
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
Philip baru saja memasuki lift, tangannya penuh dengan kantong belanja. Ia baru saja menyewa sebuah unit apartemen di mana Samantha berada. Menjadi tetangga apartemen Samantha, sepertinya permainan yang menyenangkan.
Saat pintu lift hendak menutup seseorang tiba-tiba menekan tombol dari luar sehingga membuat pintu lift kembali terbuka. Philip masih dengan posisinya, kepalanya menunduk. Apalagi kali ini ia tidak mengenakan topi, ia hanya mengenakan kaos dengan gaya turtle neck. Orang akan dengan mudah mengenalinya.
“Kau.... Tuan, kau... hai, kau yang kemarin bukan?” Suara itu membuat Philip mau tak mau mengangkat wajahnya, tidak mungkin pemilik suara itu berbicara dengan orang lain karena bisa di pastikan hanya ada dua orang di dalam lift.
Philip menaikkan kedua alisnya. Gadis yang kemarin ia foto berdiri tak jauh darinya. Rupanya gadis itu memang bukan anak remaja, ia mengenakan seragam formal bekerja. Terlihat jelas ia baru saja kembali dari bekerja.
“Jadi kau tinggal di sini?” tantangan penuh dengan semangat.
“Ya, begitulah,” jawab Philip singkat.
“Mungkin kita bertetangga, omong-omong kau tinggal di lantai berapa?”
“Lantai dua puluh tiga,” jawab Philip.
“Wow, sepertinya kita memang bertetangga,” ucap gadis itu dengan mata berbinar.
Bersamaan dengan itu denting pintu lift berbunyi, menandakan mereka tiba di lantai yang mereka tuju.
“Oh iya, siapa namamu?” tanya gadis itu.
“Philip,” jawab Philip singkat. Tetapi, menimbang rasa kesopanan sepertinya tidak pantas jika ia tidak bertanya siapa nama gadis itu. “Namamu?”
“Panggil saja Clau, namaku Claudia,” jawabnya. Claudia buru-buru membuka tasnya dan mengeluarkan dompetnya, ia mengambil sebuah kartu nama kemudian mengulurkan kepada Philip sebuah kartu nama. “Jika kau memerlukan bantuanku, kau bisa menghubungiku.”
__ADS_1
Philip menerima kertas kartu nama itu. Ia tertawa kecil, bagaimana tidak? Di sana tertera Claudia adalah seorang asisten pengacara perceraian.
Apa aku terlihat seperti pria patah hati yang di ceraikan istrinya?
“Ini tidak berguna,” kata Philip sambil membolak-balikkan kertas kecil itu di tangannya.
“Maksudmu?” Claudia memiringkan sedikit kepalanya.
“Aku belum menikah,” jawab Philip sambil tersenyum masam.
“K-kalau begitu... simpan saja, mungkin kau perlu teman minum bir atau kopi di akhir pekan, kau bisa meneleponku atau mengetuk pintuku, aku di nomor 03-D,” ucap Claudia sambil berlalu menjauh dari hadapan Philip.
***
“Jadi kau menguntitku?” tanya Philip ketika ia mendapati Claudia berdiri di depan pintu unit tempat tinggalnya.
“Mengundang?” Philip sedikit mengerutkan keningnya.
“Karena besok adalah ulang tahunku jadi aku ingin mengumpulkan tetangga terdekat untuk sekedar minum dan memakan beberapa potong kue di tempat tinggalku,” ucap Claudia.
Philip masih bertanya-tanya di dalam benaknya, seberapa polosnya gadis aneh ini karena hingga saat ini rupanya Claudia masih belum mengenali Philip hingga Philip merasa sepertinya ia memang kurang terkenal.
“Berapa orang yang kau undang?” selidik Philip. Ia harus memastikan ia tidak di jebak oleh gadis yang berpura-pura tidak mengenalnya lalu masuk ke dalam apartemen gadis itu dan ia masuk ke dalam berita karena terlibat skandal. Di fitnah memerkosa gadis kecil misalnya.
“Beberapa orang telah berada di sana,” jawab Claudia.
“Baik, tunggu aku akan mengambil ponselku dulu,” ujar Philip. Ia menutup pintu. Sedikit tidak sopan mungkin tetapi mau bagaimana lagi ia dan Claudia bisa di bilang adalah dua orang asing. Ia harus berhati-hati meski kepada seorang gadis.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Philip kembali membuka pintu, kedua orang itu berjalan beriringan. Claudia sesekali membuka pembicaraan sementara Philip hanya menyahut dengan anggukan kecil.
Kekhawatiran Philip tentang jebakan gadis polos akhirnya menguap berganti kekhawatiran lain karena di dalam tempat tinggal Claudia mungkin ada beberapa orang gadis, terlihat dari banyaknya kaleng bir yang di susun di atas meja. Sementara ini hanya ada dua orang yang sedang duduk di ruang tamu.
“Ini tetangga baru kita yang tampan, yang aku ceritakan tadi,” kata Claudia penuh semangat.
Ketiga gadis di dalam ruangan itu saling menyapa Philip sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
“K-kau.... tunggu,” ujar gadis yang bernama Ivo. Ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu. Satu menit kemudian Ivo kembali, tidak sendiri karena Samantha bersamanya dari arah dapur.
Kedua mata mereka bersobok.
“Sam, dia... kalian saling mengenal bukan?” tanya Ivo. “Dia juga tetangga baru kami, dia baru pindah dua Minggu yang lalu, apa kalian memiliki proyek pekerjaan di sini?”
Philip berdehem. Ia sebisa mungkin bersikap tenang. “Ya, kami memiliki pekerjaan di sini,” jawabnya.
Claudia tampak kebingungan, gadis itu benar-benar polos. “Kau juga seorang model?” tanyanya.
“Kau tidak mengenalinya?” tanya Ivo.
Claudia hanya menggelengkan kepalanya.
Sementara Samantha ia tampak menegang. “Hai, Philip. Lama tidak bertemu,” sapanya canggung.
TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤❤❤
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒🍒