasukkannya ke dalam sebuah paper bag dan memanggil seseorang melalui ponselnya.


“Apa yang akan ia lakukan dengan gaun itu?” Keiko menatap Lelya dengan tatapan bingung.


“Lihat saja, mudah-mudahan ia tidak merusaknya.”


“Kuharap.”


Keiko mendekati lukisan besar yang terpampang di dinding ruangan itu.


“Sepertinya kau harus berhati-hati menghadapi orang tua suamimu Kei,” kata Lelya memperingatkan Keiko. Wanita itu berdiri di samping Keiko sambil mengamati lukisan yang ada di depannya seperti yang sedang di lakuakan oleh Keiko.

__ADS_1


“Lelya, jujur saja aku takut saat melihat tatapan mata ibu mertuaku.” Keiko mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya.


“Kenapa?”


“Entahlah, tetapi aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Mungkin ini hanya prasangkaku karena hubungan Mommy dan O bachan yang tidak baik.” Keiko tahu seperti apa hubungan Livia ibunya dengan ibu mertuanya. Neneknya tidak tulus menerima Livia ibu kandung Keiko sebagai menantunya bahkan hingga detik ini, hingga cucu-cucunya dewasa wanita itu masih dengan angkuhnya membangun jarak untuk menantunya.


*O bachan \= Nenek


“Jangan terlalu di pikirkan, yang perlu kau lakukan adalah memberikan yang terbaik untuk suamimu. Yang terpenting suamimu mencintaimu, menyayangimu, karena kau menikah dengan suamimu bukan dengan ibunya.” Lelya memberikan wejangan kepada Keiko.


“Lelya, kalian memang bisa selalu bisa kuandalkan. Kalian benar-benar penyambung hidupku.” Dengan segala keterbatasannya tentu saja hidup Keiko sangat bergantung kepada dua asistennya, juga kepada Aroma dan mungkin sekarang ia bergantung kepada Anthonino juga.


Malam sebelum acara makan di dalam mansion mewah tempat tinggal Innesa, wanita licik itu sedang tersenyum lebar di samping Feliks yang terbaring di atas ranjangnya.


“Kau sangat kaya, kau bekerja sepanjang hidupmu. Tetapi, kau tidak akan pernah mendapatkan apa pun dari hasil kerjamu itu. Bahkan anak sialanmu itu juga tidak akan, anakku yang pantas mendapatkan semua itu. Anak hasil aku berselingkuh dengan orang kepercayaanmu.” Innesa berbisik pelan di telinga Feliks.


“Tenang saja Feliks, setelah Aeroflot menjadi milikku. Kau kuizinkan bangun untuk menyaksikan kesakitanmu,” ujar Innesa lagi.


Innesa melangkah pergi dengan seringai di wajahnya yang tampak penuh kemenangan yang telak. Wanita itu meninggalkan Feliks yang tak mampu bergerak dengan langkah kaki yang terlihat sombong. Jantung Feliks sebenarnya baik-baik saja sebenarnya. Ia juga tidak koma, hanya saja dokter pribadi keluarga mereka menyuntikkan obat pembunuh syaraf dalam jangka waktu lama hingga syaraf-syaraf Feliks perlahan melemah dan lumpuh total. Bahkan kesadaran untuk bangun juga melemah dan akhirnya ia hanya tertidur. Dokter itu adalah kekasih Innesa. Innesa memiliki satu anak dari hubungan gelapnya bersama dokter itu, anak itu bernama Justin Vashenca.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️

__ADS_1


__ADS_2