
Sawn berjalan kearah Raina yang saat ini sedang duduk di meja rias. Raina mulai tersenyum melihat pantulan wajah suaminya dari cermin, wajah itu memamerkan kecanggungan, meskipun demikian ia tidak melepaskan padangan dari istrinya yang saat ini duduk membelakanginya.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja tidak perlu canggung!" Ucap Raina sambil membalikkan tubuhnya menghadap Sawn yang berdiri tepat di belakangnya.
"Ahh.. Iya." Jawab Sawn cepat.
"Katakan saja, aku janji tidak akan marah." Balas Raina lagi.
Sawn takjub memandangi wajah nyaris sempurna istrinya, senyum mengembang di wajah itu bersinar bak purnama. Membuat Sawn semakin jatuh cinta.
"Ki-kita harus p-u-l-a-n-g." Ucap Sawn pelan, entah kenapa ia masih merasakan gugup yang sama sewaktu pertama kali ia mengungkapkan perasaan cintanya pada Raina.
Makhluk indah yang berdiri di depannya saat ini berjalan mendekatinya tanpa melepas seyuman dari wajah ayunya.
Dag.Dig.Dug.
Sawn benar-benar gugup luar biasa, ia bahkan sampai tersedak air liurnya sendiri melihat Raina berjalan pelan, semakin dekat dan semakin dekat.
"Allah sangat baik padaku! Dia menjadikan mu bagian dalam hidup hitam putih ku. Aku sangat bersyukur untuk itu. Jangan ragu untuk mengatakan apa pun padaku." Ucap Raina sambil meraih tangan Sawn dengan jemarinya, ia menggenggam tangan suaminya sangat erat sampai Sawn merasakan kehangatan menjalar keseluruh tubuhnya.
"Raina."
"Hmm."
"Kau tahu? Saat ini aku merasa aku orang yang paling bahagia. Aku takut bahagia ini tidak akan bertahan lama. Di antara semua rasa takut itu, hal yang paling ku takuti kau meninggalkanku. Kau meninggalkanku adalah kutukan bagiku!
Jika ada hal yang tidak kau sukai dariku, tetap pegang erat tanganku dan ajak aku berjalan menuju jalan yang diridoi Tuhan ku juga Tuhanmu." Ucap Sawn dengan suara yang nyaris tak terdengar, hatinya terasa sesak.
"Aku akan selalu mendukung mu! Lagi pula kemana aku bisa pergi, bahkan jika suatu hari nanti aku menghilang dari pandanganmu, kau harus janji! Kau harus mencariku karena aku pun sedang menantikan kedatanganmu. Kau mengerti maksud ku, kan...?" Ucap Raina pelan sambil mendekat kearah suaminya dan memeluknya dengan perasaan haru luar biasa.
Puncak kenikmatan iman yang di miliki seseorang akan dapat ia reguk ketika ada cinta dalam dirinya. Tanpa cinta keimananmu akan beku, kaku dan tidak memiliki gairah. Cinta menjadi ruh yang mampu menggerakkan jiwa untuk bekerja dan berkarya. Cinta mampu memberikan energi bagi jiwa untuk terus melangkah dan berkontribusi bagi semesta. Dan Cinta kepada pasangan hidup harus di sempurnakan dengan mencintai Allah lebih dari segalanya.
Satu kata 'Sah' dari saksi nikah berhasil membuat dua anak manusia yang sebelumnya tidak saling mengenal merengkuh bahagia tanpa jeda, kebahagiaan tanpa di minta kini datang dengan sendirinya. Saling berpegangan tangan tanpa takut dosa.
"Ayo kita pulang." Ucap Sawn sambil melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Raina mengangguk pelan sambil mengikuti langkah kaki suaminya, sekarang mereka sudah keluar dari kamar pengantin dan akan kembali pada keluarga yang sangat mereka cintai.
...***...
"Aku memintamu untuk menjemputku sebelum jam empat! Lihatlah diri mu, dandanan mu terlihat seperti wanita yang putus asa pada takdir." Gerutu Vivi pada Arnela yang tidak memperdulikan omelannya.
"Hari ini hari pertama Prof. Zain De Luca masuk ke kelas kita, aku tidak ingin terlambat! Aku ingin menyaksikan ketampanan Profesor baru itu dengan mata kepala ku sendiri." Ucap Vivi penuh semangat, ia mulai mempercepat langkah kakinya.
"Aku heran kenapa Tuhan membuatmu sangat bodoh, ternyata aku baru tahu kalau kau orang terakhir yang mendapatkan jatah kepala." Balas Arnela kesal. Di antara mereka bertiga hanya Vivi yang selalu semangat jika menyangkut pria tampan.
"Vi... Pelan-pelan, nanti kamu ja..."
Gedebukkk!
Belum selesai Yuna memperingatkan Vivi, justru sekarang ia yang hampir terjatuh. Karena hilang keseimbangan semua buku yang ada di tangannya berserakan di lantai. Hampir saja Yuna tersungkur untungnya pria asing yang menabraknya segera menangkap tubuh ramping miliknya.
Vivi dan Arnela saling pandang, mereka sangat terkejut sampai tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Ka-kau b-a-i-k-baik sa-ja?" Arnela membuka suara.
"Payah? Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena menyelamatkan mu! Bukannya berterima kasih, kamu malah mengumpatku." Balas pria di depan Yuna keheranan.
"Yun... Apa yang di katakannya benar, seharusnya kau berterima kasih padanya." Sambung Vivi.
Arnela menyenggol tubuh Vivi yang berdiri di samping kanannya, ia tidak menyangkan Vivi akan membela pria asing itu tanpa memperdulikan perasaan Yuna.
"Apa aku terlihat tidak waras? Yang salah itu anda? Untuk apa anda lari-lari di tempat umum, apa jalanan ini punya nenek moyang anda? Aissttt!" Yuna kesal sambil memungut buku yang masih berserakan di lantai.
"Apa sulitnya mengucapkan terima kasih?" Pria itu bicara dengan nada tinggi membuat darah Yuna terasa mendidih.
"Anda berani meninggikan suara padaku? Untuk apa aku berterima kasih, jika anda tidak menabrak ku maka aku tidak akan jatuh dan anda tidak perlu menolongku. Hari ini benar-benar sial." Gerutu Yuna lagi sambil berdiri, ia menarik lengan kedua sahabatnya menjauh dari pria aneh yang berhasil membuat emosinya meluap.
"Yun... Aku rasa si tampan itu marah! Kenapa kau tidak menuruti permintaannya?" Vivi kembali membuka suara tanpa menghiraukan kekesalan Yuna.
"Vivi..." Panggil Yuna dan Arnela bersamaan sambil melotot pada Vivi.
__ADS_1
Untuk apa aku berterima kasih pada orang payah itu, toh kami tidak akan pernah bertemu lagi. Gumam Yuna penuh kemenangan.
Sementara itu, kelas mulai riuh oleh mahasiswa yang menantikan Profesor baru mereka. Beberapa gadis bahkan sampai memperbaiki make up hanya untuk menyambut Profesor tampan, muda dan berbakat menurut imformasi yang mereka dengar.
"Ada apa dengan wajah mu? Apa ada yang menamparmu sampai wajahmu memerah seperti tomat." Sapa Yuna pada Anggi begitu ia masuk kelas dan duduk di belakangnya.
"Biasanya kau selalu duduk di belakang, ada apa dengan hari ini sampai kau duduk di depan? Dan itu bibirmu..." Ucap Yuna lagi, kali ini ia menunjuk bibir Anggi dengan tangan kanannya.
"Jangan gunakan Lipstik setebal itu, bisa-bisa Profesor tampan itu akan beranggapan bibirmu di sengat sekawanan lebah." Ledek Yuna sambil menahan tawa.
Apa aku yang payah karena tidak terlalu perduli? Atau para gadis ini yang terlalu berlebihan? Berdandan untuk laki-laki yang tidak mereka kenal benar-benar kekonyolan besar. Gumam Yuna sambil melirik Vivi yang hilang dari pandangannya.
"Dimana, Vivi?"
"Itu." Balas Arnela sambil menunjuk dengan dagunya.
Vivi, gadis centil itu bahkan sampai menunggu di depan pintu. Sungguh, rasa penasarannya sudah mencapai puncaknya, Yuna hanya bisa menghela nafas melihat kenarsisan sahabatnya itu. Terkadang anak itu bersikap bar-bar, di lain waktu ia akan bersikap lembut. Dan sekarang, ia terlihat seperti penguntit yang menunggu sasaran.
"Hayy girl... Dia datang." Ucap Vivi sambil berlari ketempat duduknya, sekarang ia akan bersikap seperti gadis berkelas tanpa celah dan....
Glekkk!
Yuna duduk lemas sambil menelan salivanya, ia memandang sahabatnya secara bergantian. Vivi dan Arnela pun terlihat terkejut, wajah yang ia nantikan sejak tadi ternyata tidak lain pria asing yang menabrak Yuna di parkiran.
Semua gadis memandang wajah profesor mereka dengan rasa takjub luar biasa. Wajah itu bersinar bak Purnama. Hidung bangir, mata biru, alis hitam yang saling bertautan, bibir tipis dengan warna merah muda alami, dan wajah nyaris sempurna itu berhasil menawan setiap mata yang memandangnya. Namun tidak dengan Yuna, orang yang ia prediksi tidak akan bertemu dengannya muncul dihadapannya dengan wajah yang di penuhi senyuman.
Profesor?
Yuna mengerutkan dahi, tatapannya masih mengarah pada sosok yang berdiri tepat di depan kelas.
"Habislah kita!" Ucap Arnela dan Vivi bersamaan.
"Allah Akbar... Apa lagi ini?" Ucap Yuna sambil menangkupkan wajah dengan kedua tangannya.
...***...
__ADS_1