Married With Pilot

Married With Pilot
Memperebutkan Nino 1


__ADS_3

VOTE DENGAN POIN NOVEL INI, DENGAN KOIN JUGA BOLEH.


JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI SAYANG POIN BUAT VOTE!


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Anthonino memutar-mutar ujung rambut Keiko menggunakan jemari telunjuknya ia berbaring dengan posisi miring, pria tampan itu menyangga kepalanya menggunakan siku tangannya. Mereka baru saja melakukan aktivitas suami istri yang membara yang menguras keringat mereka.


“Cintaku,” kata Anthonino sambil tatapan matanya menatap lekat-lekat wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta. “Kau sangat pandai bermain musik aku ingin tahu bagaimana caranya kau menghafal not-not musik di atas kertas.” Anthonino merasa penasaran, istrinya buta arah, tidak bisa membedakan kanan dan kiri. Tetapi, bisa menghafal barisan not.


Mendengar pertanyaan suaminya, Keiko tersenyum manis. Matanya berbinar menatap langit-langi kamar, kemudian ia menjawab, “itu hanya keajaiban.”


“Benar-benar keajaiban.”


Keiko memiringkan kepalanya, tatapan keduanya beradu, kali ini sorot mata Keiko tampak sedikit mengejek. “Kau mengatakan keajaiban itu tidak ada,” protes Keiko.


“Aku salah.” Anthonino mengakui kesalahan teorinya.


“Aku mengatakan teorimu salah besar. Keajaiban itu ada dan aku adalah orang yang mendapatkan keajaiban itu.” Keiko berhenti sejenak. Kemudian ia melanjutkan ucapannya, “sejujurnya aku tidak tertarik dengan hal lain selain dengan musik.”


“Tidak tertarik kepadaku juga?” Anthonino menaikkan sebelah alisnya.


Keiko membesarkan bola matanya. “Aku serius.”


Anthonino terkekeh pelan.


“Aku tidak bisa menghafal arah, bahkan aku tidak bisa membedakan kanan dan kiri karena yang ada di otakku sejak kecil hanya ada musik dari piano dan biola.” Keiko berhenti sebentar matanya menatap Anthonino dengan tatapan begitu tenang. Ia tidak pernah terbuka seperti sekarang ini, membicarakan kekurangannya kepada orang lain. “Aku tidak pernah fokus kepada apa pun selain partitur musik. Saat aku membuka partitur musik aku merasa ada suara yang muncul. Suara itu bersinar dan seperti membuat jalan dalam kegelapan, aku hanya cukup melangkah mengikuti cahaya itu agar aku tidak tersesat dan melenceng dari jalan. Jika aku mengikuti cahaya itu aku yakin aku tidak akan tertelan kegelapan."


Keiko berhenti sejenak ya menarik nafasnya dengan pelan kemudian ia melanjutkan ucapannya, "sebenarnya aku juga tidak terlalu tahu tentang musik. Aku hanya mengikuti cara itu, seperti itulah caraku belajar musik.”

__ADS_1


Anthonino sedikit tertegun mendengar penjelasan Keiko, tidak mudah ternyata menjalani kehidupan dengan menyembunyikan kekurangan sementara orang lain menilai Keiko sempurna.


“Kau sangat hebat cintaku,” kata Anthonino. Pujiannya sangat tulus.


“Tidak, aku baru memulai, suatu saat aku ingin seperti Granddad.” Keiko kembali menatap langit-langit kamar.


“Kau pasti bisa sehebat Granddad,” kata Anthonino sembari berganti posisi. “Kenapa kau menyukai musik klasik?” menurut Anthonino selera Keiko sangat berbeda, di zaman sekarang jarang seorang gadis menyukai musik klasik.


“Aku menyukai musik klasik karena jumlah suara penyusunan dan waktunya sangat indah, juga efisien. Setiap kali mendengarkan musik klasik aku merasa dunia begitu terang dan aku yakin aku tidak akan tersesat.”


Sekali lagi Anthonino terkagum dengan jawaban Keiko. “Kau ternyata juga pemberani ya, berani mengambil langkah berbeda.”


Keiko tersenyum kemudian ia menggeser tubuhnya. Meletakkan kepalanya di dada suaminya, lengannya memeluk pinggang suaminya. Ia berujar, “kau tahu? Dibutuhkan keberanian untuk berlayar di lautan yang tak dikenal.”


Anthonino mendekap tubuh istrinya. “Aku tahu.” Anthonino tidak menyangka istrinya ternyata berbeda, dibalik kepolosan dan tingkah kekanakannya ternyata memiliki pemikiran yang sangat brilian dan tidak sama dengan gadis biasa.


"Aku hanya melakukan apa yang kusuka dan aku hanya ingin meraih apa yang kuinginkan."


Keiko semakin merapatkan tubuhnya. “Seingatku kau menyuruhku untuk bersiap mengunjungi Mommy.” Keiko teringat awalnya Anthonino memintanya untuk bersiap mengunjungi ibu mertuanya. Tetapi, suaminya itu justru menerkamnya di atas ranjang.


🌸🌸🌸🌸🌸


Anthonino dan Keiko tiba di kediaman orang tua Keiko, mereka berdua di sambut dengan sangat baik oleh Livia, ibu mertua Anthonino. Sikap Livia berbeda dengan beberapa hari yang lalu saat Anthonino melamar Keiko.


“Bagaimana pent house yang diberikan oleh Daddy? Apa kau menyukainya? Apa itu terlalu sederhana?” Livia duduk tepat di depan Anthonino dan Keiko. Di tangan Livia ia memegang sebuah majalah fashion terkemuka.


“Aku menyukai tempat tinggal baru kami, sangat nyaman.” Bibir Anthonino menyunggingkan senyum, “pemandangan dari atas sangat indah dan itu sama sekali tidak sederhana terima kasih.” kata Anthonino.


“Jadi bagaimana rencana pernikahan kalian? Apa kalian sudah memilih gaun pengantin? Apa sudah menentukan gereja untuk pemberkatan?” ibu mertua Anthonino tampak begitu ramah. Tetapi, pertanyaan yang dilontarkannya sungguh di luar logika. Acara lamaran baru berjalan dua hari yang lalu, mana mungkin Anthonino bisa menyiapkan semua itu begitu cepat.

__ADS_1


“Itu semua belum Mommy, kami akan menyewa wedding organizer nanti.” Keiko menjawab pertanyaan ibunya dengan nada tidak bersahabat.


“Aku tidak berbicara padamu Kei, aku berbicara dengan Nino,” ucap Livia seperti biasa, ia tidak peduli kepada Keiko.


Oh astaga apa yang telah dilakukan suamiku kepada wanita itu? Pasti Nino menyuap dengan suatu benda yang sangat disukai oleh wanita matre itu.


Keiko mengutuk suaminya di dalam hati. Ia tahu betul Bagaimana sifat ibunya yang suka dipuji dan akan meleleh jika disuap dengan barang-barang bermerek.


Keiko menatap wajah ibunya yang dengan acuh membolak-balik majalah di tangannya dengan tatapan kesal.


“Bagaimana jika mami menentukan semuanya?” Anthonino menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum manis kepada ibu mertuanya.


“Oh benarkah? Kau ingin Mommy yang memilih?” Livia tampak semakin antusias.


“Mommy hentikan, kami yang akan menikah, aku tidak memperbolehkanmu ikut campur,” sungut Keiko sepertinya ketegangan yang terjadi beberapa hari yang lalu antara ibu dan anak itu telah menguap berganti dengan ketegangan yang lain.


Anthonino mengernyit, “kalau begitu bagaimana jika kalian berdua yang memilih?”


VOTE DENGAN POIN NOVEL INI, DENGAN KOIN JUGA BOLEH.


JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI SAYANG POIN BUAT VOTE!


TAP JEMPOL KALIAN ❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️

__ADS_1


FYI : RAMAIKAN JUGA KARYAKU LAURA.


__ADS_2