
Anthonino dan Keiko melangkah memasuki ruangan makan di mana seluruh keluarga inti Petrav dan keluarga Vachenca berkumpul.
Keiko mengenakan gaun berwarna merah menyala, gaun itu menjuntai panjang hingga sampai ke mata kaki. Dalam tradisi Tionghoa warna merah memiliki filosofi kedudukan yang sangat tinggi, itulah sebabnya dalam acara-acara khusus dan hari besar warga Tionghoa menggunakan pakaian berwarna merah. Keiko begitu percaya diri melangkah di samping Anthonino yang dengan posesif melingkarkan lengan di pinggangnya.
Keiko juga membawakan sebuah bingkisan untuk Innesa itu adalah teh tradisional yang berasal dari China dan beberapa botol minuman sarang burung walet yang sangat terkenal di China. Keiko sengaja membeli semua barang itu di toko yang menjual berbagai macam jenis obat-obatan China yang ada di Moscow. Ibu mertuanya harus tahu bahwa ia tidak bisa di tindas begitu saja, ibu mertuanya harus sadar bahwa ibu mertua Keiko yang sebenarnya telah di semayamkan di Guangzhou.
Tentu saja Innesa sangat terkejut saat melihat gaun yang di kenakan Keiko, darahnya terasa panas mendidih. Terlebih Keiko datang tidak sendirian, menantunya datang di kawal dua asisten dan satu pengawal pribadi. Menurut Innesa itu berlebihan. Tidak seharusnya menantunya itu bertingkah seperti seorang putri raja.
Wajah polos menantunya ternyata tidak sepolos yang ia kira, bahkan menantu yang tak ia harapkan itu berani menantangnya. Tidak mengenakan gaun pemberiannya, membawakan teh tradisional dan sarang burung walet. Ingin rasanya Innesa mencabik-cabik pakaian yang Keiko kenakan. Wanita yang melahirkan Anthonino adalah wanita yang paling di cintai oleh Feliks. Innesa membenci kenyataan itu.
Setelah Anthonino memperkenalkan Keiko kepada seluruh anggota keluarga yang ada di ruang makan, mereka makan malam dengan hangat di iringi obrolan obrolan ringan. Keiko agak sedikit kurang nyaman karena ia tidak mengerti bahasa Rusia, ia lebih banyak diam hingga satu persatu keluarga membubarkan diri, hanya tinggal beberapa orang saja.
“Keiko kenalkan aku Justin, aku kakak iparmu.” Justin Vasencha memperkenalkan dirinya kepada Keiko.
Pria itu melangkah mendekati Anthonino dan Keiko yang sedang berdiri di tepi kolam renang di belakang Mansion, ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Keiko namun Anthonino justru menyambutnya.
Keiko menatap Justin beberapa detik, memasukkan wajah Justin ke dalam ingatannya. Ia harus bekerja keras untuk hal seperti ini.
Keiko tersenyum melihat tingkah posesif suaminya yang tidak mengizinkan ia berjabat tangan dengan Justin
"Hai Justin salam kenal, suamiku tidak pernah menceritakan padaku ia memiliki saudara.”
__ADS_1
“Oh, tentu saja. Kami bukan saudara kandung, aku hanya anak angkat Mama Innesa. Aku juga tidak menggunakan nama Petrav, aku menggunakan nama keluarga mama Innesa.” Justin menjelaskan siapa dirinya.
“Kau terlalu banyak bicara,” kata Anthonino dengan nada dingin.
“Aku harus mengenal adik iparku yang sangat cantik.” Justin menyeringai jahil membuat Anthonino membesarkan matanya menatap Justin dengan ekspresi kesal.
“Suamimu sangat Posesif,” kata Justin.
Keiko menyeringai kuda sementara Anthonino merapatkan jarak kepada Keiko, lengannya semakin erat melingkar di pinggang Keiko.
“Untuk apa kau di sini? Bukankah kau memegang perwakilan London?” Anthonino sedikit memiringkan kepalanya bertanya kepada Justin.
“Aku hanya mengambil satu lantai untuk kujadikan tempat tinggalku,” kata Anthonino membela dirinya.
“Ah itu sama saja, aku akan berada di sini selama kau di Tokyo, kau terlalu sering mengabaikan perusahaan.”
“Aku bisa bekerja jarak jauh,” jawab Anthonino.
“Kau selalu menyepelekan pekerjaan, kau sebaiknya menjadi pilot saja, itu lebih cocok untukmu,” kata Justin dengan nada mengejek.
“Aku bukan pria lajang, aku tidak bisa meninggalkan istriku yang cantik sendirian di mansion.” Anthonino mencium pelipis istrinya membuat wajah Keiko memerah seketika.
__ADS_1
“Astaga, kalian kenapa berdiri di luar? Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu nak. Ayo Keiko masuklah lebih baik kita minum teh di dalam.” Innesa tiba-tiba datang dan mengajak Keiko untuk masuk ke dalam.
Keiko menatap suaminya seolah meminta pendapat, Anthonino mengangguk. Keiko juga tidak mungkin menolak niat baik Innesa untuk duduk di dalam sambil meminum teh. Toh hanya meminum teh.
“Baiklah, mama.” Keiko mengikuti langkah kaki Innesa masuk ke dalam ruang keluarga. Rupanya dia cangkir teh telah di siapkan di sana.
Keiko dengan anggun duduk di sofa bersebelahan dengan Innesa.
“Kau sangat cantik malam ini,” kata Innesa memuji Keiko.
“Terima kasih Mama, kau juga luar biasa.” Keiko mengamati penampilan Innesa yang memang luar biasa cantik dan anggun. Bibir Keiko tersenyum manis, semanis pujian yang di lontarkan kepada Innesa.
“Apa kau tidak memakai gaun yang kukirimkan kepadamu?” Innesa mengamati gaun yang di melekat di tubuh Keiko.
Keiko juga mengamati gaun yang melekat ditubuhnya, bibirnya tersenyum penuh kemenangan. Ia memang telah menanti momentum ini, momen di mana Innesa menanyakan gaun pemberiannya. “Aku memakainya mama, maafkan aku mengubah desainnya sedikit agar tidak terlalu terbuka.”
Cheongsam yang di kenakan Keiko adalah modifikasi dari gaun yang di kirim oleh Innesa, Sarah pandai menyiasati gaun kekurangan bahan menjadi sebuah Cheongsam dalam waktu singkat. Sambungan jahitan bahkan di manipulasi dengan bordiran sederhana dengan menggunakan benang berwarna emas. Innesa terlalu bodoh mengira Keiko Sudi memakai gaun mini untuk acara keluarga yang sangat penting. Meskipun ia seorang model bukan berarti ia bersedia mengumbar tubuhnya begitu saja. Ia adalah wanita Asia di mana adat dan budaya masih di junjung tinggi.
Diam-diam rahang Innesa mengeras. "Maafkan aku sayang, aku tidak tahu seleramu."
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH ❤️
__ADS_1