
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir dua wanita beda generasi itu ketika Raina tiba di dapur sembari merapikan jilbab segi empat dengan motip bunga yang menempel di kepala Raina.
Bi Sumi dan Ega berusaha membungkukkan badan memberi hormat ketika Raina berdiri tepat di depannya.
Saat ini mereka berada dalam situasi berbeda. Bi sumi, Ega dan asisten rumah tangga lainnya tidak bisa bersikap seperti dulu lagi pada Raina, bersikap santai sambil menikmati makan bersama, atau sekedar bercanda untuk melupakan penat seharian bekerja.
Kini wanita anggun yang berdiri di depan bi Sumi bukan lagi bodyguard tuannya, dan hal itu mebuatnya sedikit canggung berada di dekat Raina.
"Nyo-nya ada di si-ni?" Sapa bi Sumi dengan suara gugupnya.
Melihat wanita separuh baya di depannya ketakutan membuat Raina berdehem sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
Ega yang berdiri di samping bi Sumi pun terlihat sama, gadis muda itu bahkan terlihat gemetar. Tangannya masih memegang pecahan piring keramik dengan harga jutaan.
"Nyonya? Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Raina sembari menguliti setiap inci wajah dua wanita di depannya secara bergantian.
"Maaf kan kami?" Sambung bi Sumi masih dengan wajah merunduk.
"Berikan aku alasan yang logis, untuk apa kalian meminta maaf? Dan untuk apa pula aku harus memaafkan kalian?" Ujar Raina dengan suara tegasnya. Ia berjalan menuju meja makan yang di ikuti oleh bi Sumi dan Ega di belakangnya.
Sungguh, sikap setiap asisten rumah tangga yang ada di rumah sawn mulai berbeda sejak Raina masuk kedalam rumah mewah itu sebagai istri dari tuannya. Tidak ada lagi sikap ramah seperti biasa, yang ada hanya kecanggungan yang hampir menyesakkan dada. Dan hal itu membuat Raina merasa bersedih namun tidak pernah ia ungkapkan pada siapa pun termasuk Sawn yang selalu berada disisinya.
"Panggil semua orang!" Pinta Raina pada Ega.
"Ba-ik nyonya." Balas Ega dengan suara lirihnya.
Raina masih heran, kenapa gadis itu takut padanya? Padahal sebelumnya mereka sangat akrab, bahkan mereka sampai berbagi setiap hal selama Raina tinggal di rumah mewah itu.
Semenit kemudian, semua orang sudah berkumpun di depan Raina. Termasuk mang Cecep dan mang Anwar yang biasanya berjaga di pos depan.
Tanpa Raina sadari, Sawn berdiri tak jauh dari tempatnya duduk dan meyaksikan wajah khawatir semua perkerjanya.
Pelan Sawn menarik nafas panjang kemudian kasar menghembuskan dari bibirnya.
Raina duduk mematung dengan tangan yang masih terlipat di depan dada, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirnya selain memandang wajah-wajah di depannya dengan tatapan kecewa.
__ADS_1
"Kalian tahu kenapa kalian saya kumpulkan?"
"Ti-dak, nyah!" Balas mang Ujang, pria 54 tahun yang merupakan suami bi Sumi
"Itulah masalahnya." Raina menggantungkan kalimatnya, di tatapnya lagi satu per satu wajah yang merunduk di depannya.
"Saya tidak tahu apa yang membuat kalian berubah. Saya bertanya pada diri saya sendiri, apa saya melakukan kesalahan? Sedetik kemudian saya mencoba meyakinkan diri, tidak mungkin saya menyakiti kalian. Jika saya tidak menyakiti kalian, lalu kenapa kalian semua berubah? Saya benar-benar heran!" Ucap Raina lagi, nada suaranya sedikit bergetar.
di sudut yang tak terlihat Sawn nampak khawatir, ia tidak pernah tahu kalau Raina merasa tidak nyaman dengan perubahan yang ada di sekitarnya.
"Saya akan selalu menjadi Raina yang sama seperti yang pernah kalian kenal. Jangan perlakukan saya seperti orang asing. Nyonya? Itu tidak cocok dengan ku!" Raina bangun dari posisi duduknya.
"Setiap manusia itu sama di hadapan Allah, tidak ada yang tinggi dan tidak ada yang rendah. Allah tidak melihat kita karena pakaian kita mahal, dan Allah tidak pula melihat kita karena kita berkulit Hitam atau Putih.
Mulai hari ini kita akan menjalani hari-hari kita seperti biasa, dan kalian berdua...!" Raina menunjuk kearah dua gadis di depannya, Ega dan Melati.
"Kalian berdua bisa memanggil ku kakak seperti biasa, tidak ada yang berubah di antara kita. Jauh sebelum tuan Sawn mengisi hatiku, kalian semua sudah ada disana, jadi jangan pernah sungkan padaku hanya karena aku menikahi tuan kalian." Ucap Raina lagi sambil menepuk bahu melati yang berdiri tepat di depannya, berusaha menghapus jarak antara dirinya dan asisten yang ada.
"Suamiku mungkin bisa membuat kalian tersedak jika berada di dekatnya, aku sendiri tidak tahu alasan kalian takut padanya. Satu hal yang harus kalian tahu, pak Sawn sangat baik." Puji Raina dari lubuk hati terdalamnya.
Suara deheman Sawn berhasil membuat semua mata tertuju kearahnya.
"Kau akan berangkat?"
Sawn menjawab Raina hanya dengan anggukan kepala. Raina menghampiri Sawn yang sudah rapi dengan kemeja putih yang di balut dengan jas biru di luarnya.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa pun tentang perubahan sikap semua orang padamu?" Sawn bertanya dengan suara pelan.
"Untuk apa? Ini hanya masalah kecil."
"Baiklah. Tapi, lain kali kau harus ceritakan segalanya."
"Akan ku lakukan." Balas Raina sambil menatap wajah tampan suaminya.
"Hari ini aku akan pulang sedikit terlambat. Bayak pekerjaan yang masih tertunda, bahkan si payah Robin terus saja menggangguku dengan chat panjang-nya. Aku yakin kekasihnya akan memutuskan hubungan mereka tak lebih dari satu minggu saja, dia sangat cerewet dan menyebalkan." Keluh Sawn sembari balas menatap wajah Raina, wajah yang akan ia rindukan seharian ini.
__ADS_1
"Mungkin, aku akan merindukanmu. Meskipun begitu aku akan bertahan. Aku akan selalu menunggumu. Di tempat ini, untuk selamanya." Ujar Raina sambil tersenyum tipis.
Raina mengantar Sawn sampai di depan pintu, mereka berdua berpisah setelah Sawn melayangkan kecupan di kening Raina. Kecupan hangat yang senilai dengan sedekah pagi dari Sawn untuk istri tercintanya.
Pergaulilah mereka (istrimu) dengan cara sepatutnya. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (Qs. An-Nisa: 19).
...***...
"Mata kuliah hari ini sangat membosankan. Ayo kita ke salon saja, itu akan menyenangkan"! Pinta Vivi penuh semangat sambil menepuk bahu kedua sahabatnya.
Yuna dan Arnela yang mendengar ucapan omong-kosong Vivi hanya bisa menghela nafas sembari mengelus dada kecewa.
"Aku tidak mau! Jika kalian mau pergi, pergi saja. Aku tidak suka bolos kuliah, dan aku paling benci ketika kau mencoba mengajak ku keluar kelas ketika dosen sedang menjelaskan." Tolak Yuna dengan nada tegas.
"Please... Kali ini saja. Aku janji tidak akan melakukannya di lain waktu." Vivi memelas dengan suara lirihnya, melihat itu Yuna merasa kasihan sampai akhirnya Yuna takluk di hadapan keinginan bodoh sahabatnya itu.
Di bandingkan dengan Vivi, aku jauh lebih payah darinya. Bisa-bisanya aku luluh oleh keinginan bodohnya. Maafkan Yuna ma... Maafkan Yuna pa... Gumam Yuna dalam hatinya sembari mengikuti langkah kaki Vivi dan Arnela menuju parkiran.
Tanpa sengaja Yuna dan Prof. Zain kembali berpapasan di parkiran. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir ranum milik Yuna, yang ada hanya sikap cuek saja.
Gadis anggun itu benar-benar menepati ucapannya untuk tidak menjalin hubungan apa pun di luar kelas. Yuna bahkan tidak segan untuk tidak melempar senyuman pada Prof. Zain yang berdiri lima langkah darinya.
Melihat ekspresi datar Yuna membuat Vivi berinisiatif menyenggol tubuh ramping milik Yuna Dinata.
Tentu saja Yuna tidak bergeming, ia bahkan menepuk bahu Vivi dengan sikap dinginnya tanpa memperdulikan saran Arnela untuk menegur Prof. Zain yang memandang mereka dengan tatapan tajam.
Dasar gadis aneh, dia lebih dingin dari es dan lebih garang dari macan. Lihatlah tatapan matanya? Lebih tajam dari elang. Gumam Prof. Zain De Lucca dalam hatinya sembari berjalan maju tanpa menoleh kearah Yuna yang masih berdiri mematung bersama dua sahabat yang mengapit lengan kiri dan kanannya.
"Kau benar-benar keterlaluan, kenapa sikap mu sangat dingin pada Prof. Zain? Jangan bilang kalian terlibat cinta tanpa sepengetahuan ku, dan sekarang kalian sedang marahan? Ohh no...!" Lagi-lagi Vivi mengoceh sambil bertingkah aneh, Yuna yang melihatnya hanya bisa mengusap dada.
Tanpa menghiraukan Vivi yang masih larut dalam pikiran panjangnya, Yuna dan Arnela bergegas masuk kedalam mobil.
Tuhan, selamatkan aku dari segala jenis pria yang suka membagi hatinya. Pertemukan aku dengan pria yang merasa cukup memiliki aku saja. Gumam Yuna lagi. Ia duduk di kursi penumpang sambil menutup mata,
Arnela dan Vivi yang melihat wajah jenuh Yuna hanya bisa menggelengkan kepala, mereka berdua berusaha untuk tidak mengganggu Yuna, dengan cara tidak mencari tahu masalah apa yang membuat sahabatnya itu merasa kesal seharian ini.
__ADS_1
...***...