Married With Pilot

Married With Pilot
China town, London


__ADS_3

“Terima kasih Kei, Rasanya aku tidak sabar menunggu besok,” Athiya sangat senang kelihatannya dengan jawaban Keiko.


“Bagus, kulihat kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi, jika kalian murnikah aku yakin, dunia hiburan akan di gemparkan dengan gosip tentang kalian berdua,” itu kata Dannis.


Anthonino tersenyum sambil mata birunya melirik wajah Keiko yang tampak tersipu.


Bersamaan dengan itu para pelayan datang mengantar makan yang mereka pesan, mereka melanjutkan obrolan santai mereka sambil menyantap makan malam mereka dan meminum sedikit Wine, setelah di rasa cukup mereka membubarkan diri.


“Bagaimana jika kita berkeliling kota London?” tanya Anthonino ketika mereka berdua baru saja duduk di kursi mobil kuning.


“Ku rasa bukan ide yang buruk,” kata Keiko sambil memasang seat beltnya.


“Baiklah, aku akan menjadi sopirmu malam ini.”


Keiko tersenyum simpul.


“Ku rasa aku harus membelikan kado besok untuk teman baruku,” kata Keiko tiba-tiba.


“Biar Sarah atau Lelya yang membelikannya,” ujar Anthonino.


“Hhmmm ku rasa aku ingin memilihnya sendiri,” kata Keiko. “Oh iya, kenapa Sarah tidak datang?”


“Semua baik-baik saja selama kau bersamaku, bukankah begitu?”


Keiko memandang Anthonino dengan tatapan tidak suka.


“Jangan takut, aku bisa menemanimu ke mana saja,” kata Anthonino sambil berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.


Keiko tampak tidak menggubrisnya.


Anthonino menghentikan mobilnya di kawasan China town London, sebelum mereka turun dari mobil Anthonino melepaskan jas yang di kenalannya, memakaikan pada Keiko agar istrinya tidak kedinginan.

__ADS_1


“Kenalan ini agar kau hangat,” katanya


Sementara Keiko mengambil scraft dari dalam tasnya, ia bermaksud menutupi sedikit leher dan wajahnya.


“Kadang aku ingin menjadi gadis biasa” gumannya.


“Tidak ada yang akan berani menggosipkanmu, percayalah padaku,” Anthonino mengambil Sraft dari tangan Keiko dan melemparkannya dengan sembarang, “Ayo nikmati waktu kita.”


Mereka berdua berjalan beriringan, sesekali Keiko meraih bagian belakang kemeja yang di kenakan Anthonino agar ia tak terpisah dari pria itu karena banyaknya manusia yang berjalan kaki di tempat itu.


Anthonino meraih telapak tangan Keiko dan menggenggamnya erat sepanjang mereka menyusuri jalanan di komplek China Town.


“Apa kau bernah ke sini?”


“Ini pertama kali.”


“Berapa tahun kau di London?” tanya Anthonino.


“Enam tahun,” jawab Keiko, “ada apa?”


“Aku akan mengajakmu ke Guangzhou kelak.”


“Guangzhou?” Keiko bertanya.


“Iya, Guangzhouibuku berasal dari sana.”


‘Kalau tidak salah ayah Tiffany berasal dari Guangzhou’ batin Keiko.


“Jadi kau memiliki darah dari Asia?” tanya Keiko.


“Kau tidak menyangka bukan? Gen ayahku terlalu kuat,” kekeh Anthonino .

__ADS_1


Keiko menangguk sambil mengerjapkan matanya seolah ia tak percaya.


Ketika menjumpai sebuah toko yang menjual bunga Anthonino berhenti, pria itu berbicara menggunakan bahasa mandarin pada penjual bunga. Kemudian mengajak Keiko ke sebuah toko yang tampaknya menjual berbagai makanan yang tidak terlalu berat.


Setelah memesan beberapa makanan yang di anggap unik mereka berdua duduk sambil menunggu pesanan mereka.


“Kau sepertinya sering ke sini.”


“Ya, aku sering ke sini.”


“Bersama mantan pacarmu?”


“Kami berhubungan saat kami di New York, dan dia sudah tidak ada sayang, tidak perlu mengingatnya.”


“Apa dia sakit?” Keiko tampak begitu penasaran.


“Aku tidak ingin membahasnya,” jawab Anthonino dengan nada tidak tertarik.


“Kau sangat mencintainya?”


Anthonino tidak menjawab pertanyaan Keiko, ia mengalihkan pandangannya.


Kecanggungan menyeruak di antara pasangan itu, untunglah tidak lama makan yang mereka pesan datang.


“Waaaoooowww...!” pekik Keiko matanya tampak berbinar saat melihat Creps dalam bentuk unik dan berukuran besar.


“Sangat besar kau harus membantuku menghabiskannya,” kata Keiko sambil menggigit Crepsnya.


“Kau menyukainya?” tanya Anthonino, ia sedikit merasa heran, mobil berharga jutaan dolar tidak membuatnya takjub, namun Creps yang hanya berharga 5 dolar membuat Keiko sangat takjub hingga matanya tampak berkilauan, istrinya memang unik.


Keiko mengangguk.

__ADS_1


“Jika Sarah atau Lelya ada di sini mereka pasti memarahiku,” Keiko tertawa kecil sambil terus menggigit Crepsnya.


TOLONG TEMAN TEMAN JANGAN PROTES CHAPTER PENDEK, INI AUTHOR HANYA SEMENTARA AJA, KARENA AUTHOR SEDANG MENAIKKAN VIEWERS 😭 MAKLUM PENULIS ABAL ABAL GAK BERBAKAT DAN GAK FEMES 🤐🤐🤐 PERLU VIEWERS DAN PENGEN JUGA NOVELNYA NANGKRING DI BERANDA PROMOSI MANGATOON, MOHON MAKLUM.


__ADS_2