Married With Pilot

Married With Pilot
Atasan dan bawahan


__ADS_3

Di sisi lain, di China Town London.


“Kau lama sekali” Gerutu Nameera.


“Aku seperti melihat Nino keluar dari toko bunga, aku mengejarnya, tapi aku kehilangan jejaknya,” kata Gustavo kekasih Nameera sambil menarik bangku dan mendudukkan bokongnya.


“Toko bunga?”tanya Nameera.


“Ya, aku tidak begitu yakin, tapi ku rasa aku salah orang, rasanya mustahil pria itu membelikan bunga untuk wanita.”


“Apa ia telah menikah?” tanya Nameera hati-hati.


“Mustahil, ia tidak mungkin menikah secepat itu.” Gustavo menjawab.


“Kenapa?”


Gustavo mengangkat kedua bahunya, “Sekarang ia menganggur, ia hanya menerbangkan pesawat pribadi milik Airoflow, ku rasa tidak mungkin ia menikah.”


“Begitukah?” Nameera seolah-olah ia menemukan secercah harapan.


“Sebenarnya aku yang ingin segera menikah, kapan kau siap?” tanya Gustavo pada Nameera.


“Omong kosong Gustavo aku belum siap menikah.”


Gustavo mendengus, “kau selalu menolak ajakanku menikah.”


“Aku hanya belum siap,” jawab Nameera acuh.


“Terserah kau saja,” Gustavo melambaikan tangan pada pelayan untuk memesan secangkir kopi. “Ngomong-ngomong kenapa kau melewatkan jadwal terbangmu beberapa minggu ini?”


“Susana hatiku tidak baik, aku takut mengganggu pekerjaanku,” jawab Namerra.


“Apa yang mengganggu pikiranmu?”


“Aku ingin berhenti dari pekerjaan ini,” ucap Nameera berterus terang.


“Kau serius?” tentu saja Gustavonterkejut dengan apa yang ia dengar.


“Tentu saja.”

__ADS_1


“Lalu apa yang ingin kau lakukan setelah kau berhenti?”


“Aku belum memiliki rencana apa pun.”


“Jangan bertindak konyol.” Gustavo mengingatkan.


“Sayangnya aku ingin berhenti, tapi aku tidak memiliki uang untuk membayar kontrakku.”


Gustavo memandangi wajah Nameera, sudah ratusan kali gadis ini memutuskannya, dan sudah ratusan kali pula gadis ini datang meminta kembali pada Gustavo jika ia memiliki kesulitan.


“Jadi itu yang membuatmu kembali datang padaku?” tanya Gustavo tanpa basa basi.


“Hanya kau yang mengerti aku sayang.”


“Tidak masalah, berapa jumlahnya?”


“$1.000.000”


Gustavo menghela nafas pelan, “Nameera, bantuan ku kali ini tidak cuma-cuma.”


“Maksudmu?”


Sekali lagi Nameera merasa menemui jalan buntu, berulang kali pria di depannya telah ia manfaatkan uangnya dan sering ia bohongi. Tentu saja Gustavo akan bertindak waspada.


“Beri aku waktu,” pinta Nameera.


“Baiklah” Gustavo dengan santai menjawab, tatapan matanya menyapu keseluruhan wajah Nameera membuat Nameera sedikit gugup.


Nameera kembali ke hotel tempatnya menginap, ia sengaja datang ke London untuk membuang kekesalan, namun sepertinya usahanya kali ini juga sia-sia, bagaimana tidak? Usahanya sama sekali tidak menunjukkan akan membuahkan hasil. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memandang langit-langit kamar hotel dengan suasana hati yang suram, ia adalah putri satu satunya keturunan Tjiptadjaja, seharusnya ia di perlakukan selayaknya seorang putri, bahkan uang $1.000.000 saja ia harus mengemis pada seorang pria.


Ia meraih ponselnya, memeriksa kontaknya, sempat berpikir untuk meminjam pada Jonathan namun ia ragu, Nameera melirik jam di ponselnya, 11.30 pm


Ia bergegas bangkit dan mengganti pakaiannya, lalu memanggil taxi dan bersenang senang di club.


Keiko baru saja membuka matanya, pagi ini perasaannya sangat baik, entah apa sebabnya, mungkin karena crepes tadi malam?


“Selamat pagi cintaku” sapa Anthonino dengan suara serak pagi hari yang terdengar sangat sexy, pria ini selalu terbangun meskipun Keiko hanya sedikit bergerak.


“Selamat pagi hubby,” jawab Keiko dengan rona merah di wajahnya.

__ADS_1


“Bagaimana tidurmu?”


“Sangat bagus,” Keiko menjawab di iringi senyum manis yang membuat Anthonino semakin terpesona.


“Aku akan menemanimu membeli kado untuk Athiya hari ini,” Anthonino berucap.


“Kau serius hubby? Bukankah ini hari jumat kau harus bekerja?” tanya Keiko


“Kau akan membantuku bekerja hari ini, setelah itu kita pergi membeli kado,” kata Anthonino sambil menciumi pipi Keiko.


“Baiklah aku akan membantumu,” jawab Keiko bersemangat, ia buru-buru melepaskan dirinya dari cengkeraman lengan kekar suaminya dan melompat masuk ke dalam kamar mandi.


Anthonino tersenyum melihat tingkah lucu Keiko, ia juga bangkit dari tempat tidur lalu menyusul Keiko ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai sarapan Keiko mengikuti suaminya pergi ke ruang kerja, mereka tinggal di sebuah gedung perkantoran perusahaan penerbangan miliki keluarga Petrav, tempat tinggal mereka berada di lantai 25, itu adalah lantai teratas yang semula adalah ruang kerja para petinggi perusahaan yang disulap paksa menjadi tempat tinggal, dengan menyisakan satu ruangan miliki direktur utama.


Keiko tidak habis pikir, kemana suaminya itu memindah ruang kerja para petinggi perusahaan, ia hanya mengatakan masih banyak ruang yang tidak terpakai yang bisa di manfaatkan.


Anthonino duduk di kursi Direktur sedangkan Keiko duduk tepat di depannya, seperti atasan dan bawahan.


“Cintaku bisakah kau membantuku untuk meneliti dokumen-dokumen ini?” tanya Anthonino.


“Baiklah.” Keiko menjawab.


“Kulihat latar pendidikanmu sangat baik, kau lulus dari UCL sebagai sarajana Ekonomi,” kata Anthonino sambil jemarinya menarindinatas keyboard Macbooknya.


“Ya kau tidak salah,” jawab Keiko.


“Seharusnya kau tidak masalah dengan pekerjaan seperti ini bukan?” tanya Anthonino.


Keiko hanya tertawa kecil menampakkan deretan giginya yang rapi.


KAYAKNYA UPDATE 3 KALI KEBANYAKAN DEH, DUA KALI AJA YA.


JADI 3 CHAPTER DI JADIIN 2 CHAOTER BIAR AGAK PANJANGAN 😅😅😅😅


AKU GAK TEGA KALIAN BACA CHAPTER PENDEK PENDEK.


MOHON MAKLUM ATAS KELABILAN AUTHOR INI.

__ADS_1


OKAY JANGAN LUPA KOMEN SAMA TAP JEMPOL KALIAN.


__ADS_2