
Tiga jam sebelum acara reality show di mulai.
Sarah sedang menyiapkan perlengkapan yang akan Keiko kenakan dalam acara reality show yang akan di siarkan secara langsung di acara Televisi tepat jam 8 malam, sedangkan Lelya duduk di depan Keiko membacakan apa saja pertanyaan yang akan di lontarkan oleh pembawa acara.
“Ingat kau harus terus bersikap tenang, dan ingat kau juga harus menjaga senyummu,” Lelya mengingatkan.
Keiko mengangguk.
“Dan beberapa pertanyaan lain yang mungkin tidak ada di sini, kau harus bersiap.”
Keiko mengangguk lagi.
“Kau tampak gugup, ada apa? Bukankah ini buka acara pertama yang kau hadiri?” Satu tahun yang lalu Keiko juga pernah menghadiri acara reality show yang akan ia datangi malam ini, tahun lalu ketika ia baru saja memenangkan penghargaan ajang musik bergengsi di dunia dalam kategori pemain piano solo terbaik, pihak televisi ini mengundangnya.
“Lelya, bisakah kita pergi ke stasiun sebelum Nino kembali?” Keiko berkata sambil mer**as jemarinya sendiri.
Lelya justru tersenyum, sudut matanya melirik pada Sarah, begitu juga Sarah yang sedang memegangi alat untuk memperindah tatanan rambut Keiko tersenyum penuh arti kepada Lelya.
“Suamimu memiliki pekerjaan malam ini, ia memang tidak bisa mengantarkanmu,” kata Lelya, Keiko kembalu hanya mengangguk, ketegangan masih terlihat jelas di wajah gadis itu.
“Oh iya Kei, aku yakin pihak acara masih ingin mengungkit masalahmu dan Philip, kau juga harus mengklarifikasinya,” kata Lelya lagi, “juga ada akan ada sedikit gosip miring tentangmu, kau harus berhati-hati.”
“Aku mengerti,” guman Keiko.
Lelya menyodorkan ponsel miliki Keiko beserta air podsnya, gadis itu selalu menenangkan diri dengan mendengarkan musik sebelum naik ke atas pentas. Entah musik jenis apa yang ia dengarkan, yang jelas tidak seorang pun tahu karena Keiko tidak pernah memberitahu siapa pun, ia bahkan selalu langsung menyembunyikan ponselnya jika ada orang yang mendekatinya saat ia sedang mendengarkan musik untuk menenangkan kegugupannya.
Tidak berapa lama Anthonino datang bersama seorang wanita, usianya mungkin 45 tahun, namun terlihat paras wanita itu ia masih sangat cantik dan anggun.
Anthonino memperkenalkan wanita itu, ternyata wanita bernama Gisella itu adalah seorang designer pakaian yang sangat ternama di daratan Amerika, bahkan ia mulai merambah ke Eropa. Wanita dengan paras anggun itu membawakan secara Khusus gaun yang tampak sederhana namun begitu tampak sempurna di bahkan sebelum Keiko mengenakan di tubuhnya.
“Gaun yang sangat sempurna,” kata Keiko terkagum kagum.
“Gaun ini akan lebih sempurna saat melekat di tubuhmu,” kata Gisella, tutur katanya pun sangat lembut, “sayang, coba kau kenakan dulu gaun ini, aku akan menyesuaikan ukuran tubuhmu.”
“Baiklah, aku akan mencobanya.”
__ADS_1
Sementara Keiko mendengarkan musik sambil Sarah menata gaya rambutnya, Gisella menyesuaikan gaun yang hendak Keiko kenakan, Lelya mendekati Anthonino.
“Aku ingin berbicara denganmu sebentar,” kata Lelya pelan, Lelya dan Sarah memang tidak di izinkan bersikap terlalu formal, Anthonino meminta demikian.
Anthonino mengangkat kedua alisnya sambil mengusap sebelah pelipisnya lalu mengikuti langkah Lelya, mereka berdiri tak jauh dari kolam renang pribadi yang terletak di balkon pent house itu.
“Keiko merasa sangat gugup, kau tidak perlu mengantarkannya ke stasiun televisi.”
Anthonino tentu saja terkejut dengan apa yang di dengarnya, namun ia tak menjawab kata-kata Lelya.
“Aku tidak tahu bagaimana kesepakatan hubungan di antara kalian terjadi begitu saja, tapi yang jelas, aku jika kau berbuat sesuatu yang membuatnya tersakati, keluarga Yamada tidak akan melepaskanmu seberapa pun kayanya dirimu,” kata Lelya, nadanya begitu dingin.
“Dia istriku, aku tidak mungkin menyakitinya,” Anthonino menjawab dengan nada tak kalah dingin.
“Sikapnya tidak seperti biasa, ia seperti ketakutan menghadapi panggung.”
“Aku akan menenangkannya.”
“Tidak, jangan lakukan, jika kau berusaha menenangkannya, ia akan melupakan semua yang telah di hafalnya.”
“Lalu aku harus bagaimana?” Anthonino tidak mengerti apa yang srbenarnya terjadi?
“Itu seperti membodohi anak kecil,” protes Anthonino.
“Kau suaminya, seharusnya kau belajar memahaminya, ia memang seperti anak kecil,” jawab Lelya sambil menatap tajam mata Anthonino, “Jika kau hanya mempermainkan Keiko lebih baik kau jangan memberikan harapan.”
Anthonino hanya diam tak membalas perkataan wanita di depannya, Lelya bermaksud meninggalkan Anthonino setelah melirik jam di ponselnya karena beberapa menit lagi mereka harus segera menuju stasiun televisi.
“Kau adalah sepupu Tiffany, aku masih ingat kalian pernah berkenalan di pernikahan Jonathan, kau mengambil keuntungan karena Keiko tidak mengenalimu,” kata Lelya dengan nada sangat sinis.
Anthonino masih terdiam, ia sama sekali tak terkejut Lelya dapat mengenalinya karena sikap Lelya yang sering begitu dingin saat berhadapan dengannya dan pandangan mata Lelya juga sering mengisyaratkan seolah-olah hendak menyingkirkannya.
“Cepat beritahu siapa dirimu, atau ia akan tahu dari orang lain dan mungkin ia akan kecewa, pilihanmu hanya dua, lepaskan atau dapatkan,” kata Lelya seraya melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Anthonino yang masih berdiri terpaku.
Sudut bibir Anthonino sedikit terangkat, lepaskan atau dapatkan? Untuk urusan Keiko tidak ada dua pilihan, hanya ada satu pilihan yaitu dapatkan, batin Anthonino.
__ADS_1
Anthonino memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celana kain yang di kenakannya, lalu melangkah dengan santai ia kembali ke ruangan di mana Keiko sedang mendengarkan musik sementara Gisella sedang menjahit dengan cekatan menyesuaikan ukuran tubuh Keiko.
Dengan perlahan Anthonino mendekati Keiko, “cintaku,” sapanya dengan nada lembut.
Keiko buru-buru mengunci layar ponselnya dan meletakkan ponselnya di meja dengan posisi terbalik, ia juga melepas sebelah air pods di telinganya.
Bibirnya terkatup rapat, tatapan matanya tampak begitu resah dan kegugupan tak mampu ia sembunyikan dari wajahnya.
“Aku harus pergi ada pertemuan, maaf aku tidak bisa mengantarkanmu pergi ke stasiun televisi, apa tidak masalah?”
Keiko mengangguk, “tidak masalah,” jawab Keiko.
“Maafkan aku, aku akan menjemputmu nanti, oke?”
Keiko mengangguk lagi.
“Gisella, Aku harus pergi, tolong kau urus dengan baik istriku.” Kata Anthonino sambil mengelus rambut Keiko dengan hati-hati, “Cintaku sampai jumpa.”
“Sampai jumpa,” guman Keiko.
“Baik, serahkan padaku,” jawab Gisella sambil mengangkat sepatu mesin jahitnya dan melepaskan benangnya, “Sempurna, Keiko kau bisa memakainya sekarang,” kata Gisella.
Keiko segera mengenakan gaun itu dan benar-benar sempurna di tubuhnya, ia tampak seperti seorang peri yang turun dari langit, wajah cantiknya hanya di poles sedikit, rambutnya di biarkan tergerai, dadanya sedikit terbuka. Gisella tampak tersenyum puas, gaun itu adalah rancangan yang bahkan baru saja ia gambar sketsanya dan belum selesai, namun Anthonino mendesaknya hingga ia menyelesaikan dalam waktu 10 jam, jika bukan Anthonino yang memintanya ia tidak akan sudi menyelesaikan gaun dalam waktu 10 jam. Ia bahkan membawa mesin jahit demi menyesuaikan ukuran tubuh Keiko dengan gaun rancangannya, lelucon yang sangat konyol sepanjang kariernya, seorang desainer ternama membawa mesin jahit mendatangi clientnya!
Jika tidak takdir tidak terlambat mungkin Anthonino dan adiknya Isabel bisa menikah, Gisella sedikit mendengus mengingat adiknya yang telah tiada.
“Kau cantik sekali,” puji Gisella kepada Keiko setelah gaun rancangannya melekat sempurna di tubuh Keiko.
“Terima kasih Gisella, gaun ini sangat indah,” Keiko mengamati gaun yang melekat di tubuhnya.
“Aku pasti akan menonton pertunjukanmu malam ini di televisi, semoga sukses,” kata Gisella sembari menatap gaun yang telah melekat di tubuh Keiko sambil bibirnya menyunggingkan senyum.
“Sekali lagi terima kasih Gisella.”
AUTHOR MULAI UPDATE 2 HARI SEKALI YA CINTAKU SEMUA 😘😘😘
__ADS_1
KENAPA 2 HARI SEKALI? AUTHOR LAGINDI LUAR KOTA SOALNYA 😙😙😊 MOHON MAKLUM YAA 😘😘😘
SELAMAT TAHUN BARU 2020 SEMOGA KEBERUNTUNGAN MENYERTAI KITA DI TAHUN 2020 🍀🍀🍀🍀