Married With Pilot

Married With Pilot
Benar-benar licik


__ADS_3

Keiko duduk di samping Anthonino yang mengemudikan mobilnya, wajah Keiko tampak merah merona.


‘Pria ini sangat kaya namun ia menyetir mobilnya sendiri, apa ia seorang pria yang pelit?’ Batinnya.


Tiba tiba ponselnya berdering, itu panggilan video dari Olivia kakak iparnya.


Penuh semangat Keiko menjawab panggilan itu


“Olivia oneesan....” jawab keiko dengan gaya manjanya.


“Kei, Crystal mencarimu 2 minggu kau tidak menghubungi kami.”


“Oneesan maafkan aku, aku sangat sibuk.”


“Aaunty.... Aku rindu padamu.”


“Oh sayang aunty juga sangat merindukanmu, apa kau belajar bahasa Jepang dengan baik?”


“Itu sangat sulit” keluh anak kecil itu dengan suara imutnya.


Mereka bertiga terlibat pembicaraan serius seperti teman sebaya, bahkan Keiko telah melupakan di mana dirinya dan siapa yang berada di sampingnya, ia tak peduli hingga tak terasa 15 menit sudah mereka tiba di tujuan, karena merasa bosan menunggu Keiko yang terus berceloteh Anthonino sengaja melihat Crystal di layar ponsel Keiko.


“Mama lihat, ada uncle tampan di samping aunty,” seru Crystal.


Keiko berusaha mendorong bahu Anthonino namun terlambat, Olivia telah melihat, Olivia sangat terkejut melihat siapa yang di belakang Keiko namun Anthonino yang berada di belakang Keiko dengan sigap memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


Keiko buru buru mematikan sambungan Video Call tanpa memberitahu Crystal terlebih dulu.


“Bagaimana jika kakakku mengira kau pacarku?” gerutu Keiko.


“Faktanya aku suamimu sayang, bukan pacarmu,” jawab Anthonino sambil mengangkat kedua alisnya.


“Kau ini...”


“Tinggal katakan saja aku suamimu,” jawab Anthonino santai, “cepat atau lambat seluruh dunia akan tahu kau hamil dan aku harus mengakui sebagai ayah dari bayi kita bukan?”


“Bayiku!”


“Aku yang menabur benih.”


“Aku yang menggandung.”


“Kau tidak akan mengandung jika aku tidak memberimu benih cintaku.”


“Kau sangat menyebalkan, ingat perjanjian kita,” Keiko melotot galak.


“Ayo cepat turun produsermu menunggu Mrs. Petrav,” kata Anthonino sambil mengerlingkan sebelah matanya dan sukses membuat wajah Keiko merah merona, bukan kerlingan mata pria itu yang membuat wajahnya merona namun panggilan Mrs. Petrav membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdetak kencang.


Setelah berkenalan dan berbicara sedikit dengan para kru yang akan terlibat dalam pembuatan iklan dan rekaman untuk backsound akhirnya mereka memulai latihan, Keiko tampak sangat serius melakukan latihan sambil membaca partitur musik yang ada di depannya.


Beberapa jam kemudian tampak Lelya datang membawakan segelas matcha tea ice dari merk terkenal.


Anthonino memanggil Lelya.


“Biar aku saja yang memberikan," kata Anthonino.

__ADS_1


Lelya menyerahkan gelas itu pada Anthonino.


Merasakan seseorang menempelkan sedotan di bibirnya Keiko terkejut terlebih lagi sekarang tubuhnya terkurung sempurna dalam dekapan Anthonino.


Memalukan... semua mata kini tertuju pada Keiko dan Anthonino yang tampak begitu dekat, hampir saja ia menepis kedua lengan Anthonino yang mengurungnya, ia takut orang orang mengira ia adalah seniman yang merayu Boss perusahaan yang mengontraknya, ya meskipun faktanya demikian.


Tapi saat ia melirik gelas yang berada ditangan Anthonino adalah mactha ice blend dengan creamy kesukaannya Keiko segera membuka mulutnya untuk menghisap sedotan itu.


Baru sekali hisap ia berhenti, karena minuman itu tidak terasa manis.


“Nino, kau tidak mengaduknya, tidak manis,” rengeknya manja.


Anthonino memang sengaja tidak mengaduknya terlebih dahulu agar gadisnya melakukan protes, Ia tersenyum simpul lalu mengaduknya dan mendekatkan kembali sedotan di bibir Keiko, dengan cepat Keiko menghabiskan seluruh isi gelas plastik itu.


“Apa kau mau lagi?” tanya Anthonino lembut.


Keiko menggeleng, “terima kasih, besok saja.”


“Oke Mrs. Petrav,” bisik Anthonino di dekat telinganya, nafas Anthonino seolah menyapu kulitnya membuat bulu kuduknya meremang.


Sontak wajah Keiko kembali merah merona, entah kenapa semua gerak gerik Anthonino di matanya selalu menjadi daya tarik tersendiri dan membangkitkan sisi liarnya.


Sore hari mereka kembali ke mansion mewah milik Anthonino, Keiko baru saja hendak merebahkan tubuhnya namun pelayan datang memanggilnya dan mengantarkan Keiko masuk ke ruang kerja milik Anthonino, ternyata di sana telah ada seorang desainer beserta beberapa rombongan untuk mengukur tubuhnya.


“Untuk apa?” Keiko tampak bingung.


“Gaun untuk kepentingan iklan,” Anthonino yang menjawab.


“Apa tidak berlebihan?” tanya Keiko, itu iklan penerbangan bukan iklan gaun pengantin, tidak perlu menggunakan pakaian rancangan khusus untuk tubuh Keiko.


“Tidak ada yang berlebihan, semua sesuai kemauanku,” jawab Anthonino.


“Kau sudah menandatangani kontraknya bukan?” tanya Anthonino dengan nada bercanda.


“Nino aku tidak bercanda,”


“Well, ku pikir kau lupa.”


Anthonino mengambil sebuah map berwarna coklat.


“Bacalah dulu,” katanya.


“Aku perlu asistenku.”


“Panggilkan Lelya dan Sarah,” kata Anthonino pada salah satu pelayannya dan tak lama kedua asisten keiko datang untuk membacakan isi kontrak yang tertulis di beberapa halaman kertas.


“Nino ada poin yang tidak seharusnya, aku tidak bisa tinggal di Moscow dalam satu tahun, kau tahu pekerjaanku sangat padat di London.”


“Kita pindahkan saja di sini.”


“Tidak bisa begitu.”


“Kei aku suamimu, kau harus bersamaku.”


“Kau?” Keiko membelalakkan matanya pada Anthonino karena di ruangan itu masih ada Sarah, Lelya dan beberapa orang lagi.

__ADS_1


Anthonino memberi kode pada semua yang berada di dalam ruangan itu untuk keluar dari ruang kerja itu.


“Mereka juga orang orangku, aku yang menggaji mereka sejak kau menandatangani surat nikah, mereka sudah tahu.”


“Tapi dalam perjanjian itu...”


“Bacalah dengan teliti perjanjian kita,” Anthonino mengulurkan salinan perjanjian pernikahan mereka.


“Pihak pertama dan kedua merahasiakan isi perjanjian tersebut,” Keiko menarik nafas kesal, saat itu ia sedang terselimut kabut gairah, ia tidak berpikir jernih.


Sementara Anthonino mengangkat kedua alisnya dengan wajah penuh kemenangan.


“Isi perjanjiannya hanya ada satu bukan? Pernikahannya tidak harus di sembunyikan.”


“Kau benar benar licik.” Keiko melotot kesal.


“Kau sekarang bersuami sayang, bukan gadis lajang kau harus menjaga suamimu yang tampan ini.”


Keiko berdecih malas.


‘Suami mainan’ cibirnya dalam hati 'lagipula aku tidak akan memerlukan semua ini kelak.'


“Dan masalah komisi, aku tidak setuju? Aku tidak mendapatkan komisi apa pun? Semua komisi untuk agency, kau pikir aku sedang melakukan charty?”


“Kau memang tidak ku bayar dengan uang tapi mansion ini telah beralih nama menjadi milikmu, beserta beberapa milyar deposito sudah berada di tabunganmu, katakan jika kurang atau kau ingin mobil baru?”


Keiko justru mengerutkan keningnya.


“Sekarang kau nyonya di mansion ini sayang, kau pemilik mansion ini.” Anthonino duduk di depan Keiko sambil memegang kedua telapak tangan Keiko.


“Nino aku...” ia tak memerlukan semua itu, keluarganya memiliki semua.


“Kau akan tinggal di sini membesarkan anakmu nanti.”


“Nino aku sudah menga....”


“Iya aku tahu, tapi ini tanggung jawabku sebagai seorang pria meskipun aku tahu kau mampu dan tak meminta apa pun dariku,” sela Anthonino cepat, ia tidak ingin terus terusan mendengar bantahan dari bibir istrinya.


“Tapi...”


“Kumohon jangan menolakku terus aku tidak ingin menjadi pria baj**gan yang tak bertanggung jawab pada anaknya, aku tidak mau menyesal di kemudian hari” Anthonino berulang kali mengecupi punggung tangan. Keiko


Deeeegggggg


Jantung berdegub kencang saat bibir tipis Anthonino menyentuh kulit jemarinya, bahkan rasanya dadanya hampir meledak karena tidak mampu meanahan dentuman jantungnya yang seperti meronta ronta.


“Baiklah jika itu maumu, jadi aku berhak mengusirmu kapan saja dari sini?” gurau Keiko, sebisa mungkin ia menepis getaran aneh yang terus menjalari perasaannya.


“Kau tidak akan mengusirku, kecuali aku yang ingin pergi sendiri.” Anthonino menatap dalam mata Keiko, tatapannya penuh cinta, ketulusan dan kasih sayang.


Tak lama kedua bibir kenyal mereka bertemu dan bertaut penuh kasih sayang, tidak ada nafsu hanya kasih sayang.


Kemudian saling berpelukan merasakan detak jantung mereka yang beradu cepat.


Besok paginya mereka hampir tak saling tatap, Keiko menghindari kontak mata langsung dengan Anthonino. Ia sama sekali tidak berani menatap manik mata biru itu, dan sepanjang hari Keiko hanya berlatih dengan biolanya, membaca partitur partitur musik dan berbicara bersama kedua asistennya.

__ADS_1


TEMAN TEMAN KASIH AUTHOR VOTENYA DONG 😊😊😊


TAP JEMPOL KALIAN PLIS 😊😊😊😊


__ADS_2