Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Sawn Dan Raina


__ADS_3

"Raina, sayang. Maafkan mama, nak." Ucap bu Hanum sambil mengelus puncak kepala Raina.


Bu Hanum tidak menyangka menantunya itu akan menangis sesegukan. Wajah ayu Raina bahkan masih tenggelam di balik tubuh kekar suaminya.


"Mungkin mama terlihat keras dan menyebalkan, Mama juga menyadari itu. Setiap orang tua melakukan cara yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya. Jujur, mama masih trauma gara-gara Angel. Wanita itu sangat kasar, dan mama juga tahu putra mama yang bodoh ini sangat mencintainya." Ucap bu Hanum sambil menunjuk Sawn yang saat ini terlihat malu karena masa lalu konyolnya bagai aib di depan istri cantiknya.


"Ketika dia datang meminta izin untuk menikahi mu, mama sangat bahagia juga sedikit takut.


Mama bahagia akan mendapat menantu anggun nan saliha. Dan mama juga sangat takut, kalau-kalau putra mama ini hanya mempermainkan hati wanita untuk melampiaskan cintanya yang tak sampai. Karena itu mama pura-pura menolakmu untuk mengetahui seberapa besar rasa cintanya padamu." Urai bu Hanum mengenang kata-kata buruknya.


"Dan hari ini? Putri mama satu-satunya terlibat degan dunia malam. Mama bahagia karena ia mau membela sahabatnya. Dan mama sangat takut Yuna hanya pura-pura membantu sahabatnya hanya karena dia ingin menikmati dunia malam yang mama sendiri tidak pernah membayangkannya. Mama tidak suka itu, karena itu mama bersikap konyol.


Sepertinya ucapan mama dan cara mama bersikap membuatmu takut. Mama minta maafff...!" Ucap bu Hanum sambil memeluk Raina yang masih larut dalam tangisnya.


Begitulah hari itu berlalu, berlalu dengan tangis mengharukan, juga kebahagiaan dalam keharmonisan.


...***...


Seminggu kemudian!


Seminggu berlalu sejak kemarahan pura-pura bu Hanum, siangnya Sawn memutuskan pulang kerumah nya, rumah yang ia tempati jauh sebelum ia mengenal Raina.


Seperti biasa, bahkan dirumah sekalipun Sawn masih sibuk dengan segudang pekerjaannya. Sesekali Robin berkunjung kerumah sambil membawa dokumen kerja. Entahlah, Raina sendiri baru menyadari kalau suaminya itu seorang pekerja keras.


Waktu menunjukan pukul 21.09 tidak ada tanda-tanda Sawn akan menyudahi pekerjaannya. Sejak pulang dari kantor ia hanya mengurung diri di kamar, keluar hanya untuk makan malam.


Cinta kepada pasangan hidup harus di sempurnakan dengan mencintai Allah lebih dari segalanya. Sebelum beribadah bersama menghalalkan nafsu mereka, Raina ingin sunnah Rasulullah hidup di malam pertama mereka, tepatnya seminggu setelah akad dan resepsi yang menguras tenaganya sebagai Raja dan Ratu sehari.


"Sayang, masih ingatkan sunnah malam pertama?" Tanya Raina sambil memandangi pantulan wajahnya dari cermin.


Sayang?


Sejujurnya Sawn merasa sangat bahagia dan jantungnya berpacu lebih cepat setiap kali Raina memanggilnya dengan panggilan 'Sayang' Raina pun sudah tak malu-malu untuk bersikap intim pada suaminya itu.


"Jawab aku, masih ingatkan sunnah malam pertama?" Selidik Raina sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Jawab dulu pertanyaanku." Protes Raina.


"Iya, siap. Aku sudah belajar sebelumnya." Balas Sawn sambil menutup berkas yang ada di tangannya.


"Shalat, yuk." Pinta Raina sambil bangun dari posisi duduknya.


"Ayo." Balas Sawn sambil mengikuti langkah Raina menuju kamar mandi.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, Raina dan Sawn sudah siap menggelar sajadah. Menghadap Kiblat menunaikan salat dua rakaat sebagaimana di sunnahkan baginda Nabi.


Sawn melantunkan surah Arrahmah 1-78. Sebagai pengingat bagi mereka tentang kasih sayang dan pemurahnya Allah bagi mereka berdua.


Tak terasa tetesan demi tetesan hangat mulai membasahi wajah cantik Raina, tubuhnya mulai bergetar, lantunan ayat suci yang dibaca Sawn dalam Shalatnya membuat Raina semakin bangga padanya.


Doa khidmat mengharapkan keberkahan lalu terlantun dari bibir Sawn. Terdengar menakjubkan bagi Raina mendengar itu dari suaminya, mengingat sebelumnya Sawn tidak tahu apa-apa.


Allahumma baarikli fi ahli, wa baarik lahum fi, Allahummarzuqni minhum, warzuqhum minni, Allahummajma' bainana maa jama'ta ila khair, wa farriqbainana idza farraqta ila khair.


Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan. (Hadis Riwayat 'Abdurrazzak dalam Al-Mushannaf VI/191, no 10460, 10461.


Lagi-lagi Raina meneteskan air mata penuh keharuan, usai mengirimkan semua pinta kepada sang pemilik jiwa Raina memeluk suaminya dari belakang.


"Hmmm! Aku tidak tahu istri Saliha ku sangat cengeng!" Guyon Sawn pada Raina yang masih memeluknya dari belakang.


"Apa kau menyesal menjadi istriku?" Sawn bertanya karena ia terkejut Raina masih menangis.


"Tidak!" Balas Raina dengan suara lirih.


"Seharusnya kita bahagia, karena malam ini malam yang sangat dinantikan bagi setiap jiwa yang sudah menjadi pasangan halal. Lalu kenapa kau menangis?" Tanya Sawn lagi.


Raina dan sawn, mereka berdua masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Raina sengaja tidak membiarkan Sawn berbalik kearahnya karena ia tidak ingin suaminya itu melihat mata bengkaknya.


"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Sawn bertanya sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, baju bagian belakangnya terasa lembap oleh tetesan air mata Raina. Ada haru yang menyeruak, mengisi sanubari gadis ayu itu.


"Aku tidak ingin kau melihat ku menangis! Aku hanya ingin kau melihatku ketika aku sedang tersenyum, air mata ini tidak mau berhenti mengalir dan itu membuatku prustasi." Balas Raina sambil melepaskan pelukannya.


"Apa yang membuatmu sangat terharu?"


"Aku bahagiaaa, sangat bahagia. Kau belajar demi aku, aku bahkan tidak menyangka suami tampan ku bisa menghafal surah Ar-Rahman dalam waktu singkat." Goda Raina sambil memandang netra hitam suaminya.


"Mulai saat ini, tangis mu, tawamu, sedihmu juga bahagiamu, semuanya milikku. Aku berhak padamu, dan kau berhak padaku. Jangan sembunyikan apa pun dariku." Ucap Sawn sambil berbisik pelan di telinga Raina yang masih terbungkus mukena putih.


Raina mengangguk sambil tersenyum.


Sejurus kemudian, Sawn memegang ubun-ubun Raina dan mendoakannya lirih.


Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha alaih, wa a'udzu bika min syarriha ma jabaltaha alaih.


Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa. (Hadis riwayat Abu Daud, no. 2160: Ibnu Majah, no 1918. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan.


...***...


Sawn dan Raina sudah berada di tempat tidur mereka. Lampu kamar masih menyala terang, membuat Sawn mampu melihat dengan jelas kecantikan alami bak purnama milik istrinya.

__ADS_1


Dua puluh menit berlalu bersama di atas tempat tidur, Raina sudah beringsut mendekati suaminya. Nafas Raina mulai memburu tak tentu, kegugupan memenuhi pori-pori tubuhnya.


"Gugup, tidak?" Sawn menatap Raina dalam-dalam.


"Kenapa harus gugup?" Balas Raina pura-pura.


"Gugup karena aku."


"Karena kamu?" Raina mengernyitkan dahi, semenit kemudian ia tertawa lepas untuk pertama kalinya.


"Gakkk!" Raina berpaling, mengalihkan wajahnya. Sambil menahan tawa. Jantungnya berdetak lebih cepat.


"Bagaimana perasaan mu malam ini?" Sawn kembali mengurai tanya mengalihkan diri dari kegugupannya.


Belum juga mendengar balasan dari Raina, istrinya itu justru mendaratkan ciuman mesra ke bibir Sawn.


Sawn terperanjak, ia semakin gugup. Sepersekian detik kemudian Raina merasakan sentuhan bibir balasan dari Sawn Praja Dinata. Tak lebih dari 10 detik namun gemuruh di dada mereka berdua semakin tak karuan.


Tanpa menunggu, Sawn menggenggam lembut jemari Raina, kemudian melayangkan kecupan di atas puncak kepala istrinya, pandangan mereka berdua beradu dalam cinta yang di penuhi rasa syukur yang membuncah. Sawn mendekap Raina, merengkuhnya, kemudian mendaratkan kembali ciuman penuh cinta kepada perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Dua sejoli yang kini halal bersatu dan memainkan melodi cinta yang akan membuat seluruh penghuni bumi di manapun akan iri padanya. Desahan nafas mereka memenuhi langit-langit kamar. Saling menyambut dalam cinta dan menikmati keindahan malam yang di penuhi purnama, purnama seindah wajah Raina.


"Aku sangat mencintaimu, Raina. Semoga kebersamaan kita hingga ke Surga-nya." Bisik Sawn penuh cinta.


Raina memandang suaminya lekat, mengucapkan lafaz 'Aamiin' dalam nafas yang tenang, mereka kembali berpelukan, memainkan perasaan, nafsu dan keinginan yang memburu bersama nafas mereka.


Begitulah cinta, saling menyambut dalam bahagia. Melaksanakan ibadah yang bertumpuk-tumpuk pahalanya, tanpa takut akan dosa. Beginilah cinta, tak cukup hanya dengan rasa ketertarikan dua anak manusia. Harus ada iman didalamnya, beribadah yang dilandasi kecintaan pada Yang maha menggenggam Jiwa yang harus menjadi landasan utama.


Maka berjuanglah untuk mendapatkan cinta halalmu, jangan tergoda untuk mengikuti rayuan Iblis yang durjana, rayuan yang akan menjerumuskan mu dalam dosa zina.


...***...


❤❤❤


Islam melarang pasangan suami istri mengumbar urusan ranjang mereka ke orang lain.


Sawn dan Raina juga sama. Mereka tidak akan menceritakannya.🤫 karena itu malam penyatuan mereka di tulis tidak terlalu vulgar.


Dari Abu Sa'id RA dia berkata: Bahwa nabi Saw bersabda, "Sesungguhnya di antara orang yang terburuk kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat kelak adalah seorang laki-laki yang mengetahui rahasia istrinya atau seorang istri yang mengetahui rahasia suaminya kemudian menceritakan rasa itu kepada orang lain." (HR.Muslim dan Ahmad).


Satu lagi....


Mohon doa nya untuk saudara di Palestina, semoga mereka di berikan kekuatan dan kemenangan oleh Allah.


Selamat Hari Raya Idhul Fitri, mohon maaf lahir dan batin...🙏😊

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2