Married With Pilot

Married With Pilot
Namaku adalah Keiko


__ADS_3

“Sayang, aku akan pergi bekerja, kau bisa panggil pelayan jika memerlukan sesuatu, kau bisa tekan bell yang ada di atas nakas.” Anthonino memberi tahu.


Keiko mengangguk kecil sambil mengusap bibirnya dengan tisu,


“Nino...” panggilnya pelan.


“Ya sayang.”


“Aku tidak bisa jauh dari asistenku, bisakah kau tempatkan mereka tidak jauh dari kamar ini?”


“Mereka berada di mansion ini, kau bisa memanggilnya kapan saja.”


“Aku ingin mereka berada tepat di samping kamar ini.”


Anthonino mengerutkan keningnya, ia tidak memahami mengapa gadis yang baru saja menjadi istrinya sangat berlebihan.


“Baiklah, aku akan mengurusnya.”


“Bisakah kau buatkan pintu penghubung ruangan? Maksudku agar aku lebih mudah memanggil mereka.”


Sekali lagi, Anthonino semakin tidak mengerti. Sebegitu penakutnya kah gadis ini atau sebegitu manjanya? Bagi Anthonino permintaan itu tidak masuk akal, pintu penghubung ke kamar pribadinya? yang benar saja?


“Baiklah, semua akan seperti yang kau inginkan sayang,” akhirnya jawaban Anthonino adalah mengabulkan permintaan istrinya, tidak ada pilihan lain selain mengiyakan apa yang Keiko inginkan.


Ternyata menikah sungguh nikmat, batin Anthony, karena sudah dua hari setiap ia kembali dari bekerja, ia merasa memiliki seseorang yang menunggunya di rumah, dan ketika Anthonino kembali ke kediamannya ia menjumpai seseorang tersenyum menyambut kedatangannya, membuat hatinya benar benar merasakan kehangatan keluarga.


8 tahun ia menjadi pilot, hampir tidak pernah kembali ke negara asalnya Rusia, ia merindukan keluarga yang utuh, kini ia memiliki keluarga. Mampukah ia membina keluarga yang bahagia? Mampukah ia menjaga rumah tangga tanpa ada wanita kedua maupun ketiga seperti ayahnya yang memiliki banyak wanita?


“Nino ku rasa ini terlalu berlebihan” kata Keiko saat ia menerima beberapa set perhiasan yang berkilauan beberapa set perhiasan berlian dan beberapa kalung mutiara.


“Sayang kau istriku, kewajibanku adalah membahagiakanmu.”


“Kau hanya suami mainanku, lagi pula aku hanya menginginkan benih darimu.”


‘Banyak wanita di muka bumi ini yang tergila gila padaku,tapi hanya kau yang berani mengatai aku adalah mainan’ geram Anthonino dalam hati sambil sedikit ia menggertakkan giginya.


“Meskipun aku hanya mainanmu tapi aku tidak ingin calon anakku dan ibunya tidak bahagia.” kata Anthonino sambil mengecup jemari Keiko.


Seketika jantung Keiko berdesir, ada sesuatu yang menjalari perasaannya, sentuhan bibir Anthonino di kulit jemarinya seperti sengatan listrik yang tiba tiba mengalir hingga ke dalam jantungnya.


“Ja-jadi bagaimana masalah pekerjaan?” tanya Keiko gugup, ia berusaha mengalihkan perhatian Anthonino


“Pekerjaan ?” tanya Anthonino.


“Kau melupakan tujuan awalmu mengundangku ke sini?”


“Aku tidak mengundangmu.” goda Anthonino.


“Nino!” Keiko melotot galak.


“Panggil aku sayang, atau hubby,” pinta Anthonino dengan tatapan mata menggoda.

__ADS_1


“Dalam mimpimu,” jawab Keiko sinis.


Anthonino hanya tersenyum menghadapi kesinisan Keiko,


“Kapan kau siap untuk pemotretan dan rekaman biolamu?” tanya Anthonino sambil matanya menatap lembut wajah gadis yang pernah ia kaugumi dan kini telah menjadi istrinya.


“Oh biolaku, aku meninggalkannya di pesawat.” Keiko mengingat ia telah meninggalkan biolanya di pesawat.


“Kau ini lucu sekali,” kata Anthonino sambil mengusap kepala Keiko, “biolamu ada di ruangan kerjaku.”


“Oh syukurlah.”


“Aku bisa membelikanmu 1000 biola jika kau mau.”


“Biola itu aku beli sendiri dari uang kontrak pertamaku di paris fashion week, nilainya tidak sebanding dengan 1000 biola yang akan kau berikan,” kata Keiko dengan nada kesal.


Anthonino tersenyum simpul karena jawaban Keiko, gadis dari keluarga kaya raya namun untuk membeli sesuatu benda yang ia inginkan gadis ini ternyata rela bersusah payah berusaha untuk mendapatkan sesuatu.


‘Semakin menarik,' batinnya.


“Baiklah, apa yang kau perlukan untuk kebutuhan iklan ini?”


“Aku tinggal jalankan proses pembuatan iklan dan pengisian back soundnya kalian siapkan materinya.”


“Aku tidak berpengalaman dalam hal musik Mrs. Petrav,” goda Anthonino sambil mendudukkan Keiko di atas pahanya, “can you teach me?” tangan Anthonino meraba pantat Keiko.


“Kau? Mesum... mmmmmm” bibir Keiko telah di lahap dan gaun tidur yang di kenakan oleh Keiko juga telah tergeletak di lantai.


Bahkan saat ini Keiko memimpin permainan di atas tubuh Anthonino dengan posisi duduk, ia telah mencapai puncaknya namun Anthonino seakan menghukumnya dan terus saja mempertahankan posisi itu.


Setelah kedua kali Keiko merasakan puncaknya baru Anthonino membalik posisi Keiko dan menghunjamkan bagian tubuhnya dengan posisi dari belakang.


Hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersama sama..


Tidak menunggu lama bibir Anthonino telah menempel kembali seperti bayi yang sedang menyusu dan kemudian menyatukan tubuh mereka kembali. Menikmati tubuh Keiko yang benar benar hanya terjamah olehnya, membuat gadis polos yang ternyata mulai terlihat sangat liar di atas ranjang.


Terhitung telah satu minggu sejak ia mengenal Anthonino, tidak satu pun pekerjaan yang Keiko lakukan, ia hanya menikmati waktunya untuk tidur dan bercinta dengan suaminya, keinginan untuk memiliki bayi yang lucu bahkan telah menguap, ia tak lagi memiliki waktu untuk memikirkan hal itu.


Setiap malam ia dan Anthonino bercinta hingga pagi, siangnya ia tertidur hingga sore hari sementara Anthonino pergi untuk bekerja, pria itu mungkin staminanya terbuat dari baja, ia hanya tidur satu atau dua jam setiap hari.


Keiko merasa ia mulai kecanduan oleh permain pria bermata biru itu, ia ingin selalu berada di dekat Anthonino, ia ingin tubuhnya terus di jamah oleh jari jemari Anthonino, hanya dengan mengingat wajahnya saja bagian tubuhnya terasa bergetar dan menginginkan tubuh pria bermata biru itu. apalagi mengingat saat Anthonino berada di atasnya sambil mata mereka saling tatap, sepertinya hal seperti itu saja mampu membuat Keiko bisa mencapai puncaknya. Benar benar gila.


Sore itu Anthonino kembali lebih awal dari biasanya, ia juga membawakan biola milik Keiko.


“Apa kau telah menemukan producernya?" tanya Keiko.


“Sayang tolong lepaskan dasiku,” kata Anthonino tanpa menjawab pertanyaan istrinya.


Secara alami Keiko melepaskan dasi di leher suaminya, ia terbiasa memasangkan dasi ayahnya jika ibunya sedang sibuk pagi pagi, namun melepaskan dasi pria ini adalah pengalaman pertanyanya.


Cuuuppp

__ADS_1


Tiba tiba sebuah kecupan mendarat di kening Keiko, Keiko tersipu. Wajahnya berubah menjadi merah merona.


“Besok kita temui producernya, ia telah menemukan materi lagu dan telah di aransemen.”


“Baiklah.”


Setelah mandi dan makan malam mereka masuk ke dalam kamar, Keiko melangkahkan kalinya menuju balkon dan tangannya mendekap dadanya karena hawa dingin yang menjalari kulitnya, apalagi ia hanya menggunakan jubah tipis, angin sepoi sepoi lembut menerpa wajahnya membuat anak rambutnya sedikit berkibar.


Anthonino mendekap tubuh Keiko yang kedinginan.


“Sayangku masuklah, di sini dingin.”


“Aku ingin menikmati udara segar, sudah 1 minggu kau mengurungku.”


“Besok kita akan berjalan jalan, kau belum pernah mengelilingi Moscow bukan?”


Keiko menganggukkan kepalanya, Ia merasa mulai takut jauh dari pria ini, dan perasaan itu mengganggu pikirannya. Bagi Keiko perasaan yang membuat dirinya gelisah seperti itu sungguh tidak nyaman.


Hening sesaat, suasana berubah menjadi sedikit canggung...


“Kenapa kau sangat cantik sayang?” suara Anthonino memecah keheningan yang sempat menyeruak di antara mereka, pria tampan itu mengeratkan pelukannya sambil menciumi pipi Keiko.


“Namaku adalah Keiko, dalam bahasa jepang Keiko berarti cantik.” Keiko menjelaskan arti dari namanya, orang tuanya sangat pandai memberi Nama. “Tapi yang pasti ibuku juga sangat cantik, dan ayahku juga sangat tampan tentu saja aku mewarisi gen mereka.” lanjut Keiko dengan nada sedikit bercanda.


“Oh ya... aku ingin bertemu mereka” kata Anthonino ,terdengar begitu mengharap.


“Jangan konyol.”


“Kenapa? mereka mertuaku.”


“Kita akan bercerai cepat atau lambat.”


Anthonino menggigit pelan telinga Keiko, mereka terdiam terhanyut dalam pikiran masing masing.


Setelah beberapa saat Keiko melepaskan pergelangan tangan Anthonino yang melingkar di pinggangnya dan meraih biolanya. Mulai menggesek biolanya dengan pelan dan penuh penghayatan.


Memainkan lagu I'm not the only one, entah apa yang terpikir di benaknya hingga lagu itu yang muncul di otaknya, ia bahkan memainkan beberapa lagu mellow dengan penuh penghayatan, seperti seluruh perasaannya tertumpah di sana.


Anthonino memandangi Keiko yang sedang bermain biola dengan tatapan kagum.


Setelah lelah dengan beberapa lagu Keiko meletakkan biolanya dan naik ke atas tempat tidur menyusul Anthonino yang sedari tadi telah duduk di atas tempat tidur menonton pertunjukan pajamas violin yang ia suguhkan istrinya, Keiko meringkuk dalam pelukan Anthonino tanpa mengatakan apa pun, menghirup dalam dalam aroma maskulin suaminya.


Suami mainannya.


Mungkin ia akan segera bercerai setelah 10 bulan menikah, Keiko yakin ia akan segera mengandung, melahirkan lalu bercerai. Tidak perlu waktu lama.


Jika nanti orang tuanya bertanya siapa yng menghamilinya ia akan menunjukkan surat nikahnya, tidak perlu mengenalkan Anthonino pada keluarganya. Semua akan baik baik saja.


Batin Keiko terus bergejolak seakan akan menenangkan segala kegelisahan yang menggelayuti pikirannya, batinnya terus saja berguman, bahwa semuanya akan berlalu, memiliki anak yang lucu lalu melanjutkan hidup seperti semula, semuanya akan baik baik saja.


Ia harus segera hamil agar tidak perlu berlama lama bersama pria yang membuat jantungnya berdebar kencang, tentu saja karena Keiko takut perasaannya akan semakin terjerat.

__ADS_1


TOLONG BANTU REPORT YANG PROMO PANJANG YA 😊 PLISSSSSS


DAN JANGAN LUPA TAP JENPOL KALIAN 😉😉😉😉


__ADS_2