Married With Pilot

Married With Pilot
S2. Lampu hijau


__ADS_3

“Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini karena sekretarisku tiba-tiba menelepon, ada masalah di perusahaan jadi aku harus menyelesaikannya,” kata Gustavo ketika Vicky keluar dari kamar mandi.


“Tapi, kopimu belum datang,” kata Vicky dengan tatapan protes tersembunyi.


Gustavo bangkit dari duduknya. “Maafkan aku. Tapi, aku berjanji aku akan kembali secepatnya, kau jangan ke mana-mana,” katanya.


Vicky menatap Gustavo dengan tatapan seolah tidak yakin dengan apa yang Gustavo ucapkan.


“Aku tidak mungkin berbohong kepadamu, percayalah aku hanya sebentar” kata Gustavo meyakinkan Vicky, ia meletakkan telapak tangannya di atas kepala Vicky lalu mengusapnya dengan perlahan.


Akhirnya Vicky hanya bisa mengangguk, membiarkan Gustavo meninggalkannya sendiri.


Berulang kali Vicky mengecek jam di ponselnya, Gustavo mengatakan tidak akan lama tapi pada faktanya hingga sore bahkan malam telah merangkak menyelimuti Osaka, pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Bukan hanya itu, Gustavo juga tidak memberinya kabar. Sedikit frustrasi Vicky memutuskan untuk merendam tubuhnya di dalam bath tube yang berisi air hangat sambil terus menatap layar ponselnya yang ia letakkan di sisi bath tube. Ia mulai bosan karena layar ponsel yang ia tatap tidak kunjung menyala. Dengan posisi bersedekap di bagian sisi bath tube, ia meletakkan dagunya di atas kedua tangannya tiba-tiba layar ponselnya menyala. Terlihat di layar Gustavo memanggilnya. Tentu saja ia sangat bersemangat hingga ia terlalu terburu-buru ketika ia menggeser layarnya tetapi karena tangannya basah sentuhan di atas layar ponsel tidak berfungsi. Ia meraih ponselnya bermaksud hendak membawanya keluar dari bath tube tetapi lagi-lagi karena terlalu bersemangat ia tidak menyangka ponselnya tergelincir masuk ke dalam bath tube yang berisi air.


“Sial!” Pekiknya. Tetapi, ia membiarkan ponselnya yang terjatuh ke dalam air dan menyambar handuk lalu melilitkan ke dadanya karena suara bel pintu kamarnya berbunyi. Stelah mengintip dari lubang pintu kamar Vicky segera membukakan pintu karena yang datang adalah Gustavo.


Gustavo terkejut mendapati Vicky hanya mengenakan handuk yang melilit di dadanya.

__ADS_1


“Maaf , aku sedang mandi,” kata Vicky sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya. Wajahnya bersemu merah.


“Maaf, aku mengganggu acara mandimu,” kata Gustavo.


“T-tidak masalah, aku sudah selesai,” kata Vicky sambil bergerak menuju di mana koper kecilnya berada untuk mengambil pakaian ganti.


Gustavo membalikkan badannya menghadap pintu, ia mengerti Vicky pasti malu karena bisa di pastikan gadis itu belum pernah dalam keadaan polos di depan seorang pria. “Katakan jika kau telah selesai,” katanya.


Vicky tidak menjawab. Ia justru mengobrak-abrik pakaiannya. untuk pertama kalinya ia merasa bingung harus mengenakan pakaian apa di depan seorang pria sementara ia hanya membawa dua potong pakaian di dalam kopernya.


“Oh, ponselku terjatuh ke dalam bath tube,” jawab Vicky.


Gustavo terkejut, ia refleks menoleh dan menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Vicky, gadis itu hanya menggunakan celana dalam berwarna hitam transparan, sementara ia sedang melingkarkan bra di pinggangnya sambil berusaha menyatukan pengaitnya. Tatapan mata mereka bertemu.


“Maaf aku tidak tahu jika kau belum selesai,” kata Gustavo. Tetapi, ia tidak berniat melewatkan pemandangan di depan matanya tidak berniat memalingkan wajahnya bahkan mengedipkan matanya juga tidak.


“Aku... tidak keberatan,” kata Vicky yang kemudian menyesali ucapannya. Ia menggigit bibirnya kemudian menunduk dalam.

__ADS_1


Apa aku terlihat seperti gadis murahan?


Gustavo melangkah mendekati Vicky, ia berjongkok di depan koper. Meraih sepotong pakaian milik Vicky. Yang Gustavo tahu, gadis yang sedang bersamanya telah memberikan lampu hijau kepadanya, jika saja yang di depannya buka seorang perawan tentu saja Gustavo akan langsung menerkamnya tetapi karena Vicky berbeda, ia harus bersabar dan yang pastinya tidak boleh menakutinya. Dengan sabar Gustavo memakaikan pakaian Vicky meski jiwa kelelakiannya hampir membunuhnya.


“Aku ingin mengajakmu makan malam di suatu tempat,” kata Gustavo setelah Vicky berpakaian lengkap.


Vicky mengangguk.


Setelah sedikit mengaplikasikan make up di wajahnya, Vicky mengambil tasnya. Ia bergumam, “Ah, sial... ponselku, mama pasti mengira aku kenapa-kenapa.”


Ia teringat ponselnya yang hingga saat ini masih menyelam di dalam bath tube.


Gustavo tersenyum, ia meraih pinggang Vicky dengan sebelah tangannya sementara tangan yang satunya merogoh saku celananya untuk mengaji ponsel. “Gunakan ponselku,” kayanya sambil menyerahkan ponselnya kepada Vicky.


Dengan gerakan ragu-ragu Vicky menerimanya, setelah Gustavo menyebutkan kode akses ponselnya, Vicky menekan nomor ponsel ibunya untuk mengabarkan bahwa ia baik-baik saja dan ponselnya terjatuh ke dalam bath tube. Sementara jaraknya dengan Gustavo hanya terhalang kain yang membalut tubuh mereka membuat ia berulang kali salah mengucapkan kalimatnya saat ia berbicara dengan ibunya karena gugup.


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2