
TAP JEMPOL KALIAN SEBELUMMEMBACA PLIS!
Usia kandungan keiko telah memasuki usia lima belas minggu. Itulah sebabnya janin di kandungannya meskipun Keiko mengalami banyak pendarahan janin itu mampu bertahan karena telah melewati masa-masa tri semester awal. Baik Anthonino maupun Keiko sama sekali tidak mengetahui tanda-tanda atau gejala kehamilan yang dialami Keiko karena semuanya berjalan biasa saja, Keiko tidak mengalami mual di pagi hari atau gejala yang tidak biasa. Nafsu makan Keiko juga stabil hanya saja memang jika di ingat-ingat Keiko lebih banyak mengonsumsi makanan manis akhir-akhir ini.
Anthonino menggenggam jemari Keiko, ia juga mengelus perut istrinya. “Ayo cintaku, bangunlah. Apa kau tidak merindukanku?” ucap Anthonino seraya menyapukan bibirnya di kening istrinya.
Dokter yang menangani Keiko mengatakan bahwa sebenarnya tubuhnya tidak mengalami luka apa pun bahkan bisa dibilang Keiko mengalami keajaiban yang sangat luar biasa karena ia tidak mengalami sedikit luka di kulitnya maupun patah di tulangnya di tambah lagi janin yang berada di dalam dikandungnya juga sangat kuat meskipun sudah mengalami pendarahan karena benturan dia masih mampu bertahan. Tetapi, dokter mengatakan bahwa trauma psikologis Keiko lebih parah dibanding trauma yang dialami tubuhnya. Dokter mengatakan sepertinya jiwa Keiko lebih nyaman menyendiri hingga ia enggan membuka matanya, mungkin karena kejadian terakhir yang ia alami terlalu berat. Dengan kata lain jiwa Keiko srndiri yang menolak untuk membuka matanya.
Setelah hampir satu jam Anthonino hanya berduaan bersama Keiko dan mengajaknya berbicara meyakinkan istrinya bahwa semuanya baik-baik saja, terlihat ayah mertuanya kembali ruang tempat Keiko di rawat.
“Bisakah kita berbicara sebentar?”
Anthonino mengangguk. “Di mana Mommy?”
“Dia ada di sebelah,” jawab Naoki. Ia meletakkan jemari telunjuknya di depan bibirnya memberikan isyarat kepada Anthonino agar tidak berbicara apa-apa lagi karena khawatir Keiko mampu mendengar hingga mungkin saja akan menambah trauma psikologisnya.
Anthonino mengerti kemudian ia menekan tombol di kursi rodanya agar kursi rodanya untuk menjauh dari ranjang pasien, mereka berdua beriringan menuju pintu keluar dan memasuki ruang rawat yang ditempati Anthonino.
Samantha Philip dan Livia tampak sedang duduk di sofa, wajah Livia tampak gelap dan tatapan matanya berkilat penuh amarah yang berkobar namun mencoba ia tahan.
“Sam, tolong kau bawa your aunt untuk menjaga Keiko,” kata Naoki. “kau Philip tetaplah di sini.”
Mendengar apa yang diucapkan oleh ayah mertuanya Phillip sedikit mengernyit diam-diam, ia tidak mengerti mengapa harus berada di sekitar mereka berdua sedangkan ia adalah orang luar.
__ADS_1
Naoki berdehem, “karena kau telah terbangun maka kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” katanya.
Anthonino hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gerakan pelan. “Apa aku salah berbicara? Maksudku... Mommy, dia....”
“Ya Mommymu tidak tahu apa-apa, dia.... Tetapi, tadi ia memaksa kami menceritakan semua dan langsung memanggil ayah Nameera,” ucap Naoki. Ia mengangkat kedua bahunya bersamaan. Ekspresinya wajahnya sedikit acuh. Tentu saja acuh, ayah mana yang tidak sakit hati putri satu-satunya nyaris kehilangan nyawanya karena Nameera.
“Kami membuat pemberitahuan bahwa kau dan Keiko dinyatakan telah meninggal untuk sementara hingga keadaan membaik.” Naoki memberitahu Anthonino.
“Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?”
“Seseorang menginginkan perusahaanmu,” ucap Naoki.
“Apa maksudmu, Daddy? Aku sungguh tidak mengerti..., Selama ini aku tidak memiliki musuh.”
Mendengar nama Nameera darah Anthonino terasa mendidih kembali. Ia mencubit batang hidung di antara matanya dan berucap, “dia adalah.... Dia adalah kesalahanku di masa lalu, dia masa lalu yang tidak bisa dihapus tetapi sungguh di antara kami tidak ada hubungan apa pun, istriku tahu Semuanya.”
“Saat ini perusahaanmu diambil alih oleh Justin, bukankah dia saudara tirimu?”
Anthonino hanya menganggukkan kepalanya. “Lebih tepatnya ia anak angkat orang tuaku,” ucapnya meralat anggukannya.
“Kebetulan pengacara yang ditunjuk oleh ayahmu untuk mengurus warisan, ia menghubungi keluarga Tiffany untuk menanyakan bagaimana wasiat di jalankan karena setelah kau tiada dan jika kau tidak memiliki keturunan maka semua peninggalan ayahmu akan jatuh ke tangan pamanmu. Ayah Tiffany.” Naoki menjelaskan inti masalah yang mereka hadapi.
“Apa jawaban Pamanku?”
__ADS_1
“Tentu saja pamanmu tahu keadaanmu ia lalu memberikan jawaban kepada pengacara itu untuk menunggu sebentar lagi untuk memikirkan langkah yang akan di ambil. Tetapi, sesungguhnya ia menunggu waktu kau terbangun. Sekarang karena kau sudah terbangun kau harus segera mengambil tindakan ini menyangkut ayahmu juga.”
Tenggorokan Anthonino terasa tercekat. Ia belum sempat mengambil alih perawatan ayahnya karena menunggu saat yang tepat untuk membawa ayahnya keluar dari cengkeraman Innesa. Ia dan Zacky memiliki rencana akan membawa Feliks keluar dari tempat tinggal Innesa pada tanggal sepuluh bulan ini, tetapi sudah pasti tanggal itu telah terlewat beberapa hari dan Zacky tidak mungkin mengeksekusi Feliks. Ia bisa terkena tuduhan penculikan jika melakukan hal itu.
Sejauh ini rekaman yang di retas Kenzo belum menemukan bukti apa pun karena Innesa selalu berbisik di telinga Feliks saat bercakap-cakap. Wanita itu sangat pandai dalam menutupi semua perbuatannya.
“Ayahku....” Anthonino tidak mampu meneruskan ucapannya yang seperti terhenti di tenggorokannya, ia khawatir tidak memiliki lagi kesempatan untuk berbaikan dengan ayahnya.
“Kita harus secepatnya menolongnya, Zacky telah menceritakan semuanya kepadaku. Hasil laboratorium ayahmu telah di dapatkan, ia tidak mengalami sakit jantung. Tetapi syarafnya di gerogoti racun dari bahan kimia yang perlahan-lahan melumpuhkan tabuhnya,” kata Naoki.
Sekali lagi Anthonino merasa ia begitu bodoh. Seumur hidupnya telah di tipu Innesa. “Bagaimana cara kita mengambil papa? Sementara aku di nyatakan telah meninggal dan keadaanku juga tidak bisa berbuat apa-apa dengan tangan dan kaki patah seperti ini. Aku memerlukan setidaknya beberapa minggu lagi untuk pemulihan, sedangkan istriku aku tidak mungkin meninggalkannya dalam keadaan seperti itu di sini.”
“Apa kau percaya pada kami?” tanya Naoki.
“Tentu saja Daddy, aku percaya kepada keluarga istriku lebih dari aku percaya kepada diriku sendiri,” jawab Anthonino.
Naoki tersenyum puas mendengar jawaban yang di ucapkan menantunya. “Kalau begitu kau bisa tunjuk siapa saudaramu yang akan kau pilih untuk mengambil alih perusahaan selama kau dalam masa pemulihan.”
Anthonino terdiam mendengar pertanyaan ayah mertuanya. Ia sedang menimbang-nimbang siapa yang lebih cocok untuk mengurus Aeroflot. Derren? Tidak mungkin, dia seorang dokter. Kenzo yang masih sangat muda atau Jonathan yang selalu menatapnya dengan tatapan menyebalkan ke arahnya.
KALAU MENURUT TEMAN-TEMAN PEMBACA SIAPA YANG KEBIH COCOK? Wkwkwk
TAP JEMPOL KALIAN ❤️JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️❤️❤️
__ADS_1
🍒🌸