
TAP JEMPOL TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
Mereka keluar dari stasiun kereta setelah melewati enam perhentian kemudian kembali berjalan beriringan menuju tempat tinggal orang tua Vicky.
“Kapan hari liburmu?” tanya Gustavo.
“Kenapa kau menyanyi hari liburku?”
“Tidak, aku hanya ingin bertanya, terkadang aku ingin berjalan-jalan ke seluruh wilayah di Jepang ini,” ujar Gustavo.
“Bukankah kau bisa melakukannya? Daripada kau mengunjungiku bukankah lebih baik kau gunakan waktumu untuk itu?” tanya Vicky.
“Masalahnya aku perlu partner untuk menemaniku melakukan perjalanan,” ucap Gustavo. Sayangnya Vicky tidak menanggapi ucapan Gustavo.
“Bagaimana jika sesekali yang kau yang datang ke Osaka menemuiku?” tanya Gustavo tiba-tiba. Nadanya sedikit bercanda.
Vicky tertawa renyah. “Itu terdengar seperti aku berbalik mengejarmu bukan?”
“Kau datang ke Osaka untuk mengunjungi temanmu. Apakah itu tidak masuk akal?” Gustavo balik bertanya dengan nada terdengar kurang menyukai gurauan Vicky.
“Baiklah. Sesekali aku yang akan mengunjungimu. Dan aku rasa kau terlalu sering datang ke sini, kau menghabiskan banyak uang untuk membeli tiket kereta, membayar hotel....”
“Aku tidak keberatan untuk itu,” pungkas Gustavo.
“T-tapi...” Vicky merasa tidak nyaman, apalagi harga tiket kereta Shinkansen dari Osaka ke Tokyo tidak bisa di katakan murah.
“Itu tidak seberapa,” kata Gustavo.
“Kenapa tidak kau tabung saja uangmu untuk masa depan?”
“Untuk biaya pernikahan kita semua telah kusiapkan, jangan khawatir,” kata Gustavo percaya diri. “Di mana kita akan tinggal?”
Vicky tertawa ringan, bukankah mereka belum menjalin hubungan? Kenapa Gustavo bertanya seperti itu?
“Aku belum menerimamu,” ucap Vicky.
“Aku tahu tapi kau bisa memikirkannya, aku telah menyiapkan semuanya. Kau tinggal pilih, rumah, mobil tabungan masa depan.” Gustavo meraih satu telapak tangan Vicky menggenggamnya sambil mereka berjalan beriringan.
“Jadi seberapa sering kau kembali dari bekerja seperti ini?” tanya Gustavo.
“Cukup sering,” jawab Vicky gugup, ia sangat gugup karena Gustavo menggenggam tangannya begitu erat. Meski bukan yang pertama tetap saja jantungnya berdetak tidak menentu.
“Aku khawatir dengan keselamatanmu, mengapa tidak mengendarai mobil saja?”
__ADS_1
“Layanan kereta di Jepang sangat bagus dan cepat. Tidak jauh berbeda dengan mengendarai mobil sendiri,” kata Vicky.
“Terlalu berbahaya untuk seorang gadis cantik sepertimu berjalan seorang diri, aku merasa tidak tenang,” kata Gustavo.
Vicky tertawa ringan. “Kau berlebihan, Jepang sangat aman dan ini baru pukul sepuluh malam.”
“Kau seorang wanita tidak baik berjalan sendirian tengah malam seperti ini,” kata Gustavo dengan nada serius.
Kedua orang itu menghentikan langkah mereka di sebuah bangunan rumah berwarna putih dengan dua lantai bergaya minimalis Jepang. Itu adalah tempat tinggal orang tua Vicky. “Terima kasih telah mengantarkan aku,” kata Vicky. Seperti biasanya ia tidak pernah mengajak Gustavo untuk masuk.
“With my pleasure,” jawab Gustavo. “Omong-ngomong bagiamana tawaranku tadi?”
“Tawaran?”
“Menjadi temanku mengelilingi Jepang.”
Vicky mengernyit, ia tidak menduga jika Gustavo serius ingin mengelilingi Jepang dengannya. “Kau bisa mencari teman yang lain, maksudku gadis lain tentu banyak yang bersedia,” ucap Vicky.
Gustavo melepaskan genggamannya dari tangan Vicky. “Oh,” ucap Gustavo singkat.
Mereka mendadak terjebak dalam kebisuan. Gustavo menatap wajah cantik Vicky dengan tatapan kecewa, sedangkan Vicky jauh di lubuk hatinya ia menyesali ucapannya.
Gustavo meletakkan telapak tangannya yang lebar dibatas kepala Vicky kemudian mengusap-usapnya beberapa kali. “Sampai jumpa,” ucapnya. Lalu berbalik meninggalkan Vicky yang terpaku di tempatnya tanpa mampu membuka mulutnya.
“Apa yang sedang kau lakukan, Mommy?” Anthonino menirukan gaya anak kecil. Di dalam gendongannya Stefano tampak tidur dengan tenang memeluk tangannya sendiri, bayi mungil berkulit merah itu sepertinya sangat menikmati pelukan ayahnya yang sesekali menggoyang-goyangkan tubuhnya seolah sedang menenangkannya.
“Kau tahu Hubby? Sepertinya akan ada yang menikah dalam waktu dekat ini,” kata Keiko yang sedang memainkan ponsel ditangannya. Ia sedang membalas pesan temannya.
“Siapa yang akan menikah?” tanya Anthonino. Tatapannya tanya tak lepas dari putranya. Buah hatinya, kesayangannya, hidupnya. Ia bahkan tidak bisa menggambarkan seberapa besar rasa sayangnya kepada Stefano dan Keiko.
“Temanku dan temanmu,” jawab Keiko. Terdengar ambigu.
“Zacky?” Anthonino memiringkan kepalanya sambil depan matanya beralih menatap Keiko alisnya berkerut.
Keiko menggelengkan kepalanya.
“Temanku? Temanku sangat banyak.” Ya, teman Anthonino memang sangat banyak apalagi teman di maskapai tempat ia bekerja dulu.
Keiko memutar bola matanya. “Philip, bukan ia temanmu dan temanku? Bukankah kalian sudah berdamai?”
Anthonino justru terkekeh, ia benar-benar melupakan keberadaan Philip. “Oh ya? Siapa yang akan dinikahi Philip?”
“Siapa lagi kalau bukan Sam,” jawab Keiko tampak kesal.
__ADS_1
“Jadi mereka akan menikah? Kenapa tidak dari dulu?”
“Sepertinya mereka baru saja menyadari rasa cinta yang ada di antara mereka,” ucap Keiko.
“Jadi karena kau tidak memiliki kegiatan selain mengurus Stefano lalu kau menjadi penggosip?” cibir Anthonino.
Tanpa menghiraukan cibiran suaminya Keiko berkata, “Sayangnya Sam menghilang.”
“Menghilang? Kenapa dia menghilang?”
“Philip bertanya kepadaku di mana Samantha karena ia telah menghilang selama sepuluh hari,” kata Keiko dengan nada murung.
“Mereka bertengkar?”
“Aku rasa tidak, sepertinya... maksudku Sam sepertinya sedang mempertimbangkan Philip.”
“Kau tahu di mana Sam?”
Ragu-ragu Keiko menggelengkan kepalanya.
“Kau jangan berbohong,” kata Anthonino sambil menyipitkan sebelah matanya. Ia tahu istrinya berbohong.
“Astaga. Baiklah, aku tahu dia di Irlandia.”
Anthonino mendekatkan Stefano kepadanya lalu mengecup lembut pipi putranya.
“Philip terlalu lama bertindak, katakan pada Philip untuk tidak menunggu terlalu lama lagi. Cari Samantha sampai dapat lalu eeret ke altar untuk menikahinya, kalau tidak... aku yakin Samantha akan jatuh ke tangan pria lain sepertimu,” ucap Anthonino.
“Kau juga pria penggosip,” kata Keiko mengatai suaminya.
TO BE CONTINUED 🌸🌸🌸
Aku juga mau jadi baby Sefano....
TAP JEMPOL KALIAN ❤️
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤
TERIMA KASIH ❤️
🍒🍒🍒🍒🍒
JANGAN LUPA BACA KISAH PARIS YANG BERBEDA DALAM ARISAN BERONDONG.
__ADS_1
AYO RAMAIKAN ARISAN BERONDONG!!!!