
VOTE POIN DAN KOIN.
JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI GAK MAU VOTE.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Seorang wanita berparas cantik yang usianya kelihatannya lebih tua beberapa tahun dibanding ibu Keiko menuruni tangga yang melingkar mewah di tengah ruangan mansion, tangga yang melingkar di dalam ruangan itu berwarna putih dengan kilatan marmer yang tampak begitu elegan. Beberapa vas bunga dari kristal yang tampak begitu mahal juga menghiasi ruangan besar itu.
“Anakku kau akhirnya datang kenapa kau tidak memberi tahu kalau hari ini itu akan ke sini?” Indonesia menyapa Anthonino dengan tutur kata yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.
“Mama,” sapa Anthonino, lengannya melingkar di pinggang ramping istrinya.
Innesa, wanita itu memiliki warna mata hijau, rambutnya berwarna pirang, tubuhnya ramping. Masih terlihat di cantik di usianya yang tidak lagi muda.
Wanita itu dengan langkah anggun mendekati Anthonino dan Keiko, secara alami Anthonino melepaskan lengannya yang melingkar di pinggang Keiko ia mendekati Innesa.
“Putraku apa kabarmu?” Innesa memeluk Anthonino yang di sambut dengan hangat oleh Anthonino.
“Sangat baik,” jawab Anthonino. Ia melepaskan pelukannya dari Innesa. “Mama kenalkan ini istriku,” kata Anthonino mengenalkan Keiko kepada Innesa.
Mata Innesa tertuju pada Keiko. “Oh sangat cantik. Jadi ini calon istri yang kau ceritakan kepada Mama beberapa bulan yang lalu?”
Keiko tersenyum ramah kemudian ia mengangguk.
“Kami telah menikah,” kata Anthonino.
Mendengar apa yang di ucapkan Anthonino, paru-paru Innesa nyaris tersumbat. Namun, wanita licik itu masih mampu mempertahankan ketenangannya.
__ADS_1
“Cintaku, kenalkan ini mamaku Innesa. Kau harus memanggilnya mama.” Anthonino memperkenalkan istrinya kepada Innesa.
“M-mama, senang bertemu denganmu. Namaku Yamada Keiko,” ucap Keiko memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya. Keiko langsung tanggap dengan keadaan, suaminya memiliki ibu tiri.
Innesa menerima uluran tangan Keiko, di genggamannya erat telapak tangan Keiko, sementara telapak tangan yang lain menepuk-nepuk punggung telapak tangan Keiko.
“Keiko, namamu sangat indah. Sepertinya serasi dengan wajahmu. Kau harus menganggapku seperti orang tuamu sendiri, jangan sungkan kepadaku.” Bibir Innesa menyunggingkan senyum manis, kalimat uang di ucapkan terdengar begitu lembut.
“Arti namanya adalah Cantik. Anthonino menimpali perkataan Innesa.
Keiko hanya tersenyum mendengar pujian dari kedua orang itu.
“Aku harus segera bertemu kedua orang tuamu. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan besan yang melahirkan gadis yang begitu cantik,” kata Innesa. Ucapannya selalu !Anis dan lembut.
“Secepatnya kita akan ke Tokyo,” kata Anthonino.
“Sepertinya aku ingin waktu itu segera datang,” kata Innesa sambil perlahan melepaskan telapak tangan Keiko.
Mereka berbincang-bincang sambil menikmati teh dan beberapa macam biscuit yang di hidangkan oleh para maid. Obrolan Innesa terus terfokus seputar kegiatan Keiko. Meski nadanya begitu ramah namun tetap saja Keiko sedikit merasa risih jika Innesa begitu fokus menanyakan dunianya. Innesa begitu ramah dan santun dalam segala ucapannya tidak membuat Keiko besar kepala. Keiko justru merasa ibu mertuanya itu menakutkan di balik sikap ramahnya. Entah apa yang membisiki di dalam benak Keiko, ia merasa tidak nyaman. Apalagi sekilas ia menangkap kilatan mata ibu mertuanya tampak menyiratkan wanita itu tidak menerimanya begitu saja sebagai menantu.
Apakah karena ia memiliki latar belakang sebagai seorang seniman?
“Hubby, sejak tadi aku tidak melihat ayahmu.” Keiko sejak tadi telah menahan diri untuk menanyakan ayah mertuanya yang tidak terlihat dan itu juga satu-satunya cara agar ia terbebas dari pertanyaan Innesa yang seperti sedang menginterogasi dirinya secara halus.
Anthonino mengelus rambut di kepala istrinya kemudian ia berucap, “kita akan menemuinya.”
Anthonino memang belum menceritakan keadaan ayahnya kepada Keiko, obrolan seputar keadaan ayahnya di Tokyo beberapa hari yang lalu hanya obrolan para pria sambil bermain catur.
__ADS_1
“Ayo kita temui ayah kalian.” Innesa segera bangkit dari duduknya yang di ikuti oleh Anthonino dan juga Keiko.
Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan yang di desain dengan sempurna bak sebuah ruangan rumah sakit. Diatas sebuah ranjang pasien seorang pria tua terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan dan selang terpasang di mulutnya. Belum lagi alat-alat medis yang tertempel di dadanya.
Anthonino membawa Keiko mendekati ranjang pasien, ia berucap dengan suara yang terdengar pelan dan nada bicara yang rendah. “Dia Feliks. Papaku, sudah satu tahun lebih ia terbaring sakit.” Anthonino menjelaskan secara singkat keadaan ayahnya.
“Oh, apa ia bisa mendengar?”
“Menurut dokter ia bisa mendengar, hanya tidak bisa bangun.”
Innesa menggenggam telapak tangan Feliks, membelanya dengan gerakan lembut. “Sayang, lihatlah putra kita. Dia datang mengunjungimu dan membawa istri yang sangat cantik. Nino membawakan menantu untuk kita,” kata Innesa berbicara kepada Feliks.
“Aku yakin sebentar lagi kita akan memiliki cucu. Yang pasti cucu kita akan setampan dirimu atau kau secantik menantumu. Kau seharusnya membuka matamu untuk melihat menyaksikan pernikahan mereka sebentar lagi,” kata Innesa melanjutkan bicaranya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
VOTE DENGAN POIN NOVEL INI, DENGAN KOIN JUGA BOLEH.
JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI SAYANG POIN BUAT VOTE!
TAP JEMPOL KALIAN ❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️❤️❤️
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️
__ADS_1
FYI : RAMAIKAN JUGA KARYAKU LAURA.
GRUP CHAT NT UDAH AKU BUKA KEMBALI BUAT RUMPI DAN MULUNG POIN, SILAKAN DI RAMAIKAN 🙏🙏