Married With Pilot

Married With Pilot
Ibu tiri


__ADS_3

TAP JEMPOL KALIAN SEBELUM MEMBACA PLIS!


Bibir Nameera bergetar karena ketakutan, sangat jelas ia ketakutan karena seumur hidup ia belum pernah berbicara langsung hanya berdua dengan Derren walaupun sekarang kenyataannya mereka tidak berdua tapi berempat tetaplah ia seperti sedang berdua Derren yang ternyata benar-benar dingin dan mengerikan.


Tanpa menunggu Nameera menjawab pertanyaannya Derren telah menginstruksikan kepada dua bodyguard untuk menggiring Nameera keluar meninggalkan kamar itu, sementara saat salah satu bodyguard dengan sigap mengambil koper yang telah persiapkan oleh Nameera seolah ia memang sedang mempersiapkan diri untuk di jemput oleh mereka.


Nameera tidak tahu kakaknya akan membawanya yang jelas ia tidak berani bertanya, bahkan saat mereka berada di dalam mobil untuk melirik kakaknya yang duduk di sampingnya saja ia tidak berani hingga mereka tiba di bandara dan memasuki kabin pesawat Derren sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Pria itu benar-benar melebihi gunung es bukan hanya seperti gunung es tetapi seribu kali melebihi gunung es, sangat dingin dan menakutkan.


Apakah ia juga bersikap seperti ini kepada Keiko atau hanya kepadaku?


Setelah perjalanan panjang akhirnya tiba juga mereka di Uzbekistan, ternyata kakaknya yang dingin itu menjemput Nameera dan mengantarkannya ke Uzbekistan. Seharusnya ia bahagia mendapatkan perhatian dari kakaknya yang telah ia dambakan sejak lama tetapi kali ini semua berbeda. Kakaknya pasti telah mengetahui perbuatannya. Lagi-lagi semua karena Keiko.


Zaskia yang membukakan pintu rumahnya tampak terkejut melihat dua sosok yang berdiri di depan pintunya. Untuk pertama kali di dalam hidupnya Derren menginjakkan kaki ke Uzbekistan, ini seperti mimpi bagi Zakia. Wanita itu begitu gembira menyambut kedatangan kedua orang tersebut.


“D-Derren..., Nameera...,” ucap Zakia terbata.


“Tante aku mengantarkan putrimu kembali karena dia tidak seharusnya hidup sendiri di Rusia,” kata Derren. Nada bicaranya terdengar dingin dan suara yang terdengar berat.


“Kalian masuklah dulu,” kata Zakia. “Bagaimana kabar kalian? Nameera apa kau sakit? Kau tampak pucat.”


“Keadaanku baik Mommy,” jawab Nameera dengan bibir bergetar. Bagaimanapun ia memang sangat ketakutan, sekarang ia yakin keluarga Keiko telah mengetahui perbuatannya dan sekarang ia benar-benar harus menghadapi semua ini. Tidak ada jalan untuk mundur, tidak ada jalan untuk berlari. Ia memang harus menghadapinya seberat apa pun nanti.


“Derren, apa kau akan menginap di sini?” setelah mempersilahkan Derren duduk, Zakia membuka pembicaraan. “Mommy... Maksudku tante akan menyiapkan kamar untukmu jika kamu ingin menginap di sini, apa kau datang sendiri? Kenapa kau tidak membawa Crystal dan Olivia? Tante merindukan mereka.”

__ADS_1


“Mereka baik,” jawab Derren singkat seolah tanpa minat berbincang.


“Ah Baiklah, pastilah kalian lelah setelah perjalanan panjang, Tante akan menyeduh teh lemon untuk kalian. Bersantailah sebentar sambil tunggu Daddy kalian kembali, ia masih ada di perusahaannya,” kata Zakia.


Derren seperti biasa yang tidak menjawab apa pun dia hanya duduk diam sambil jemarinya terus mengetik di atas layar ponselnya. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan Nameera yang tampak kikuk bahkan sepertinya untuk bernapas pun ia Nameera tampak sangat berhati-hati.


Lima belas menit kemudian Zaskia kembali membawakan dua cangkir teh lemon beserta beberapa potong kue khas negara itu.


“Aku harap kau menghina beberapa kau tinggal beberapa hari di sini,” ucap Zakia sambil meletakkan dua cangkir teh di atas meja. “Ayo, Derren minumlah teh lemonnya.”


Dengan gerakan anggun Derren mengambil cangkir tehnya kemudian perlahan menyesap tehnya kemudian mengembalikan cangkir teh ke tempat semula. “Aku tidak akan menginap,” kata Derren


singkat.


Derren berdehem. “Tante apa kau tahu perbuatan apa yang telah dilakukan oleh Putrimu?”


“Maksudmu?” tanya Zakia.


“Kau bisa tanyakan kepada Putrimu,” jawab Derren tanpa melirik sedikit pun ke arah Nameera yang sejak tadi tertunduk.


“Nameera... Apakah kau melakukan kesalahan?” tanya Zakia kepada Nameera yang duduk di sebelahnya.


Nameera semakin tertunduk dalam, tatapan matanya hanya mampu menatap lantai yang pijak.

__ADS_1


“Nameera, apa yang terjadi?” Zakia mulai khawatir. “Katakan kepada Mommy apa kau melakukan kesalahan Nameera?”


Nameera menggenggam erat kedua telapak tangannya, tentu saja ia sangat ketakutan. Ia adalah seorang pembunuh, rasa berdosanya setelah membunuh terasa sangat mengerikan menghantuinya. Sekarang ketakutannya bertambah hingga nyaris mencekik lehernya karena harus menghadapi pertanyaan dari keluarganya.


“Nameera....” Zakia mengangkat dagu putrinya yang tertunduk dalam kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada Derren. “Derren, tolong ceritakan kepada tante apa yang terjadi.”


Bibir Derren tampak mengulas sedikit senyum. “Putrimu mencoba mencelakai Keiko dan suaminya,” Derren menjeda kalimatnya.


Mendengar apa yang di ucapkan Derren membuat Zakia mengerjapkan matanya beberapa kali wanita itu tampak memegangi dadanya. “Bagaimana keadaan mereka?” tanyanya dengan nada panik.


“Keadaan mereka berdua untuk saat ini aku tidak bisa memastikan mereka akan bangun kapan atau keadaan terburuknya adalah seumur hidup dalam keadaan tanpa kepastian di antara hidup dan mati,” jawab Derren penuh dengan tekanan emosi rahangnya tampak mengeras.


Mendengar itu ada sedikit kelegaan di dalam benak Nameera karena Keiko dan Anthonino tidak meninggal, ia bukan seorang pembunuh. Setidaknya ia tidak harus menerima hukuman mati kelak.


“Mungkin jika aku tidak menjemputnya ia akan melarikan diri. Sekarang karena ia telah berada di rumahnya, Tante tolong jaga dan beri dia pelajaran. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan keluarga Yamada nanti kepadanya. Mereka telah mengetahui semua perbuatan Nameera dan aku sendiri tidak yakin apa keluarga Yamada akan mengampuninya, untuk saat ini mereka belum mengambil keputusan. Tetapi, tante tahu sendiri bagaimana sikap Mommyku dan kau juga tahu sendiri bagaimana perasaan Daddy, aku tidak yakin Daddy akan membela Nameera meski ia satu-satunya mengingat Daddy begitu mencintai mantan istrinya.” Derren mengucapkan kalimatnya dengan nada begitu sinis.


Zakia hanya mampu menelan ludahnya yang terasa sangat pahit. Ucapan seperti pedang yang menebas jantungnya, sakit. Tentu saja sangat sakit. Wajah Zakia semakin tampak gelap, ia tahu suaminya masih sangat mencintai Livia.


Derren, bisakah kau menjaga sedikit ucapanmu? Setidaknya hargai aku sebagai ibu tirimu, istri dari ayahmu.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️


🍒🍒🍒

__ADS_1


__ADS_2