
“Kei...” suara itu membuyarkan lamunan Keiko yang mengembara, memikirkan cara agar Anthonino melamarnya rasanya lebih memusingkan di banding harus membuat aransemen lagi klasik. “Kuperhatikan sejak tadi kau melamun Kei,” Lelya berjalan mendekati Keiko yang duduk dengan bahu yang terjatuh di depan pianonya.
“Lelya, aku merasa sangat bosan,” keluh Keiko.
“Suamimu ingin bertemu denganmu,” Lelya memberitahu Keiko.
“Aku akan ke sana,” jawab Keiko, ia hendak mengangkat bokongnya namun Lelya menghentikannya.
“Tidak Kei.”
“Maksudmu?” Keiko menatap wajah Lelya dengan tatapan bingung.
“Nino ingin mengajakmu menemui seseorang untuk makan malam,” ucap Lelya sambil ujung jemarinya menyentuh penutup piano dengan gerakan santai.
“Oh baiklah,” Keiko mengangkat kedua bahunya bersamaan.
“Jam tujuh acaranya, kau memiliki waktu dua jam dari sekarang untuk bersiap,” kata Lelya.
“Bukankah hanya makan malam? Aku tidak memerlukan dandanan khusus,” protes Keiko.
“Kau harus tampil cantik di depan suamimu meski hanya makan malam, apalagi ia akan membawamu bertemu seseorang, kau tidak boleh berpenampilan biasa, ingat siapa suamimu Kei,” ucap Lelya bijak memberikan petuah.
“Lelya, akun tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak ada kau Sarah dan Arima,” ucap Keiko yang di barengi dengan seringai di wajahnya, kegundahannya sedikit terobati dengan kedatangan Lelya yang memberinya kabar.
__ADS_1
“Jangan berlebihan, ini adalah tugasku,” jawab Lelya.
“Terima kasih,” kata Keiko.
Lelya hanya mengangguk, bagi Lelya yang telah beberapa kali berganti mengurus artis hanya Keiko artis yang tidak pernah pelit dengan kata terima kasih, Keiko tidak manja, tidak menyulitkan untuk di urus, namun kekurangannya membuat ia sangat bergantung kepadanya dan Sarah.
Sesampainya di tempat yang di maksud Keiko tertegun, tempat itu di hias dengan mawar merah yang menyala, kontras dengan gaun berwarna pink pucat yang ia kenakan, lilin-lilin kecil yang menyala redup di antara barisan mawar merah yang menyala, tidak cukup sampai di situ, ia melihat Crystal duduk di pangkuan Anthonino mereka berdua sedang bermain piano. Bukan hanya itu, Livia dan Naoki juga berada di sana.
‘apa ini lamaran?’ batin Keiko, rasanya jantungnya seperti hendak melompat dari rongga dadanya.
Tentu saja ia menjadi gugup, ini seperti ia akan memasuki panggung sebuah kompetisi. Tidak benar! Lebih dari itu, lebih dari panggung kompetisi, dan seingat Keiko dulu saat Philip melamarnya ia tidak merasakan ketakutan hingga sepanik ini.
“Lelya,” gumam Keiko, “apa ini lamaran?” Keiko meraih jemari Lelya dan telapak tangannya juga terasa dingin membuat Lelya ingin meledakkan tawanya.
“Iya, Anthonino melamarmu,” jawab Lelya.
“Kei, astaga,” Lelya tidak mengerti kenapa Keiko sangat naif, “Kei, kau tidak bermimpi,” kata Lelya sambil menuntun Keiko melalui lilin dan mawar merah yang tersusun rapi membentuk sebuah jalan menuju di mana Anthonino berada.
“A—aku sangat gugup, aku hampir tidak bisa berdiri,” kata Keiko dengan suara bergetar, ia menghentikan langkahnya.
Photo from Instagram.
__ADS_1
Anthonino menurunkan Crystal dari pangkuannya, Sarah yang berada tak jauh dari tempat Anthonino mengulurkan seikat bunga mawar merah yang menyala kepada Anthonino, dengan langkah kaki yang tampak gagah Anthonino melangkah menuju di mana Keiko berdiri.
Tepat di depan Keiko berdiri Anthonino menekuk sebelah kakinya sambil mengulurkan buket mawar merah yang menyala kepada Keiko, “Yamada Keiko, maukah kau menjadi pengantinku? Menikah di depan Tuhan, mengarungi hidup bersamaku hingga maut memisahkan kita?”
“Me--menikah?” Keiko tergagap, bukankah mereka telah menikah? ‘Apa Anthonino sedang bersandiwara di depan orang tuanya?’ Batin Keiko.
“Iya, menikah, sekali seumur hidup, tidak akan ada perceraian, selamanya.”
‘Tidak ada perceraian? Lalu perjanjian itu?’ Keiko mengerjapkan matanya, ia tampak kebingungan, ia menatap mata Anthonino seolah mencari jawaban.
“Yamada Keiko, maukah kau menjadi pengantinku?” Anthonino mengulangi lamarannya.
“Ya. A--aku bersedia,” jawab Keiko dengan ekspresi wajah begitu tegang.
Anthonino berdiri, ia dengan benar di depan Keiko, ia meraih jemari Keiko, wajahnya begitu dekat dari wajah Keiko, ia bahkan menempelkan keningnya pada kening Keiko.
“Yamada Keiko, aku mencintaimu,” Anthonino mengungkapkan perasaannya untuk pertama kalinya.
“Cinta?”
“Ya aku mencintaimu,” jawab Anthonino.
TAP TAP TANDA JEMPOL 🙄🙄🙄
__ADS_1
JANGAN MENGELUH PENDEK KALAU GAK VOTING DAN KOMEN❤❤❤❤
NGELUNJAK INI AUTHORNYA 😎😎😎