Married With Pilot

Married With Pilot
Mengenalnya


__ADS_3

Siang hari Anthonino kembali ke tempat tinggalnya dan mengatakan Innesa masuk rumah sakit karena keracunan.


“Ayo kita jenguk mama,” ajak Anthonino.


“Mama sakit?”


“Ya dia di rawat di rumah sakit,” jawab Anthonino sambil memakaikan mantel di tubuh Keiko. Udara di Moscow cukup dingin dan cuaca juga berubah-ubah tidak menentu.


Sesampainya di rumah sakit baik Keiko maupun Anthonino terkejut karena mendapati Innesa yang begitu lemah tidak seperti tadi malam yang begitu bersemangat begitu enerjik dan bugar.


“Mama, kenapa begini?” Anthonino menggenggam erat tangan Innesa.


“Entahlah. Aku sepertinya alergi teh,” kata Innesa dengan suara lemah.


“Teh?” tanya Keiko dan Anthonino berbarengan.


“Aku baik-baik saja sebelum meminum teh,” ucap Innesa dengan nada lirih, ekor matanya melirik Keiko.


Keiko menelan ludahnya, sepertinya firasat Keiko benar adanya bahwa wanita ini sedang mencoba membuat jarak dan mungkin memisahkannya dengan Anthonino.


“Kau tidak alergi terhadap teh sebelumnya, kita dulu setiap hari meminum teh bersama.” Anthonino sangat terkejut dengan pengakuan Innesa yang mendadak mengaku alergi teh. Di masa lalu mereka berdua setiap sore duduk bersantai sambil mengobrol di taman belakang mansion.


“Teh produk China, Mama sama sekali tidak bermaksud menuduh teh pemberian istrimu, tetapi Mama baik-baik saja sebelumnya.” Innesa tampak tergagap.


Bukan hanya Keiko yang menelan ludahnya, Anthonino juga merasa tidak nyaman karena teh yang di beli Keiko adalah rekomendasi dari dirinya. Toko tempat Keiko dan Lelya membeli teh dan tonik sarang burung walet itu juga Anthonino yang menyarankan.


“Mama, maafkan aku. Aku yang membeli teh itu, aku tidak tahu kau alergi terhadap teh China.” Untunglah Anthonino membela Keiko, bagi Keiko itu sudah cukup.

__ADS_1


“Aku mungkin telah terlalu tua, kau akan meninggalkan aku setelah memiliki istri. Kalian pasti enggan merawatku kelak, ” kata Innesa, wanita itu mulai terisak.


Demi Tuhan Keiko benar-benar ingin menertawakan nasibnya sendiri.


Inikah rasanya menjadi istri dari seorang Anthonino Mikhayla Petrav yang tidak terkenal itu?


Pertama ia harus berebut dengan Nameera, kedua ia harus berebut dengan Ibunya yang materialistis itu, kemudian Crystal yang mencari perhatian Anthonino tanpa malu-malu dan sekarang? Ibu mertuanya sendiri. Suaminya tidak terkenal, bahkan jika ia terkenal itu hanya karena kekayaannya yang fantastis bukan karena prestasinya. Keiko tidak yakin setelah ini akan ada gadis lain yang mungkin akan menjadi pesaing cintanya kembali.


“Mama, pikiran kesembuhanmu saja. Jangan berbicara omong kosong,” kata Anthonino.


Keiko terpaku melihat kasih sayang Anthonino yang begitu besar kepada Innesa, apa pun yang Innesa katakan pasti Anthonino akan dengan mudah percaya kepada Innesa. Nasib rumah tangganya sepertinya tak jauh berbeda dengan rumah tangga Livia ibunya yang tidak bisa berdamai dengan mertuanya. Tetapi, nasib Livia sepertinya lebih baik karena Naoki teramat baik. Sepanjang yang Keiko tahu ayahnya tidak pernah berusaha mendekatkan ibunya ke tengah-tengah keluarga Yamada. Dengan kata lain Naoki tidak pernah memaksakan keluarga besar Yamada untuk menerima kehadiran istrinya.


Ayahnya hanya peduli dengan kebahagiaan keluarga kecil miliknya.


Pertama kalinya dalam hidup Keiko ia berharap ayahnya bukan Naoki agar pria itu bisa menjadi suaminya.


Anthonino mengangguk. “Jangan ke mana-mana, tunggu aku di luar,” kata Anthonino.


“Mama, semoga lekas sembuh. Aku akan keluar terlebih dahulu. Sampai jumpa” Keiko dengan sopan undur diri dari ruangan itu kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu dengan perasaan gusar. Di depan pintu kamar tempat Innesa di rawat, Arima yang sedang duduk di bangku segera berdiri.


“Nona? Di mana tuan?”


“Dia bersama ibunya,” jawab Keiko dengan wajah cemberut.


“Ada masalah?” Arima mengamati wajah Keiko yang tampak gelap.


“Bagaimana jika kita pergi ke kantin atau restoran terdekat dari sini?”

__ADS_1


“Tuan akan mencarimu,” kata Arima.


“Jangan pedulikan dia, aku lapar.” Keiko benar-benar kesal hingga ia merasa sangat lapar. Lagi pula Anthonino juga tampaknya tidak memerlukan dirinya ada di sampingnya.


Melihat raut wajah nona mudanya yang begitu kesal Arima hanya bisa menuruti kemauan Keiko, ia mengikuti langkah kaki Keiko yang tidak jelas menuju ke mana.


Sementara di dalam kamar Innesa.


“Lihat. Istrimu tidak memiliki sopan santun.” Innesa memejamkan matanya.


Anthonino hanya terdiam, di depannya adalah orang tuanya. Setidaknya begitu karena Innesa adalah wanita yang membesarkannya dan di sisi lain Keiko adalah wanita yang ia cintai. Ia tidak bisa jika harus terang-terangan membela Keiko ataupun membenarkan tuduhan Innesa.


“Istrimu bahkan mengubah gaun yang mama belikan untuk acara makan malam.” Innesa sungguh pandai bersandiwara.


“Gaun?” Anthonino mengerutkan keningnya.


“Kurasa istrimu tidak menyukaiku,” kata Innesa dengan nada pasrah yang di buat-buat.


“Mama itu tidak benar. Istriku hanya sedikit pendiam dan polos,” kata Anthonino membela istrinya.


“Kau tertipu olehnya nak, ia tak sebaik yang kau lihat.”


Anthonino menghela napasnya pelan. “Mama, aku mengenalnya.”


“Ia bahkan tidak menghargai gaun pertama yang kubelikan untuknya, kemudian ia memberikan aku racun. Kau tertipu sayang.”


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2