
TAP JEMPOL TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
New York, Amerika Serikat.
Anthonino menyelesaikan pertemuan dengan beberapa pemegang saham di Amerika, ia masih duduk di ruang pertemuan menatap layar laptopnya dengan alis yang sedikit berkerut karena isi pembahasan rapat yang menguras otaknya.
“Bagaimana jika kita makan malam berdua?” Suara wanita yang mengajaknya makan malam berdua berhasil membuat Anthonino mengalihkan pandangannya.
Sudut bibirnya berekedut dan ia kembali menatap layar laptopnya tanpa berniat menghiraukan ajakan Lidya.
“Untuk merayakan pernikahanmu karena kau tidak mengundangku,” ucap Lidya.
“Aku melupakannya,” jawab Anthonino dengan nada tidak peduli.
“Aku sangat kecewa tidak bisa berjumpa dengan istrimu,” ucap Lidya lirih.
__ADS_1
Anthonino masih dengan sikap acuhnya tak memedulikan Lidya, tatapan matanya masih dengan serius mengamati layar laptopnya yang berisi grafik yang tampak rumit.
Melihat reaksi pria di depannya yang begitu acuh, Lidya diam-diam menghela napanya yang terasa berat. “Aku sangat kecewa, padahal hari ini hati terakhirmu di New York. Kita juga telah sangat lama tidak berjumpa, aku hanya ingin merakitmu makan malam sebagai tanda ucapan selamat atas pernikahanmu.” Nada bicara Lidya terdengar mengisyaratkan kekecewaan yang teramat dalam, tatapan matanya juga begitu rendah seolah memohon dengan sangat kepada Anthonino.
Anthonino menyingkap lengan jas yang menutupi jam tangannya dan mengamati jarum jam tangannya. “Baiklah,” katanya dengan nada datar.
“Baik aku akan menelepon restoran untuk menyiapkan makanan yang ingin kita makan.” Lidya meninggal ruang pertemuan setelah Anthonino mengatakan makanan apa yang ingin ia santap untuk makan malamnya dan lima menit kemudian wanita itu telah kembali, ia berdiri tak jauh dari tempat Anthonino duduk memberi tahu bahwa restoran yang ia pesan akan segera menyiapkan seluruh pesanan mereka.
Setelah memberi tahu sekretarisnya untuk kembali lebih dulu mereka berdua meluncur menuju restoran yang di maksud, tidak menunggu lama setelah mereka tiba seluruh hidangan telah tertata rapi di meja. Termasuk dua gelas wine yang tampak di siapkan di atas meja mereka. Sepanjang waktu menyantap hidangan yang tersaji di atas meja keduanya sama sekali tidak terlibat dalam pembicaraan, mereka hanya fokus kepada makanan yang mereka santap. Suasana sangat canggung karena hanya ada suara garpu dan sendok beradu dengan piring.
“Sesuai wasiat Isabel seharusnya kau menikahiku. Tetapi, sudahlah kau tidak benar-benar menjalankan wasiatnya. Anggap saja ini makan malam terakhir kita,” ucap Lidya.
Lidya adalah Putri kandung dari Isabel dan suaminya, bukan hanya sekali atau dua kali Isabel menuntut Anthonino untuk menikahinya. Tetapi, Anthonino tidak pernah menggubrisnya karena di masa lalu ia adalah pria bebas yang sama sekali tidak memikirkan pernikahan bahkan menjalin hubungan serius saja Anthonino enggan.
Mendengar apa yang dilontarkan dari mulut Lidya, Anthonino mata tajam ke arah Lidya. Sekilas bibirnya mengulas senyum. “Isabel tidak pernah menyuruhku untuk menikahimu. Di dalam surat wasiatnya sama sekali tidak ada kalimat yang mengharuskan aku menikahimu,” ujar Anthonino dengan nada yang terdengar sangat dingin.
__ADS_1
“Menjagaku seumur hidupku, bukankah itu sama dengan menikahiku?” Lidya tampak begitu percaya diri.
“Aku menjagamu seumur hidupmu tetapi aku menjagamu dengan caraku bukan dengan mengikatmu dalam pernikahan karena aku sama sekali tidak mencintaimu dan itu tidak akan pernah terjadi,” jawab Anthonino dengan nada datar.
Dada Lidya tampak naik turun, ia terpancing emosi dengan ucapan Anthonino tetapi tampak jelas dia berusaha menahan amarahnya yang seolah menyeruak terdorong untuk di luapkan. Ia telah lama menahan ini, terlalu lama menunggu momen di mana ia dapat berbicara langsung dengan Anthonino mengenai wasiat ibunya.
“Kau tidak memenuhi wasiat ibuku, aku yakin ia sangat sedih.” Akhirnya hanya itu yang mampu Lidya ucapkan sambil tertunduk.
“Aku bukan siapa-siapanya, aku hanya selingkuhannya. Aku tidak memiliki kewajiban apa pun terhadap kalian. Seharusnya kau bersyukur aku membantumu hingga sejauh ini kau bisa duduk dengan manis di perusahaanku dengan posisi yang aman,” ucap Anthonino dengan nada sinis.
Anthonino telah memberikan Lidya bantuan sejak gadis itu berumur lima belas tahun dan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Memang asuransi yang diterima Lidya saat itu cukup besar tetapi dan ia masih terlalu kecil untuk mengelolanya sendiri, Anthonino membantunya mendapatkan hak perwalian yang di limpahkan kepada Gisella kakak kandung Isabel. Ia juga membantu Lidya menunjuk seorang pengacara untuk pengalihan dokumen-dokumen milik orang tua Lidya, memastikan seluruh aset aman dan bisa menjadi milik Lidya pada saatnya nanti setelah Lidya dewasa.
Anthonino juga memastikan pendidikan Lidya dengan baik dan setelah gadis itu telah menyelesaikan pendidikannya, Anthonino merasa masih harus bertanggung jawab atas Lidya. Lagi-lagi karena surat wasiat Isabel, ia memberikan pekerjaan kepada Lidia di perusahaannya dengan sebuah hak istimewa. Lidya masuk melalui jalur tanpa tes, ia juga mendapatkan posisi yang terbilang bagus dan ia cukup diistimewakan di tempat kerjanya karena dianggap salah satu titipan bos.
Anthonino sangat tahu seperti apa sikap Lidya selama menjadi karyawan. Gadis itu selalu membanggakan dirinya dan mengklaim bahwa ia adalah calon istri Anthonino. Di lingkungan kerjanya tidak ada yang berani menggertak Lidya. Anthonino tidak pernah mempermasalahkan itu dulu tetapi sekarang sepertinya harus lebih sedikit keras kepada Lidya karena statusnya sekarang berbeda, ia telah memiliki istri yang harus dijaga perasaannya.
__ADS_1
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️